Hibata.id, Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Menurut Hasto, tekanan terhadap rupiah, sektor riil, hingga maraknya kasus korupsi tidak bisa dilepaskan dari persoalan tata kelola negara.
Pernyataan itu disampaikan Hasto saat peringatan Hari Lahir Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, ke-125, Sabtu (6/6/2026).
Di tengah melemahnya mata uang nasional dan berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, Hasto menilai negara perlu kembali memperkuat fondasi tata kelola pemerintahan dan sistem hukum.
“Melemahnya rupiah, turunnya indeks harga saham, dan geliat sektor riil yang mengalami tekanan, serta berbagai kasus korupsi atas kebijakan populis adalah buah tata kelola negara yang tidak berjalan baik,” kata Hasto dalam siaran pers, Sabtu.
Pernyataan itu muncul saat nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Rupiah bahkan telah menembus angka Rp18.000 per dolar AS sejak Rabu (3/6/2026).
Data perdagangan pada Minggu (7/6/2026) pagi menunjukkan kurs rupiah berada di level Rp18.095,70 per dolar AS. Angka tersebut menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap biaya impor, harga barang, dan aktivitas dunia usaha.
Menurut Hasto, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas tata kelola negara dan penegakan hukum.
Ia menilai sistem hukum yang belum mampu menghadirkan keadilan secara merata membuka ruang bagi berbagai persoalan yang akhirnya berdampak pada kehidupan rakyat.
Dalam momentum peringatan kelahiran Bung Karno, Hasto mengingatkan kembali pesan-pesan sang proklamator mengenai perjuangan melawan ketidakadilan.
“Bung Karno menegaskan bahwa yang dilawan rakyat Indonesia bukanlah orang-orang Belanda, melainkan suatu nafsu yang mengisap dan menyengsarakan,” katanya.
Hasto juga mengajak bangsa Indonesia untuk kembali menjadikan Trisakti Bung Karno sebagai arah pembangunan nasional.
Konsep Trisakti yang digagas Bung Karno menekankan tiga prinsip utama, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurut Hasto, gagasan tersebut masih relevan dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul saat ini, termasuk tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial.
“Trisakti Bung Karno adalah kehendak, tekad, dan jalan menjadi bangsa yang kuat untuk menghadapi sistem yang melahirkan penderitaan rakyat.
Gagasan Bung Karno terbukti menjadi landasan dan kompas perjuangan bangsa,” kata Hasto dikutip Antara.
Pelemahan rupiah sendiri masih menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat. Selain dipengaruhi dinamika global, stabilitas nilai tukar juga erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional dan kebijakan yang diterapkan pemerintah.












