Kabar

Wisatawan Asing Ngaku Diancam Dibunuh Usai Rekam Hiu Paus Botubarani

×

Wisatawan Asing Ngaku Diancam Dibunuh Usai Rekam Hiu Paus Botubarani

Sebarkan artikel ini
Wisatawan Asing Ngaku Diancam Dibunuh Usai Rekam Hiu Paus Botubarani/Hibata.id
Wisatawan Asing Ngaku Diancam Dibunuh Usai Rekam Hiu Paus Botubarani/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Niatnya pulang membawa kenangan berenang bersama hiu paus. Yang dibawa justru cerita yang membuat warganet mengernyitkan dahi.

Seorang wisatawan asing bernama Agnes Fontana mengaku mendapat ancaman setelah merekam aktivitas wisata hiu paus whale shark di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Cerita itu ia unggah melalui video Instagram berdurasi 1 menit 31 detik dan langsung mengundang beragam tanggapan.

“Saya mendapat ancaman pembunuhan karena ingin berbicara tentang hal ini, tetapi itu tidak akan menghentikan saya,” kata Agnes membuka videonya.

Pernyataan tersebut hingga kini masih sebatas pengakuan Agnes Pemerintah Provinsi Gorontalo pun mengaku masih menelusuri informasi tersebut.

Namun sebelum publik sibuk menjadi ‘detektif dadakan’ di kolom komentar, pemerintah memilih langkah yang lebih membumi, memanggil pengelola wisata untuk melakukan evaluasi.

Agnes mengaku datang ke Gorontalo dengan ekspektasi menikmati wisata hiu paus yang menerapkan prinsip konservasi.

Baca Juga:  Dua Koper Berisi Emas Ilegal Terdeteksi, Ada Apa di Bandara Djalaluddin?

Harapan itu, menurut dia, berubah sesaat setelah melihat hiu paus diberi makan hanya beberapa meter dari bibir pantai.

Di sekeliling satwa berukuran raksasa itu, perahu wisata hilir mudik, sementara wisatawan bergantian mengabadikan momen.

“Yang saya temukan justru hiu paus diberi makan secara langsung hanya beberapa meter dari pantai, dikelilingi perahu dan wisatawan, sementara satwa tersebut dipertahankan di satu lokasi agar terus berinteraksi dengan pengunjung dan menjadi objek foto,” ujarnya.

Bagi sebagian wisatawan, itu mungkin pengalaman yang “Instagramable”.

Namun bagi Agnes, pemandangan tersebut justru memunculkan tanda tanya besar mengenai konsep konservasi wisata satwa liar.

Cerita menjadi lebih menegangkan ketika Agnes mengaku mulai merekam aktivitas tersebut. Ia mengatakan seseorang meminta seluruh rekamannya dihapus.

Bahkan, menurut pengakuannya, ancaman juga sempat ia terima.

“Saat kami mulai merekam apa yang sedang terjadi, kami diminta menghapus semua rekaman. Di akhir kegiatan itu, mereka mengancam akan membunuh saya karena tidak melakukannya,” katanya.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Program Sekolah Rakyat di Kota Gorontalo Batal Digelar

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada bukti yang dipublikasikan kepada publik mengenai siapa pihak yang diduga menyampaikan ancaman tersebut.

Karena itu, informasi tersebut masih menunggu hasil penelusuran dari pihak berwenang.

Selain menyinggung dugaan ancaman, Agnes juga mengkritisi praktik pemberian pakan kepada hiu paus.

Menurut dia, kebiasaan itu berpotensi mengubah perilaku alami hiu paus sebagai satwa migrasi.

“Memberi makan hiu paus mengganggu perilaku alaminya sebagai hewan migrasi.”

Ia menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko hiu paus berinteraksi dengan baling-baling perahu hingga memengaruhi pola hidup satwa dalam jangka panjang.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, mengatakan pemerintah belum dapat memastikan dugaan ancaman tersebut.

“Kami belum mengetahui secara pasti bentuk ancamannya maupun siapa yang diduga melakukan tindakan tersebut. Dari hasil koordinasi dengan pengelola YUPAUS, mereka juga mengaku belum mengetahui pihak yang dimaksud,” katanya.

Baca Juga:  POM Mini di Pohuwato Menjamur, Siap-Siap Ditutup Jika...

Meski demikian, pemerintah tidak menunggu persoalan menjadi semakin panjang.

Pengelola wisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan sejumlah pihak terkait langsung dipanggil untuk mengikuti evaluasi.

“Kami sudah mengingatkan pengelola agar kejadian seperti ini tidak terulang. Wisatawan harus merasa aman dan nyaman ketika berkunjung ke Gorontalo,” ujarnya.

Menurut Sultan, pembinaan juga menyasar tata kelola interaksi dengan wisatawan serta satwa liar agar citra destinasi hiu paus tetap terjaga.

“Harapan kami, wisata tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi hiu paus juga tetap terlindungi dan tidak dieksploitasi secara berlebihan. Itu menjadi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel