Nusantara

Rumah Adat Gorontalo Ternyata Punya Makna di Setiap Bagian

×

Rumah Adat Gorontalo Ternyata Punya Makna di Setiap Bagian

Sebarkan artikel ini
Rumah Adat Gorontalo Bukan Sekadar Bangunan, Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide Punya Fungsi Berbeda?hibata.id
Rumah Adat Gorontalo Bukan Sekadar Bangunan, Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide Punya Fungsi Berbeda?hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Rumah adat Gorontalo tidak hanya menjadi peninggalan arsitektur tradisional.

Tetapi juga menyimpan pengetahuan tentang tata ruang, fungsi sosial, kehidupan adat hingga sejarah masyarakat setempat.

Hal itu terungkap dalam penelitian mengenai karakteristik fisik rumah adat Gorontalo, khususnya Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide.

Penelitian tersebut dilakukan melalui survei lapangan, wawancara, observasi, serta konfirmasi dengan tokoh adat.

Hasil penelitian menunjukkan kedua rumah adat tersebut memiliki karakter fisik dan fungsi yang berbeda.

Dulohupa berukuran lebih kecil dengan tata ruang yang lebih sederhana, sedangkan Bantayo Pobo’ide memiliki bangunan dan organisasi ruang yang lebih kompleks.

Dulohupa merupakan salah satu rumah adat yang berada di Kota Gorontalo.

Bangunan ini memiliki organisasi ruang yang relatif sederhana, antara lain Palepelo Adati, Dulodehu, ruang utama Dulohupa, beberapa kamar adat, serta serambi belakang.

Ruang utama Dulohupa menjadi salah satu bagian penting karena digunakan untuk pelaksanaan musyawarah mengenai berbagai hal penting bagi daerah atau Kota Gorontalo. Ruang tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan adat.

Baca Juga:  Menelusuri Jejak Masa Lalu di Benteng Otanaha Kota Gorontalo

Dari sisi material, bangunan Dulohupa banyak menggunakan unsur kayu.

Lantai, dinding dan plafon menggunakan konstruksi papan atau kayu, sedangkan atapnya memakai rangka kayu dengan penutup seng.

Penelitian mencatat warna dominan bangunan tersebut adalah cokelat dengan penggunaan pernis untuk membantu melindungi material kayu.

Seiring perkembangan zaman, fungsi sejumlah bagian bangunan juga mengalami perubahan.

Bagian yang sebelumnya berkaitan dengan penyimpanan barang, hasil pertanian dan peralatan kerja kini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti pameran, acara musik dan lomba kesenian.

Berbeda dengan Dulohupa, Bantayo Pobo’ide mempunyai organisasi ruang yang lebih kompleks.

Penelitian mencatat sejumlah ruang di dalam bangunan tersebut, termasuk ruang persiapan adat, kamar pengawal, kamar pengantin, kamar putra dan putri raja, ruang makan raja hingga ruang bagi para pembantu kerajaan.

Susunan tersebut menunjukkan bahwa Bantayo Pobo’ide tidak hanya berkaitan dengan kegiatan adat, tetapi juga memiliki fungsi yang berhubungan dengan kehidupan lingkungan kerajaan.

Dari sisi konstruksi, bangunan ini menggunakan material kayu pada sejumlah bagian.

Baca Juga:  Huyula Gorontalo Kian Memudar, Generasi Muda Justru Lebih Aktif di Medsos

Atapnya berbentuk perisai atau pelana yang tersusun dua, sementara bangunan dilengkapi pintu dan jendela berukuran besar.

Penelitian mencatat Bantayo Pobo’ide memiliki dua pintu dan 17 jendela, sedangkan tangga adatnya terdiri atas delapan anak tangga.

Perbedaan yang paling terlihat antara Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide terdapat pada ukuran bangunan serta organisasi ruangnya.

Dalam abstrak penelitian, Dulohupa disebut memiliki tujuh ruang, sedangkan Bantayo Pobo’ide memiliki 22 ruang.

Dulohupa lebih diarahkan untuk kegiatan adat, sementara Bantayo Pobo’ide juga memiliki fungsi sebagai kediaman raja.

Perbedaan tersebut membuat kedua rumah adat memiliki karakter arsitektur yang berbeda meskipun sama-sama menjadi bagian penting dari warisan budaya Gorontalo.

Rumah tradisional Gorontalo menghadapi ancaman pelestarian

Di balik karakter arsitekturnya, penelitian tersebut juga mencatat tantangan dalam pelestarian rumah tradisional Gorontalo.

Sejumlah rumah tradisional masyarakat disebut telah mengalami kerusakan bahkan hilang akibat pelapukan. Hanya sebagian yang masih bertahan dan dirawat oleh keturunannya.

Baca Juga:  Misteri Kampung Gaib dan Teror Pocong yang Masih Hidup di Indonesia

Peneliti juga mencatat penerapan unsur arsitektur tradisional Gorontalo pada bangunan masa kini semakin sulit ditemukan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan masih minimnya pengetahuan dan kepedulian terhadap warisan arsitektur tradisional.

Padahal, rumah adat tidak hanya berbicara mengenai bentuk fisik bangunan.

Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai tata ruang, bahan bangunan, fungsi sosial, sejarah serta nilai budaya masyarakat Gorontalo.

Karena itu, penelitian tersebut merekomendasikan agar kajian mengenai rumah adat Gorontalo terus dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat, mahasiswa maupun peneliti berikutnya.

Dulohupa dan Bantayo Pobo’ide memperlihatkan bahwa arsitektur tradisional Gorontalo memiliki karakter yang tidak berhenti pada bentuk bangunan.

Perbedaan ruang, fungsi, material dan tata bangunan menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika rumah tradisional hilang, yang terancam bukan hanya bangunan fisiknya, tetapi juga pengetahuan mengenai sejarah, tata kehidupan dan identitas masyarakat yang membangunnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel