Hibata.id, Kota Gorontalo – Suasana santai ngopi di belakang Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendadak berubah jadi cerita yang bikin dahi berkerut.
Ketua DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Gorontalo, Jhojo Rumampuk, mengaku mengalami kejadian tak biasa.
Hal itu dialami usai pemberitaan soal dugaan peredaran minuman keras (miras) di SKY Biliard, Kota Gorontalo.
Awalnya, Jhojo hanya sedang nongkrong santai di sebuah warung kopi.
Namun, telepon yang masuk malam itu rupanya membawa cerita lain.
Bukannya diajak ngopi tambahan, Jhojo malah mengaku dibawa jalan-jalan menggunakan mobil menuju kawasan Tana Teman.
“Saya ditelfon dan diajak untuk bertemu, saat masuk mobil, Mobilnya langsung diputar dan menuju ke Tana Teman dan dipaksa untuk bertemu dengan Daffa Doda. Dan bercerita. Setelah itu saya diantar kembali ke tempat sebelumnya.” kata Jhojo
Cerita ternyata belum selesai. Setelah sempat kembali ke lokasi awal, Jhojo mengaku kembali dipanggil keluar.
Kali ini suasananya makin serius karena ada mobil Fortuner hitam terparkir di pinggir jalan.
Menurut Jhojo, di dalam mobil itu terdapat owner SKY Biliard. Obrolan singkat pun terjadi.
Namun, di tengah percakapan, muncul momen yang menurutnya bikin kaget sekaligus bingung.
“Karena sementara bicara, saya didatangi kembali dan diajak ke jalan. Sampai dijalan ada Mobil Fortuner Hitam yang didalamnya ada Owner SKY Biliard, saat bicara sebentar, hand bag saya dirampas dan di isi amplop putih pemberian Daffa.” Jelas Jhojo
Amplop putih itu, kata Jhojo, berisi sejumlah uang. Ia pun menilai tindakan tersebut sebagai dugaan upaya yang berkaitan dengan pemberitaan yang sedang ramai dibahas.
Alih-alih disimpan, amplop itu justru langsung balik kanan. Jhojo mengaku segera memerintahkan anggotanya untuk mengembalikan uang tersebut.
“Saat itu juga, saya memerintahkan anggota saya untuk mengembalikan amplop tersebut kepada Daffa Doda.” Tegas Jhojo
Menurutnya, kejadian itu malah semakin membuat publik bertanya-tanya terkait dugaan aktivitas penjualan miras impor di lokasi tersebut.
Ia juga meminta Pemerintah Kota Gorontalo tidak tutup mata terhadap persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
“Jangan hanya berdasarkan surat pernyataan, Pihak Pemerintah Kota terus membiarkan tempat usaha tersebut, maka apa yang yang menjadi cita-cita Walikota Adhan untuk menjadikan Kota Gorontalo yang religi akan sangat jauh dari penyampaiannya.” Tukasnya
Di tengah ramainya pembahasan, kisah amplop putih di warung kopi ini pun cepat menyebar dan menjadi bahan perbincangan warga.
Ada yang serius menyoroti substansi persoalan, ada juga yang berseloroh kalau nongkrong sekarang bukan cuma dapat kopi, tapi bisa dapat cerita thriller versi Gorontalo.













