Hibata.Id — Pemerintah Kabupaten Boalemo memperkuat sektor peternakan dengan menyiapkan tenaga teknis yang menguasai teknologi reproduksi ternak. Sebanyak 13 calon petugas inseminator asal Boalemo mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Inseminasi Buatan (IB) Angkatan VI Tahun 2026 di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Bandung, Jawa Barat.
Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali meninjau langsung pelaksanaan pelatihan tersebut pada Jumat, 11 September 2026. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat proses pembekalan sekaligus memastikan kondisi 13 peserta yang telah memasuki hari ke-13 pelatihan.
Lahmuddin mengatakan pengiriman belasan calon inseminator ke BIB Lembang merupakan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia di sektor peternakan.
Menurut dia, pembangunan peternakan tidak cukup hanya dengan menambah populasi ternak atau menyediakan sarana pendukung. Pemanfaatan teknologi harus ditopang tenaga teknis yang memiliki kompetensi dan mampu menerapkannya secara tepat.
“Peternakan sekarang tidak hanya bergantung pada jumlah ternak atau luas lahan. Ada teknologi dan pengetahuan yang harus diterapkan dengan benar,” ujar Lahmuddin.
Salah satu teknologi yang dinilai penting adalah IB. Dalam penerapannya, inseminator memiliki peran mulai dari menentukan waktu inseminasi, menangani semen dan peralatan, menjalankan prosedur inseminasi, mengenali kondisi reproduksi ternak hingga mengevaluasi hasilnya.
Karena itu, Lahmuddin meminta para calon inseminator tidak hanya mengejar kemampuan teknis. Mereka juga harus mampu menjadi tenaga pelayanan yang dapat membantu peternak menyelesaikan persoalan reproduksi ternak di lapangan.
“Inseminator yang kompetensinya meningkat bukan hanya mampu melakukan IB, tetapi juga diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih tepat kepada peternak,” katanya.
Menurut Lahmuddin, peningkatan kapasitas tenaga inseminator merupakan bagian penting dari upaya memperkuat fondasi peternakan Boalemo.
Ketersediaan tenaga teknis yang kompeten diharapkan membuat penerapan teknologi reproduksi ternak berjalan lebih optimal. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas genetik dan produktivitas ternak masyarakat.
“SDM yang lebih baik memungkinkan persoalan peternakan ditangani secara lebih tepat, bukan sekadar menjalankan prosedur,” pungkas Lahmuddin.












