Hibata.id, Gorontalo â Beberapa helai rambut dikumpulkan di bagian tengah kepala seorang perempuan. Seorang petuah kemudian menarik rambut tersebut perlahan ke atas. Tarikan dilakukan berulang hingga terdengar bunyi.
Dalam tradisi Molanggu, bunyi dari tarikan rambut itu dipercaya masyarakat memiliki makna tertentu. Bagi sebagian masyarakat yang masih menjalankannya, bunyi tersebut menjadi bagian dari cara membaca penyebab sakit yang dialami seseorang.
Molanggu merupakan salah satu praktik pengobatan tradisional yang dikenal di Gorontalo. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan tidak hanya berkaitan dengan upaya penyembuhan, tetapi juga memuat sistem kepercayaan, simbol budaya, serta pengetahuan lokal masyarakat.
Pencatatan Kekayaan Budaya Takbenda Indonesia memasukkan Molanggu dalam kategori pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta.
Tradisi tersebut tercatat berasal dari Telaga Jaya, Gorontalo, dengan maestro Hadidjah Ibrahim dan Maryam Kobi. Dalam pencatatan tersebut, Molanggu disebut masih bertahan.
Rambut dan Bunyi dalam Tradisi Molanggu
Dalam catatan kebudayaan Indonesia, Molanggu dilakukan oleh hulango atau orang yang memiliki pengetahuan mengenai praktik tersebut.
Rangkaian ritual diawali dengan tahapan tertentu, termasuk makan sirih pinang. Setelah itu, beberapa helai rambut di bagian tengah kepala orang yang sakit dikumpulkan dan ditarik ke atas.
Jika tarikan pertama menghasilkan bunyi yang dianggap pelan, proses tersebut dapat diulang hingga tiga kali. Dalam kepercayaan masyarakat yang menjalankannya, bunyi keras dikaitkan dengan gangguan roh orang yang telah meninggal atau makhluk halus.
Sementara rambut yang tidak mengeluarkan bunyi dipercaya menunjukkan sakit biasa. Setelah ritual selesai, orang yang menjalani pengobatan diberi air untuk diminum.
Praktik tersebut juga terdokumentasi dalam kegiatan Pemerintah Provinsi Gorontalo pada Juli 2019. Dokumentasi itu memperlihatkan seorang perempuan menarik rambut pasien yang mengalami mual dan demam di Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo.
Kepercayaan terhadap Gurumi
Dalam kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat Gorontalo, sakit yang muncul secara tiba-tiba tidak selalu dikaitkan dengan penyebab fisik.
Salah satu istilah yang dikenal adalah gurumi. Istilah tersebut digunakan dalam kepercayaan masyarakat untuk menyebut kondisi yang dikaitkan dengan gangguan makhluk halus.
Mali Isa, salah seorang yang masih menggunakan tradisi tersebut, mengatakan sebagian masyarakat hingga kini masih mempercayai Molanggu.
âDari dulu sampai saat ini masih banyak juga yang percaya soal tradisi Molanggu,â kata Mali kepada Hibata.id pada 12 Agustus 2022 lalu.
Menurut Mali, masyarakat memiliki berbagai pemahaman mengenai penyebab gurumi. Salah satunya berkaitan dengan kepercayaan seseorang dapat mengalami gangguan setelah secara tidak sengaja bertemu makhluk halus.
âSelain makhluk halus, juga secara tidak sengaja menyebut orang terdekat yang sudah meninggal, itu juga pemicunya,â ujarnya.
Mali mengatakan kepercayaan terhadap Molanggu tidak selalu berarti masyarakat menolak layanan kesehatan modern.
âJadi bukan tidak percaya dokter, artinya ini kearifan lokal dan harus dipelihara,â katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat, Molanggu tetap ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan dan tradisi keluarga di tengah perkembangan layanan kesehatan modern.
Penelitian sebagai Pengetahuan Budaya
Kajian mengenai Molanggu juga dilakukan oleh peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian berjudul âSimbol Budaya dan Nilai Edukatif dalam Ritual Molanggu: Studi Etnografis Kualitatifâ terbit dalam Center of Education Journal (CEJou) pada 9 Agustus 2025.
Penelitian tersebut mengkaji praktik Molanggu di Kabupaten Bone Bolango menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan unsur etnografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta kajian literatur. Informan penelitian meliputi pelaku Molanggu, tokoh adat, dan masyarakat setempat.
Hasil penelitian menempatkan Molanggu bukan hanya sebagai praktik penyembuhan, tetapi juga sebagai sistem simbolik yang mengandung makna spiritual, nilai sosial, dan identitas budaya.
Peneliti menemukan sejumlah unsur dalam praktik Molanggu, antara lain penggunaan air dari sumber tertentu, doa atau mantra dalam bahasa daerah, ramuan alami, daun sirih, bambu, serta minyak kelapa murni.
Salah seorang informan yang merupakan pelaku Molanggu berusia 67 tahun menjelaskan praktik tersebut sebagai bagian dari upaya penyembuhan sekaligus menjaga keseimbangan dengan alam.
Simbol, Alam, dan Nilai Sosial
Penelitian tersebut juga mencatat penggunaan bahan alami dalam praktik Molanggu memiliki makna simbolik bagi masyarakat yang menjalankannya.
Daun wuluh, misalnya, dimaknai sebagai simbol harapan dan pembersihan. Penelitian juga mencatat perubahan tempat pelaksanaan ritual.
Jika sebelumnya pohon besar tertentu menjadi bagian dari lokasi yang dianggap penting, perubahan lingkungan membuat praktik Molanggu kini dapat dilakukan di dalam rumah.
Selain aspek simbolik, penelitian menemukan adanya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam pelaksanaan Molanggu.
Keluarga membantu mempersiapkan ritual, sementara anggota masyarakat, termasuk generasi muda, dapat terlibat dalam proses tersebut. Keterlibatan itu menjadi bagian dari hubungan sosial yang mengiringi praktik Molanggu.
Penelitian mengidentifikasi sejumlah nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut, antara lain spiritualitas, religiositas, kepedulian sosial, solidaritas, penghargaan terhadap alam, dan kerja sama.
Pengetahuan Diwariskan Secara Lisan
Salah satu temuan penting penelitian tersebut berkaitan dengan peran pelaku Molanggu sebagai pewaris pengetahuan lokal.
Pengetahuan mengenai cerita leluhur, filosofi hidup, hingga teknik pelaksanaan ritual diwariskan secara lisan. Calon pelaku dapat belajar dengan mengamati dan membantu generasi sebelumnya dalam menjalankan praktik Molanggu.
Pola tersebut menunjukkan adanya proses pembelajaran melalui pengalaman langsung atau learning by doing. Peneliti melihat proses itu sebagai salah satu bentuk pendidikan nonformal yang berlangsung di lingkungan masyarakat.
Namun, penelitian juga mencatat perubahan pandangan di kalangan generasi muda. Sebagian mulai mempertanyakan praktik Molanggu seiring pengaruh pendidikan modern dan media sosial, meskipun sebagian lainnya masih memandangnya sebagai bagian dari warisan budaya.
Berpotensi Menjadi Sumber Pembelajaran
Penelitian tersebut juga melihat Molanggu memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Peneliti mengusulkan agar nilai-nilai yang terkandung dalam Molanggu dapat dikenalkan melalui pembelajaran kontekstual, termasuk dalam Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya.
Materi mengenai Molanggu dapat dikembangkan melalui kegiatan literasi budaya, wawancara sederhana, studi kasus, maupun presentasi.
Fokus pembelajaran tidak harus berada pada praktik pengobatannya, tetapi dapat diarahkan pada nilai gotong royong, penghargaan terhadap alam, identitas budaya, dan proses pewarisan pengetahuan.
Penelitian itu juga mengusulkan gagasan âSekolah Budaya Molangguâ berbasis komunitas. Program tersebut dapat mempertemukan generasi muda dengan pelaku budaya dan tetua adat untuk mengenal sejarah, nilai, serta pengetahuan yang berkaitan dengan tradisi tersebut.
Antara Warisan Budaya dan Pengobatan Modern
Penelitian tersebut sekaligus mengakui adanya keterbatasan. Kajian belum menguji secara mendalam dampak Molanggu jika diterapkan dalam pendidikan formal dan belum mencakup seluruh variasi praktik Molanggu di wilayah Gorontalo.
Peneliti merekomendasikan kajian lanjutan untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis adat dan budaya serta mengujinya dalam konteks pendidikan formal.
Karena itu, Molanggu dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda. Dalam konteks kesehatan, praktik tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan pengobatan tradisional masyarakat.
Dalam konteks kebudayaan, Molanggu menjadi ruang pewarisan pengetahuan, simbol, nilai sosial, dan identitas lokal.
Di tengah berkembangnya dokter, rumah sakit, obat-obatan, dan teknologi kesehatan, keberadaan Molanggu memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat tetap hidup dalam masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat Gorontalo, Molanggu bukan hanya tentang mencari kesembuhan. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ingatan kolektif, hubungan sosial, dan warisan pengetahuan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.












