Hibata.id, Gorontalo – Akhir pekan seharusnya menjadi waktu yang nyaman untuk bepergian.
Namun bagi sebagian warga Kota Gorontalo dan Bone Bolango, akhir pekan justru berubah menjadi “lomba mencari jalan alternatif”.
Hal itu setelah Jalan ByPass Bone Bolango ditutup untuk kegiatan balap untuk kesenangan sekelompok orang.
Jalur yang setiap hari menjadi penghubung utama antara Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango itu selalu tak bisa dilalui.
Akibatnya, pengendara terpaksa memutar arah, mencari akses lain yang lebih jauh, sementara jarum bahan bakar terus bergerak turun.
Pantauan Hibata.id di lokasi menunjukkan sejumlah kendaraan memilih berbalik arah sesaat setelah mengetahui jalan ditutup.
Sebagian pengendara berhenti di tepi jalan untuk bertanya kepada warga mengenai jalur yang masih dapat dilalui.
“Kalau ada balap, kami harus putar jauh. Itu buang waktu dan buang BBM. Kami yang rugi,” ujar seorang pengendara.
Bagi masyarakat, persoalannya bukan sekadar soal balap. Yang dipertanyakan adalah penggunaan salah satu jalan utama untuk kegiatan yang mengharuskan ribuan pengguna jalan mengubah rute perjalanan.
Padahal, Jalan ByPass Bone Bolango selama ini dikenal sebagai jalur tercepat menuju Kota Gorontalo maupun sejumlah wilayah di Kabupaten Bone Bolango.
Ketika akses itu ditutup, pilihan yang tersisa hanyalah jalan alternatif yang lebih sempit, lebih jauh, dan di beberapa titik kondisinya rusak.
Dampaknya dirasakan banyak kalangan. Pekerja harus berangkat lebih awal.
Pedagang menambah biaya operasional karena konsumsi bahan bakar meningkat.
Warga yang memiliki keperluan mendesak pun harus menghitung ulang waktu tempuh.
Parahnya lagi, jalan ByPass Bone Bolango yang seharusnya digunakan sebagai akses menuju sejumlah fasilitas pelayanan publik, termasuk rumah sakit, malah ditutp.
“Kami bayar pajak juga. Jangan jalan ini seenaknya ditutup. Bagaimana kalau kondisi darurat terjadi dan jalan itu adalah alternatif tercepat?” kata pengendara lainnya.
Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kali kegiatan serupa digelar.
Apakah rekayasa lalu lintas yang disiapkan sudah cukup mengakomodasi kepentingan masyarakat yang menggunakan jalan tersebut setiap hari?
Masyarakat pada umumnya tidak mempersoalkan olahraga otomotif. Namun mereka berharap pelaksanaannya tidak mengorbankan mobilitas publik.
Terlebih ketika lokasi kegiatan menggunakan jalan yang menjadi urat nadi transportasi warga.
Sebagian warga juga berharap informasi penutupan jalan disampaikan lebih luas dan lebih awal sehingga masyarakat dapat menyesuaikan perjalanan tanpa harus mengetahui penutupan setelah tiba di lokasi.
Hingga berita ini diterbitkan, Kapolres Bone Bolango AKBP Supriantoro belum memberikan tanggapan atas pertanyaan Hibata.id mengenai keluhan masyarakat terkait penutupan Jalan ByPass Bone Bolango.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Bone Bolango AKP Maskur, yang berada di lokasi kegiatan, juga belum memberikan keterangan saat dimintai konfirmasi.
Alasan Klasik Polda Gorontalo
Sementara itu, Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol. Desmont Harjendro, saat dikonfirmasi beralibi bahwa penyelenggaraan kegiatan balap tersebut telah mengantongi izin dari Polda Gorontalo.
Menurutnya, sebelum izin diterbitkan, penyelenggaraan kegiatan telah dibahas melalui rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan unsur terkait.
Dalam rapat tersebut juga dibahas langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat, termasuk menyiapkan jalur alternatif bagi pengguna jalan.
“Izin dari Polda. Sebelumnya juga sudah dirapatkan bersama pemerintah dan pihak terkait. Intinya pelayanan kepada masyarakat tetap diperhatikan karena masih ada jalur alternatif,” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat yang harus memutar lebih jauh akibat penutupan Jalan ByPass Bone Bolango, Desmont mengakui kondisi tersebut memang terjadi.
Namun, menurutnya, penutupan jalan hanya bersifat sementara selama pelaksanaan event.
“Betul kalau masyarakat harus memutar. Tetapi ini tidak setiap hari, hanya selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Ia menepis anggapan bahwa penyelenggara mengabaikan kepentingan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah telah dilibatkan dalam pembahasan sebelum kegiatan dilaksanakan, termasuk pemerintah kecamatan, pemerintah desa maupun kelurahan di wilayah yang terdampak.
“Kami bukan mengabaikan masyarakat. Semua sudah dibahas bersama pemerintah, termasuk pemerintah kecamatan, kepala desa, maupun lurah,” katanya.
Desmont menambahkan, kegiatan tersebut diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat dan bukan untuk kepentingan pribadi.
Karena itu, penyelenggara juga telah meminta permakluman kepada masyarakat apabila selama pelaksanaan kegiatan terjadi gangguan terhadap aktivitas pengguna jalan.
Ia mengatakan, petugas juga ditempatkan di lapangan untuk mengarahkan kendaraan menuju jalur alternatif selama penutupan berlangsung.
“Kami kerahkan petugas untuk mengarahkan pengguna jalan. Kegiatan ini juga resmi dan telah mengantongi izin,” ujarnya.
Terkait penggunaan Jalan ByPass Bone Bolango, Desmont menjelaskan lintasan balap hanya menggunakan satu jalur.
Sementara area lainnya dimanfaatkan untuk fasilitas pendukung, seperti pagar pembatas dan tenda, guna menunjang keamanan penyelenggaraan kegiatan.
“Untuk lintasannya hanya satu jalur. Area lainnya digunakan untuk pagar pembatas, tenda, dan fasilitas pendukung demi keamanan,” katanya.
Ia menambahkan, panitia dan aparat telah mengantisipasi apabila terdapat pengguna jalan yang memiliki kepentingan mendesak dengan menyiapkan jalur alternatif selama kegiatan berlangsung.













