Nusantara

Masjid Hunto Sultan Amai: Jejak Raja, Kisah Cinta dan Syahadat

×

Masjid Hunto Sultan Amai: Jejak Raja, Kisah Cinta dan Syahadat

Sebarkan artikel ini
Masjid Hunto terletak di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo/Hibata.id
Masjid Hunto terletak di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Ada bangunan di Kota Gorontalo yang usianya jauh lebih tua dari banyak cerita yang hidup di sekitarnya.

Masjid Hunto Sultan Amai berdiri di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, dan selama berabad-abad menjadi bagian dari perjalanan sejarah Islam di Gorontalo.

Masjid ini dalam catatan sejarah lokal disebut dibangun pada 1495 oleh Sultan Amai, seorang raja Gorontalo yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal masuknya Islam di tanah Hulondalo.

Lebih dari lima abad berlalu, bangunan itu tidak sekadar menjadi tempat ibadah. Masjid Hunto juga menyimpan cerita tentang seorang raja.

Sebuah pernikahan, perubahan keyakinan, sumpah adat, serta perjalanan masyarakat Gorontalo ketika Islam mulai berkembang juga diceritakan.

Di situlah kisah Masjid Hunto Sultan Amai menjadi menarik. Sejarahnya tidak berdiri sendiri, tetapi melekat pada cerita tentang kehidupan masyarakat Gorontalo pada masa lampau.

Bermula dari Sultan Amay

Nama Sultan Amay tidak dapat dipisahkan dari sejarah Masjid Hunto. Dalam kisah sejarah yang diwariskan masyarakat Gorontalo, Sultan Amay merupakan salah satu raja yang memeluk Islam.

Sebelum memeluk Islam, ia disebut masih menganut kepercayaan lokal yang juga dianut masyarakat pada masa itu.

Perubahan keyakinan sang raja kemudian membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat di wilayah kekuasaannya.

Salah satu jejak paling penting dari masa tersebut adalah pembangunan sebuah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Hunto Sultan Amay.

Nama Hunto sendiri dipercaya berasal dari kata Ilohuntungo, yang memiliki makna berkaitan dengan tempat berkumpul atau menjadi basis masyarakat.

Baca Juga:  Kodim 1315 Kabupaten Gorontalo Gelar Pesta Rakyat HUT RI ke-79

Masjid itu dibangun di atas lahan berukuran sekitar 12 x 12 meter. Dalam sejarah lokal, pembangunannya berkaitan erat dengan kisah pernikahan Sultan Amay dengan Putri Boki Antungo, putri Raja Palasa dari Sulawesi Tengah.

Masjid Mahar Pernikahan

Kisah pembangunan Masjid Hunto tidak berhenti pada urusan ibadah.

Menurut cerita yang berkembang, pembangunan masjid tersebut berkaitan dengan permintaan dalam proses pernikahan Sultan Amay dan Putri Boki Antungo.

Pada masa itu, Gorontalo disebut belum memiliki masjid sebagai tempat ibadah umat Islam. Sultan Amay kemudian membangun masjid bersama rakyatnya.

Bangunan tersebut akhirnya berdiri. Masjid itu kemudian menjadi salah satu peninggalan yang menghubungkan kisah pernikahan Sultan Amay dengan perjalanan awal Islam di Gorontalo.

Pernikahan keduanya sendiri disebut berlangsung di Mautong, Sulawesi Tengah. Sementara Masjid Hunto kemudian dikenang sebagai hadiah Sultan Amay kepada istrinya.

Dari sebuah kisah pernikahan, lahirlah sebuah bangunan yang bertahan melewati pergantian zaman.

Ketika Raja Mengajak Rakyat Mengucapkan Syahadat

Ada bagian lain dari cerita Masjid Hunto yang membuat sejarahnya berbeda dari masjid pada umumnya.

Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, setelah menyatakan memeluk Islam, Sultan Amay mengumpulkan rakyatnya.

Ia menyampaikan secara terbuka bahwa dirinya telah memeluk Islam. Namun, perubahan itu tidak berlangsung hanya melalui sebuah pernyataan.

Masyarakat kemudian menggelar pesta yang disertai sumpah adat. Prosesi tersebut berlangsung di halaman masjid yang baru selesai dibangun.

Dalam cerita lokal, masyarakat saat itu menggunakan darah babi sebagai bagian dari simbol sumpah untuk meninggalkan kebiasaan mengonsumsi daging babi.

Baca Juga:  Ken Arok dan Kutukan Keris Mpu Gandring Menggetarkan Nusantara

Sumpah tersebut kemudian menjadi penanda perubahan kehidupan masyarakat setelah Sultan Amay memeluk Islam.

Setelah prosesi adat selesai, Sultan Amay mengajak rakyatnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana perubahan keagamaan pada masa itu berjalan berdampingan dengan tradisi dan tata kehidupan masyarakat setempat.

Ada Sumur Tua di Samping Masjid

Jika bangunan masjid menyimpan kisah tentang Sultan Amay, sebuah sumur tua di sampingnya menyimpan cerita lain.

Sumur tersebut berada di sisi kiri Masjid Hunto, tidak jauh dari tempat wudu. Hingga sekarang, masyarakat dan pengunjung masih memanfaatkan sumber air tersebut.

Menurut keterangan yang berkembang di lingkungan masjid, sumur tua itu memiliki diameter lebih dari satu meter dengan kedalaman air sekitar tujuh meter.

Strukturnya juga dikaitkan dengan penggunaan kapur dan putih telur Maleo sebagai bahan perekat pada masa pembangunannya.

Cerita yang paling sering disampaikan masyarakat adalah mengenai airnya.

Sumur tersebut disebut tetap memiliki air meskipun Gorontalo mengalami musim kemarau. Airnya juga dikenal jernih dan masih digunakan hingga kini.

Di tengah masyarakat, berkembang pula kepercayaan bahwa air sumur tersebut memiliki khasiat tertentu untuk kesehatan.

Keyakinan itu merupakan bagian dari cerita dan tradisi masyarakat sekitar. Khasiat pengobatan tersebut tidak dapat diposisikan sebagai klaim medis tanpa pembuktian ilmiah.

Lima Abad Berlalu, Masjid Tetap Hidup

Waktu mengubah banyak hal di Kota Gorontalo. Namun, Masjid Hunto Sultan Amay tetap menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.

Baca Juga:  Mengenang Tragedi Marsinah, Pahlawan Buruh yang Menginspirasi

Masjid tersebut tidak hanya digunakan untuk salat dan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi lokasi yang didatangi masyarakat untuk mengenal sejarah Islam di Gorontalo.

Ketua Takmirul Masjid Hunto Sultan Amay, Syamsuri Kaluku (67) kala itu mengatakan, masjid tersebut kini menjadi salah satu tujuan wisata religi sekaligus bagian dari cagar budaya.

Aktivitas keagamaan juga terus berjalan. Saat Ramadan, masjid menjadi salah satu tempat berkumpul masyarakat, termasuk jamaah tablig.

“Ini merupakan salah satu cagar budaya religi di Provinsi Gorontalo yang menjadi pusat tablig dan dakwah,” kata Syamsuri.

Hunto dan Ingatan Sejarah Gorontalo

Masjid Hunto Sultan Amay pada akhirnya bukan hanya tentang usia bangunan.

Di dalamnya tersimpan rangkaian cerita tentang Sultan Amay, Putri Boki Antungo, awal perkembangan Islam, tradisi masyarakat, hingga kehidupan keagamaan yang masih berlangsung sampai sekarang.

Itulah yang membuat masjid tua tersebut tetap memiliki tempat dalam ingatan masyarakat Gorontalo.

Lima abad lebih telah berlalu sejak kisah Sultan Amay dan masjid itu bermula. Generasi berganti, kota berkembang, tetapi Masjid Hunto masih berdiri dan digunakan.

Bagi pengunjung, bangunan itu mungkin terlihat sederhana.

Namun, di balik dinding dan halaman tuanya, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah keyakinan mulai menemukan tempat dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.

Dan sejarah itu masih hidup hingga hari ini.

Baca Informasi terkini dan terpercaya di Berita Hibata.id

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel