Hibata.id, Gorontalo – Upaya menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian lingkungan pesisir terus diperkuat melalui pendekatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor.
Di tengah meningkatnya tantangan ekologi pesisir dan perubahan iklim, mahasiswa didorong mengambil peran aktif dalam upaya konservasi mangrove di Gorontalo.
Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Mangrove Goes to Campus bertema “Pengelolaan Literasi, Kolaborasi, dan Aksi Konservasi Mangrove untuk Ekologi Pesisir Gorontalo yang Berkelanjutan” yang digelar di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Senin.
Kegiatan itu mempertemukan mahasiswa, akademisi, pemerintah, komunitas lingkungan, hingga pegiat konservasi untuk memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA, Lilan Dama, mengatakan kampus memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
“Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang membangun kesadaran dan aksi nyata menjaga lingkungan,” kata Lilan saat membuka kegiatan tersebut.
Menurut dia, pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu serta kerja sama lintas sektor agar langkah konservasi berjalan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala BPDAS Bone Limboto Kementerian Kehutanan, Bontor Lumbantobing, menilai generasi muda menjadi elemen penting dalam menjaga masa depan ekosistem mangrove.
Ia menegaskan upaya konservasi tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
“Konservasi mangrove bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Diperlukan keterlibatan semua pihak, termasuk mahasiswa dan perguruan tinggi,” katanya.
Forum tersebut tidak hanya menghadirkan seminar dan penyampaian materi, tetapi juga sesi literasi mangrove, berbagi pengalaman lapangan, serta penguatan jejaring kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai gagasan mengenai tantangan lingkungan pesisir, strategi konservasi, hingga peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Mangrove menjadi fokus utama karena memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan pesisir. Selain membantu melindungi garis pantai dari abrasi dan meredam energi gelombang, ekosistem ini juga menjadi habitat berbagai biota laut, penyerap karbon alami, serta penyangga keseimbangan lingkungan.
Bagi masyarakat Gorontalo yang banyak beraktivitas di wilayah pesisir, keberadaan mangrove juga berhubungan langsung dengan keberlangsungan ekonomi, khususnya sektor perikanan dan kehidupan nelayan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong mengambil langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Pelestarian mangrove dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung masa depan kawasan pantai Gorontalo yang berkelanjutan.













