Kabar

Kapolsek Bilang PETI Nihil, Tapi Ekskavator Menjamur di Popayato Barat

×

Kapolsek Bilang PETI Nihil, Tapi Ekskavator Menjamur di Popayato Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Oknum Polisi Pemain Solar di PETI Popayato/Hibata.id
Ilustrasi - Oknum Polisi Pemain Solar di PETI Popayato/Hibata.id

Hibata.id, Pohuwato – Cerita soal aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Popayato Barat kini mulai terasa seperti sinetron yang alurnya bikin penonton garuk kepala.

Di episode awal, publik mendapat kabar menenangkan. Kapolsek Popayato Barat, Ipda Ilham, memastikan aktivitas tambang ilegal sudah tamat. Selesai. Tutup buku.

“Terakhir ada waktu penangkapan yang kami lakukan pada tahun lalu, untuk sekarang sudah tidak ada,” ujarnya singkat, Senin (19/4/2026) lalu.

Kalimat itu mestinya bikin warga bisa tidur nyenyak. Masalahnya, beberapa hari kemudian cerita malah belok tajam.

Aparat gabungan dari Polda Gorontalo, Polres Pohuwato, dan Polsek Popayato Barat tiba-tiba turun ke Molosipat.

Wilayah yang sejak lama disebut-sebut jadi titik aktivitas PETI.

Nah, di sinilah plot twist mulai bekerja.

Saat monitoring dilakukan, aparat justru mengamankan dua unit alat berat.

Publik pun mulai bertanya-tanya. Kalau aktivitas PETI sudah tidak ada, lalu alat berat itu sedang apa? Camping? Healing? Atau tersesat karena Google Maps?

Kapolsek Popayato Barat membenarkan adanya pengamanan alat berat tersebut.

Namun, menariknya, ia tetap menyebut tidak ada aktivitas tambang ilegal yang ditemukan.

Baca Juga:  Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 2026, Ini Fakta yang Perlu Diketahui

“Betul, kami dari jajaran Polda, Polres dan Polsek melakukan monitoring aktivitas PETI di Molosipat, namun tidak ditemukan kegiatan PETI,” katanya saat dikonfirmasi, Ahad (3/5/2026).

Penjelasan berikutnya malah membuat cerita makin seru.

“Akan tetapi kami mengamankan satu alat parkir yang sudah berada di kawasan hutan. Namun akan didalami apakah daerah Sulteng atau Gorontalo,” ungkap Ilham.

Satu alat berat disebut sedang “parkir” di kawasan hutan.

Publik tentu mafhum, parkiran mobil di mal itu biasa. Parkiran motor di depan Indomaret juga normal.

Tapi kalau alat berat parkir di kawasan hutan, ini mulai masuk kategori yang sulit dijelaskan pakai logika warung kopi.

Belum selesai sampai di situ.

“Kami juga mengamankan satu alat lagi, yang parkir dibelakang rumah masyarakat di Desa Molosipat yang diduga bermuatan BBM Solar bersubsidi,” lanjutnya.

Nah, yang ini makin menarik. Karena alat berat itu bukan cuma nongkrong di belakang rumah warga, tapi juga diduga membawa solar subsidi.

Kalau memang tidak ada aktivitas PETI, publik jadi penasaran: solar subsidi itu mau dipakai buat apa? Masak iya alat beratnya cuma dipanaskan tiap pagi supaya aki tidak soak?

Baca Juga:  Mantan Ketua DPRD Kota Gorontalo Hardi Sidiki Meninggal Dunia di RSPAD Jakarta

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung. Sayangnya, jawaban yang muncul belum juga membuat situasi terang benderang.

Upaya konfirmasi lanjutan Hibata.id kepada Kapolsek Popayato Barat pun berujung jalan buntu.

Bukannya mendapat klarifikasi tambahan, nomor wartawan justru diduga diblokir sang Kapolsek.

Di era serba digital seperti sekarang, diblokir kadang lebih menyakitkan daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Situasi ini akhirnya memancing reaksi publik.

Puluhan massa dari Aliansi Pemuda dan Masyarakat Peduli Keadilan Gorontalo (APMPK-G) turun menggelar aksi di Mapolda Gorontalo, Selasa (5/5/2026).

Mereka datang bukan untuk piknik.

Koordinator lapangan aksi, Rahwandi, secara terbuka menyoroti perbedaan antara pernyataan aparat dan kondisi di lapangan.

“Kapolsek Popayato Barat harus dicopot karena dianggap menutupi dan membohongi publik terkait aktivitas PETI yang masih berlangsung,” tegasnya.

Di tengah polemik itu, warga justru mulai merasakan dampak yang lebih nyata daripada sekadar perang pernyataan.

Fadel Hamzah, warga Popayato Barat, mengatakan kondisi lingkungan mulai memburuk. Air bersih makin sulit, sungai dipenuhi sedimentasi, dan aliran irigasi pertanian mulai terganggu.

Baca Juga:  BRI BO Lahat Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Bakti Sosial Sambut HUT ke-130

“Ini bukan lagi isu biasa. Kerusakan lingkungan sudah terjadi dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Fadel, aktivitas pengerukan di kawasan hulu perlahan mulai menggerus kehidupan warga.

“Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang rusak, tapi juga ekonomi masyarakat akan runtuh,” tambahnya.

Kini publik seperti disuguhi dua dunia berbeda.

Di satu sisi, ada pernyataan resmi yang mengatakan aktivitas PETI sudah tidak ada.

Di sisi lain, ada alat berat yang tiba-tiba “parkir” di hutan dan belakang rumah warga.

Dan masyarakat tentu punya hak untuk bertanya.

Karena alat berat bukan ayam kehilangan induk yang bisa nyasar sendiri ke kawasan hutan.

Hingga Rabu (6/5/2026), Kapolsek Popayato Barat belum memberikan penjelasan tambahan terkait pengamanan alat berat dan dugaan aktivitas tambang ilegal tersebut.

Sementara warga masih menunggu satu hal sederhana: penjelasan yang masuk akal.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel