Kabar

Ultimatum ke Pani Gold Project, RADO: Jangan Sampai Insiden 21 September Terulang

×

Ultimatum ke Pani Gold Project, RADO: Jangan Sampai Insiden 21 September Terulang

Sebarkan artikel ini
Aliansi Rakyat Donggala (RADO) Pohuwato saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pani Gold Project. (Foto: Dok. Istw Hibata.id)
Aliansi Rakyat Donggala (RADO) Pohuwato saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pani Gold Project. (Foto: Dok. Istw Hibata.id)

Hibata.id –  Aliansi Rakyat Anti Dominasi Oligarki (RADO) kembali melayangkan peringatan tegas kepada perusahaan tambang emas Pani Gold Project (PGP). RADO menyebut ketidakjelasan penyelesaian ganti rugi lahan—atau yang mereka sebut tali asih—berpotensi memicu konflik sosial yang lebih besar.

“Jangan main-main dengan nasib rakyat Pohuwato. Jika hak-hak kami terus diabaikan, insiden 21 September bisa terulang dalam skala yang lebih besar, lebih panas, dan lebih brutal,” ujar salah satu orator aksi.

RADO menilai perusahaan terkesan abai terhadap desakan masyarakat. Salah satu yang menjadi sorotan tajam adalah ketertutupan perusahaan terhadap dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Baca Juga:  Ketua IMM Ditangkap, Kapolda Gorontalo Dinilai Tak Becus Urus Anggota

“Kalau memang AMDAL itu ada, buka ke publik! Jangan disembunyikan. Rakyat berhak tahu, ini bukan proyek diam-diam,” tegas perwakilan RADO dalam orasinya.

Aliansi juga menuduh perusahaan memainkan strategi administratif untuk menghindari kewajiban membayar ganti rugi. Massa menuntut agar lahan dengan dokumen lengkap segera dibayar tanpa digabung dengan kasus lahan yang statusnya belum final.

Baca Juga:  RADO Sindir Polres Pohuwato: “Ganti Nama Saja Jadi Polres Pani Gold Project”

“Kalau dokumennya sudah lengkap, kenapa tidak dibayar? Jangan samakan dengan yang belum lengkap. Itu akal-akalan, bentuk permainan licik,” katanya.

Nada ancaman yang dilontarkan RADO tak bisa dianggap enteng. Mereka merujuk pada peristiwa 21 September 2023, saat amarah warga meledak dalam aksi massa besar-besaran yang menyebabkan ketegangan antara warga dan aparat meningkat tajam.

“Kami tidak ingin peristiwa itu terulang. Tapi kalau perusahaan terus menutup mata dan telinga, jangan salahkan rakyat jika jalanan kembali memanas,” ujar Mahmudin Mahmud, Koordinator Lapangan RADO.

Baca Juga:  PETI Dulupi Terus Beroperasi Meski Sudah Makan Korban, Penindakan APH Dipertanyakan

Aliansi menegaskan, perjuangan mereka bukan bentuk anti-investasi, melainkan penuntutan hak konstitusional rakyat atas tanah leluhur mereka. Selama belum ada itikad baik dari perusahaan, RADO menyatakan akan terus turun ke jalan.

“Tanah Pohuwato bukan untuk dijajah. Selama hak kami belum dibayar tunai, kami tidak akan berhenti,” tutup Mahmudin.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel