Hibata.id — Kopi kini bukan sekadar minuman di Kota Gorontalo. Di sejumlah sudut kota, lapak-lapak UMKM bermunculan dengan kopi sebagai salah satu produk andalan. Fenomena itu menjadi gambaran geliat usaha masyarakat, terutama pada malam hari.
Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel menyoroti fenomena tersebut saat membuka talkshow “Menyeduh Masa Depan Kopi Gorontalo” dalam rangkaian Hulonthalo Art & Craft Festival (HARVEST) 2026 di Grand Palace Convention Center, Jumat, 11 September 2026.
Di hadapan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, barista, founder kopi, dan pelaku UMKM, Indra bercerita tentang perubahan yang terjadi setelah Pemerintah Kota Gorontalo, di bawah kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea dan dirinya, membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha.
Ruang tersebut kemudian diisi masyarakat dengan beragam jenis usaha. Namun, menurut Indra, lapak kopi menjadi salah satu yang paling mudah ditemukan.
“Alhamdulillah semenjak kita buka, mereka semua buka yang namanya lapak-lapak itu rata-rata jual kopi,” kata Indra.
Menariknya, para pelaku usaha tidak selalu memilih lokasi yang berjauhan. Lapak kopi bahkan tumbuh berdekatan satu sama lain. Bagi Indra, keberanian tersebut menunjukkan adanya kepercayaan bahwa setiap usaha memiliki rezekinya masing-masing.
Persaingan, pada akhirnya, ditentukan oleh kualitas produk dan cita rasa yang ditawarkan kepada konsumen.
Indra memperkirakan, usaha kopi yang mampu bertahan selama sekitar enam bulan mulai membentuk komunitas pelanggan sendiri. Dari sana, usaha tidak lagi sekadar mengandalkan pembeli yang datang sesekali, tetapi memiliki basis konsumen yang lebih loyal.
Fenomena itu berjalan seiring dengan kebijakan Pemerintah Kota Gorontalo yang, menurut Indra, membuka ruang bagi masyarakat untuk berdagang tanpa membebankan retribusi.
Aktivitas UMKM kemudian berkembang hingga malam hari di sejumlah kawasan, seperti Jalan Panjaitan, Jalan Andalas, kawasan Pasar Sentral, dan Jalan Raden Saleh.
Menurut Indra, transaksi UMKM di sejumlah titik tersebut dapat mencapai Rp700 juta hingga Rp800 juta dalam satu malam.
“Per malam itu bisa sampai 700 sampai 800 juta. Per malam, itu transaksi,” ujarnya.
Dari Lapak Kopi ke Ekonomi Kota
Indra mengaitkan geliat perdagangan tersebut dengan kondisi ekonomi Kota Gorontalo. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2025 mencapai 6,2 persen, sementara capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) disebut mencapai 102 persen.
Bagi Indra, menjamurnya lapak kopi memperlihatkan satu hal: ketika ruang usaha dibuka, masyarakat memiliki keberanian untuk mengambil peluang.
Kopi kemudian mengambil tempat dalam perkembangan UMKM Kota Gorontalo. Dari lapak sederhana di sejumlah ruas jalan, usaha kopi menjadi bagian dari denyut ekonomi malam kota.
Namun, menurut Indra, tantangannya kini berubah. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat berani membuka usaha, melainkan bagaimana memastikan usaha yang sudah tumbuh dapat bertahan.
Pelaku UMKM perlu menjaga kualitas, membangun basis pelanggan, dan menciptakan produk yang memiliki ciri khas agar tidak berhenti sebagai tren sesaat.
Di tengah kebijakan membuka ruang usaha tersebut, “demam kopi” masih terasa di Kota Gorontalo. Lapak-lapak kopi terus menjadi bagian dari lanskap ekonomi malam.
Pertanyaannya kini bukan lagi berapa banyak kedai kopi yang bisa tumbuh, melainkan berapa banyak yang mampu bertahan, berkembang, dan menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.












