Hibata.id, Gorontalo – Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus pulang dengan wajah kecewa setelah menunggu sejak pagi di Kantor Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo, Kamis (6/8/2026).
Mereka berharap membawa pulang bantuan modal usaha, namun yang dibawa pulang justru kepastian bahwa bantuan belum bisa disalurkan karena alasan klasik.
Harapan yang sejak pagi mereka gantungkan berubah menjadi penantian panjang.
Setelah acara seremonial bersama Gubernur Gorontalo selesai, barulah diumumkan bahwa bantuan tidak dibagikan kepada seluruh penerima dan akan diantar ke rumah masing-masing pada waktu yang belum diumumkan.
Mengapa tak kecewa, sebelum pukul 08.00 Wita pagi, halaman kantor dinas sudah dipenuhi para pelaku UMKM.
Sebagian meninggalkan lapak dagangan, sebagian lagi menutup usahanya demi menghadiri penyaluran bantuan yang mereka yakini akan dilakukan hari itu.
Informasi yang diterima warga pun berubah-ubah. Dari pagi bergeser menjadi pukul 14.00 Wita.
Ketika pukul dua berlalu, kegiatan belum juga dimulai. Acara akhirnya berlangsung setelah salat Asar.
Yang mengejutkan, setelah penyerahan bantuan secara simbolis kepada sejumlah penerima dan gubernur bersama wakil gubernur meninggalkan lokasi, masyarakat justru diberi tahu bahwa bantuan belum bisa dibagikan kepada seluruh penerima.
Sebagai gantinya, bantuan disebut akan diantar langsung ke rumah masing-masing penerima.
Keputusan itu sontak memicu keluhan. Bukan semata karena bantuan belum diterima, melainkan karena informasi tersebut baru disampaikan setelah warga menghabiskan hampir seharian menunggu.
Salah seorang penerima bantuan, Nita Djako, warga Kelurahan Ipilo, mengatakan masyarakat sebenarnya tidak keberatan apabila penyaluran dilakukan secara bertahap.
Yang disesalkannya adalah informasi baru diberikan setelah acara seremonial selesai.
“Kalau memang sebagian dulu yang menerima, kami tidak masalah. Yang kami kecewakan, kenapa tidak disampaikan sejak awal saat gubernur dan wakil gubernur masih ada,” katanya.
Menurut Nita, alasan panitia yang menyebut informasi tidak diumumkan lebih awal karena khawatir masyarakat meninggalkan lokasi justru membuat penerima merasa tidak dihargai.
“Masyarakat jangan dibuat bodoh. Alasannya tidak masuk akal. Kami sudah datang dari pagi,” ujarnya.
Ia mengaku tiba di lokasi sebelum pukul 08.00 Wita. Setelah itu warga diberi tahu kegiatan dimulai pukul 14.00 Wita.
Kenyataannya, acara baru berlangsung selepas Asar sehingga mereka harus bolak-balik menuju lokasi.
“Kami datang dari pagi. Dibilang jam dua. Setelah Asar baru mulai. Kami sampai dua kali bolak-balik,” katanya.
Meski kecewa, Nita mengaku tetap bersyukur menjadi salah satu penerima bantuan karena modal tersebut dibutuhkan untuk mengembangkan usaha.
Namun menurutnya, rasa syukur tidak seharusnya menghapus hak masyarakat memperoleh pelayanan yang pasti dan informasi yang jelas.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka, mengatakan bantuan belum dapat diserahkan karena proses penyusunan surat pertanggungjawaban (SPJ) oleh pendamping penyalur masih berlangsung.
Menurut dia, bantuan nantinya akan diantar langsung ke rumah penerima.
Pendamping juga akan mendokumentasikan penerima bersama bantuan dan lokasi usaha sebagai bagian dari administrasi program.
Penjelasan tersebut menjawab alasan administratif di balik penundaan penyaluran. Namun, bagi para pelaku UMKM, persoalan utama bukan hanya kapan bantuan diterima.
Mereka mempertanyakan mengapa ratusan penerima tetap diminta datang sejak pagi apabila mekanisme penyaluran memang dilakukan dari rumah ke rumah.
Bagi sebagian pelaku usaha, waktu yang habis untuk menunggu bukan sekadar hitungan jam. Ada lapak yang tidak dibuka, pelanggan yang terlewat, dan penghasilan harian yang ikut hilang.
Kini, perhatian masyarakat bukan lagi pada seremoni penyerahan simbolis, melainkan pada kepastian kapan bantuan benar-benar tiba di tangan penerima.
Sebab bagi pelaku UMKM, kepastian sering kali lebih bernilai daripada sekadar seremoni.
Di atas panggung, bantuan memang telah diserahkan secara simbolis.
Namun di halaman kantor, ratusan penerima justru membawa pulang satu hal yang sama: rasa kecewa setelah menunggu seharian tanpa membawa bantuan yang dijanjikan.












