Hibata.Id — Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Pohuwato bersiap mengukuhkan kepengurusan. Pelantikan dijadwalkan berlangsung pada 20 Agustus 2026 dengan konsep berbeda: digelar di ruang terbuka dan mengambil lokasi di kawasan persawahan.
Persiapan pelantikan dimatangkan melalui rapat perdana yang digelar di Warkop Oma Kafe, Marisa, Rabu malam, 12 Agustus 2026. Rapat tersebut membahas berbagai kebutuhan untuk memastikan agenda pelantikan berjalan sesuai rencana.
Pelantikan dijadwalkan dihadiri langsung Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir.
Rapat persiapan dipimpin Ketua TMI Kabupaten Pohuwato, Abdul Hamid Sukoli. Ia mengatakan kesiapan teknis pelantikan menjadi salah satu agenda utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Namun, bagi TMI Pohuwato, pelantikan bukan sekadar agenda organisasi. Setelah kepengurusan terbentuk, mereka ingin menjadikan TMI sebagai wadah advokasi bagi petani yang menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Abdul Hamid mengatakan TMI akan berupaya membuka jejaring yang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan petani. Salah satu langkah awalnya adalah menyerap langsung persoalan yang dihadapi petani, terutama di wilayah Buntulia dan Duhiadaa.
“Fokusnya adalah advokasi aspirasi petani. Kita menyambut para petani di Pohuwato dan membuka jejaring. Kita ingin mengetahui secara langsung, apa masalah petani, apa yang mereka hadapi,” ujarnya.
Menurut Abdul Hamid, persoalan pertanian semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kekuatan bersama serta jejaring yang mampu mendorong persoalan petani agar mendapat perhatian dan solusi.
“Masalah pertanian sudah melampaui ambang batas. Dalam menyelesaikan masalah ini tentu membutuhkan daya,” katanya.
TMI Pohuwato berharap keberadaan organisasi tersebut dapat menjadi ruang bagi petani untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memperkuat posisi mereka dalam mencari solusi atas berbagai persoalan pertanian di daerah.
Dengan pelantikan yang direncanakan berlangsung di kawasan persawahan, TMI Pohuwato ingin menegaskan bahwa agenda organisasi mereka berangkat dari persoalan yang dihadapi petani secara langsung di lapangan.












