Kabar

Dampak El Nino, BMKG Prediksi Gorontalo Dilanda Musim Kering Paling Parah

×

Dampak El Nino, BMKG Prediksi Gorontalo Dilanda Musim Kering Paling Parah

Sebarkan artikel ini
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Gorontalo mengalami kondisi lebih kering hingga September 2026 akibat El Nino. BPBD menyiapkan distribusi air bersih/Hibata.id
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Gorontalo mengalami kondisi lebih kering hingga September 2026 akibat El Nino. BPBD menyiapkan distribusi air bersih/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Sebagian besar wilayah Provinsi Gorontalo diperkirakan memasuki periode yang lebih kering dalam tiga bulan ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino yang masih bertahan dengan intensitas moderat hingga kuat.

Kondisi ini akan menekan curah hujan di daerah tersebut sepanjang Juli hingga September 2026, sehingga meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah.

Prediksi itu tertuang dalam Buletin Iklim Provinsi Gorontalo Edisi Juni 2026.

BMKG memproyeksikan mayoritas wilayah Gorontalo akan mengalami sifat hujan di bawah normal.

Biasanya ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan kondisi rata-rata tahunan.

Analisis menggunakan Indeks Presipitasi Terstandarisasi (Standardized Precipitation Index/SPI) menunjukkan beberapa kecamatan berpotensi mengalami kondisi kering hingga sangat kering.

Terutama apabila hujan tidak segera turun dalam beberapa pekan mendatang.

Baca Juga:  Pengumuman Kelulusan PPPK 2024 Tahap 2 Diundur, BKN Tetapkan Tanggal Baru

Kecamatan Tomilito di Kabupaten Gorontalo Utara diperkirakan menjadi wilayah dengan tingkat kekeringan paling tinggi.

Selain itu, potensi serupa juga diprediksi terjadi di Kecamatan Boliyohuto, Mootilango, Pulubala, Tibawa, Tolangohula, Bilato, Limboto, Batudaa, Anggrek, Kwandang, Sumalata, Biau, Popayato, Lemito, hingga Marisa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo, Rusli Nusi, mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.

Apabila dampak musim kering mulai dirasakan masyarakat, terutama terkait kebutuhan air bersih warga.

“Kalau memang terjadi kekeringan, kami akan turun menyalurkan bantuan air bersih. Sampai saat ini belum ada permintaan dari daerah,” kata Rusli saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

Menurut Rusli, BPBD terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi penurunan ketersediaan air bersih.

Baca Juga:  KPK Tangkap Gubernur Riau Abdul Wahid dan Sembilan Pejabat Pemprov

Apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan, BPBD akan meningkatkan koordinasi dengan TNI dan Polri.

Musabab, mereka memiliki armada pendukung untuk mempercepat distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

“Kalau kemarau lebih panjang lagi, koordinasi dengan daerah, TNI, dan Polri akan ditingkatkan. Mereka juga memiliki armada untuk membantu distribusi air bersih,” ujarnya.

Rusli mengungkapkan, berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, Kecamatan Boliyohuto menjadi salah satu daerah yang paling sering mengalami kesulitan memperoleh air bersih saat musim kemarau.

Namun hingga pertengahan Juli 2026, BPBD belum menerima laporan maupun permintaan resmi terkait penyaluran air bersih dari pemerintah daerah.

Selain mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Baca Juga:  Buruh Sakit, Disanksi dan Dimarahi: Potret Suram Ketenagakerjaan di Kawasan IMIP

Cuaca yang lebih panas dan kelembapan udara yang menurun dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.

BMKG juga mengimbau masyarakat, terutama yang berada di wilayah rawan kekeringan, agar menggunakan air secara hemat, menjaga sumber-sumber air yang tersedia, serta terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan secara berkala.

Dengan proyeksi musim kering yang masih akan berlangsung hingga September 2026, kesiapsiagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak terhadap aktivitas sehari-hari, sektor pertanian, dan ketersediaan air bersih di Gorontalo.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel