Kabar

Karawo Tak Boleh Putus di Satu Generasi, Sultan Kalupe Titip Pesan di GKK 2026

×

Karawo Tak Boleh Putus di Satu Generasi, Sultan Kalupe Titip Pesan di GKK 2026

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe/Hibata.id
Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Satu tusukan benang mungkin terlihat sederhana. Namun, dari tangan generasi muda Gorontalo, tusukan itu diharapkan menjadi jalan panjang untuk menjaga Karawo tetap hidup, berkembang, dan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

Pesan itulah yang mengemuka dalam rangkaian Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 dan Gorontalo Art & Craft Festival (Harfest) 2026.

Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe menilai masa depan Karawo tidak cukup dijaga melalui panggung, pameran, atau karnaval.

Menurut dia, Karawo membutuhkan generasi penerus yang mengenal prosesnya, memahami nilainya, dan memiliki keinginan untuk mengembangkannya.

“Karawo ini bukan hanya milik generasi sekarang. Kita harus memastikan anak-anak kita mengenalnya, mau belajar, kemudian suatu saat mampu mengembangkan dan meneruskannya,” kata Sultan.

Semangat regenerasi itu terlihat dalam Mo Karawo Kolosal, salah satu kegiatan yang mempertemukan ratusan pelajar dengan pengrajin Karawo.

Anak-anak tidak sekadar melihat kain Karawo yang sudah jadi. Mereka mendapat kesempatan mengenal dan belajar langsung teknik menyulam warisan khas Gorontalo tersebut.

Bagi Sultan, pertemuan antara pengrajin dan pelajar memiliki makna lebih besar daripada sekadar belajar menyulam.

Baca Juga:  PMII Bongkar Praktik Pengecer Gas Elpiji Ilegal di Pohuwato

Anak-anak yang hari ini memegang jarum dan benang mungkin belum berpikir menjadi pengrajin. Namun, pengalaman pertama mengenal Karawo bisa menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap budaya daerahnya.

“Yang kita tanam hari ini adalah pengetahuan dan kecintaan. Kalau anak-anak sudah mengenal Karawo sejak dini, kita punya harapan bahwa budaya ini akan tetap hidup di tangan mereka,” ujarnya.

Karawo Butuh Penerus

Sultan tidak ingin semangat mengenalkan Karawo kepada generasi muda hanya muncul ketika festival berlangsung.

Ia berharap regenerasi berjalan berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, komunitas, pengrajin, desainer hingga pelaku usaha.

Sebab, menjaga Karawo bukan hanya perkara mempertahankan sebuah kain tradisional.

Di balik setiap sulaman terdapat pengetahuan dan keterampilan yang membutuhkan proses untuk diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semakin dini anak-anak mengenal Karawo, semakin terbuka pula peluang lahirnya generasi baru yang mampu membawa kerajinan tersebut mengikuti perkembangan zaman.

Perhatian terhadap regenerasi Karawo juga disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Bambang Satya Permana.

Ia melihat Mo Karawo Kolosal sebagai gambaran bahwa ketertarikan terhadap Karawo masih tumbuh di kalangan generasi muda.

Baca Juga:  IMM Pohuwato Soroti Ketidakhadiran Pani Gold Project di RDP

“Ini membuktikan bahwa generasi muda kita, anak-anak mulai dari SD sampai SMP dan SMA, sudah terus mau melestarikan dan belajar bagaimana membuat Karawo,” kata Bambang.

Keterlibatan pelajar tersebut menjadi penting karena keberlanjutan Karawo pada akhirnya bergantung pada hadirnya orang-orang yang mau mengenal, mempelajari, dan meneruskannya.

Tak Cukup Jadi Warisan, Karawo Harus Punya Masa Depan

Karawo juga memiliki ruang berkembang lebih jauh dari sekadar produk budaya.

Rangkaian GKK dan Harfest 2026 memperlihatkan bagaimana sulaman khas Gorontalo dapat bertemu dengan fesyen, desain, UMKM hingga berbagai inovasi ekonomi kreatif.

Sultan menilai perkembangan tersebut perlu terus didorong tanpa melepaskan Karawo dari akar budayanya.

Di titik inilah generasi muda dinilai memiliki peran strategis.

Mereka dapat mempelajari teknik dan nilai tradisional Karawo, lalu membawanya ke dalam bahasa kreativitas generasi baru melalui fesyen, desain, teknologi maupun produk industri kreatif.

“Jangan sampai Karawo hanya kita kenang sebagai warisan masa lalu. Karawo harus menjadi inspirasi untuk menciptakan karya baru dan peluang baru bagi generasi muda,” kata Sultan.

Baca Juga:  PETI Balayo Makin Ganas, Alat Berat Beroperasi di Lahan Eks Kuburan

Dengan pendekatan tersebut, regenerasi tidak hanya melahirkan calon pengrajin.

Karawo juga berpeluang melahirkan desainer, kreator, pelaku UMKM hingga wirausaha muda yang menjadikan budaya Gorontalo sebagai sumber kreativitas.

Sultan optimistis ekosistem Karawo akan semakin kuat apabila semakin banyak pihak terlibat dalam proses regenerasi.

Sekolah dapat menjadi ruang pengenalan. Pengrajin menjadi penjaga keterampilan.

Desainer dan pelaku usaha membuka ruang inovasi, sementara generasi muda menjadi penerus yang menentukan ke mana Karawo akan berkembang.

Pada akhirnya, pesan GKK dan Harfest 2026 bukan semata tentang bagaimana Karawo ditampilkan hari ini, melainkan tentang siapa yang akan menjaganya esok hari.

“Kalau hari ini anak-anak kita belajar satu tusukan Karawo, mungkin kelihatannya sederhana. Tetapi dari satu tusukan itu bisa tumbuh kecintaan, dari kecintaan lahir kreativitas, dan dari kreativitas bisa lahir masa depan Karawo,” ujar Sultan.

Dari satu tusukan itulah harapan tersebut dimulai: Karawo tidak sekadar diwariskan, tetapi terus diciptakan kembali oleh generasi berikutnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel