Buton

Azhari Sebut Sekolah Rakyat Jadi Upaya Putus Rantai Kemiskinan

×

Azhari Sebut Sekolah Rakyat Jadi Upaya Putus Rantai Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Bupati Buton Tengah Azhari menghadiri kegiatan open house Sekolah Rakyat Terintegrasi 69 Buton Tengah/Hibata.id
Bupati Buton Tengah Azhari menghadiri kegiatan open house Sekolah Rakyat Terintegrasi 69 Buton Tengah/Hibata.id

Hibata.id, Buton Tengah – Bupati Buton Tengah (Buteng), Azhari, menilai program Sekolah Rakyat menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Hal itu disampaikan Azhari saat menghadiri kegiatan open house Sekolah Rakyat Terintegrasi 69 Buton Tengah, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan tersebut digelar serentak bersama 182 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia dengan mengusung tema “Dulu Kami Bermimpi, Kini Kami Berani”.

Azhari mengatakan, kehadiran Sekolah Rakyat di Buton Tengah merupakan bagian dari program Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang menghadapi hambatan dalam memperoleh pendidikan.

“Alhamdulillah, sebuah kesyukuran bahwa program dari visi-misi Presiden Bapak Prabowo hadir di Buteng. Program ini diyakini mampu memutus rantai kemiskinan,” kata Azhari.

Menurut dia, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Baca Juga:  Kelas Inspirasi Hadir di Buton Tengah, Ratusan Siswa Dapat Motivasi Profesi

“Karena hanya dengan pendidikan, rantai kemiskinan itu dapat diputus dengan cepat. Dengan pendidikan, kita juga bisa menyelesaikan berbagai persoalan,” ujarnya.

Azhari menjelaskan, ketersediaan sekolah di berbagai daerah belum sepenuhnya menjamin seluruh anak dapat mengakses pendidikan.

Karena itu, pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat untuk menjangkau anak-anak yang belum memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan formal.

“Program ini merupakan by pass dari semua persoalan. Bapak Presiden mencanangkan program ini untuk menyasar anak-anak yang tidak sempat bersekolah di SD maupun SMP,” katanya.

Ia menilai program tersebut mencerminkan upaya pemerintah memperluas akses pendidikan agar seluruh generasi memperoleh kesempatan belajar.

Selain Sekolah Rakyat, Azhari menyebut pemerintah juga mengembangkan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, sekolah di perkotaan cenderung memiliki fasilitas lebih memadai dan mampu menarik tenaga pendidik berkualitas.

Baca Juga:  Bupati Buteng Hadiri Panen Raya Jagung Kuartal II, Target Swasembada Pangan 2025

Melalui SNT, pemerintah diharapkan dapat memperluas kesempatan peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan bermutu.

“Dan alhamdulillah, kita di Buteng memiliki sekolah SNT ini,” ungkapnya.

Jumlah siswa Sekolah Rakyat Buton Tengah meningkat

Kepala Sekolah Rakyat Buton Tengah, La Saruji, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan berbasis asrama yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem agar memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus dukungan pengasuhan.

La Saruji mengatakan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Buton Tengah mulai beroperasi pada 30 September 2025 sebagai sekolah rintisan dengan nama Sekolah Rakyat Terintegrasi 69 Buton Tengah.

Pada tahun ajaran 2025–2026, sekolah tersebut menampung 149 siswa, yang terdiri atas 49 siswa jenjang SD, 50 siswa SMP, dan 50 siswa SMA.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 385 siswa pada tahun ajaran 2026–2027. Seluruh siswa berasal dari wilayah Kabupaten Buton Tengah, dengan rincian 106 siswa jenjang SD, 140 siswa SMP, dan 139 siswa SMA.

Baca Juga:  Pemda Buton Tengah Klarifikasi Data Non-ASN, Bupati Azhari Tekankan Hal Berikut

Peningkatan jumlah siswa tersebut menunjukkan bertambahnya peserta didik yang memperoleh akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat di Buton Tengah.

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, pengasuhan, dan operasional sekolah, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Buton Tengah didukung 139 pegawai.

Mereka terdiri atas 28 guru, 49 wali asuh, 22 wali asrama, dan 13 tenaga administrasi. Sekolah tersebut juga melibatkan tenaga pendukung, termasuk petugas keamanan, juru masak, dan petugas kebersihan.

Kegiatan open house itu turut dihadiri Wakapolres Buton Tengah, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Daerah Buton Tengah, Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Ketua Tim Universitas Pertahanan, serta perwakilan orang tua siswa.

Melalui kegiatan tersebut, Sekolah Rakyat Terintegrasi 69 Buton Tengah memperkenalkan program dan perkembangan sekolah kepada masyarakat sekaligus menegaskan peran pendidikan dalam membuka kesempatan bagi anak-anak untuk membangun masa depan yang lebih baik.