Hibata.id, Gorontalo – Suasana Provinsi Gorontalo semakin ramai menjelang pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang akan digelar di Kabupaten Gorontalo.
Lima hari sebelum acara dimulai, tingkat hunian hotel dilaporkan telah mencapai sekitar 85 persen.
Lonjakan okupansi tersebut dipicu oleh mulai berdatangannya peserta, pendamping, tamu undangan, hingga wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Tidak hanya menghadiri agenda nasional sektor pertanian dan perikanan, banyak pengunjung juga memanfaatkan momentum ini untuk menjelajahi destinasi wisata dan berburu kuliner khas Gorontalo.
Bagi peserta PENAS XVII yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Gorontalo, mencicipi makanan tradisional daerah menjadi pengalaman yang sayang untuk dilewatkan.
Daerah yang berada di Teluk Tomini ini dikenal memiliki kekayaan kuliner berbasis hasil laut dan pertanian yang telah diwariskan turun-temurun.
Mulai dari sup jagung legendaris Binte Biluhuta hingga sate tuna segar hasil tangkapan nelayan lokal, setiap hidangan menyimpan cerita sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Gorontalo.
Berikut tujuh kuliner khas Gorontalo yang wajib masuk daftar buruan peserta PENAS XVII dan wisatawan.
1. Binte Biluhuta, Kuliner Warisan Budaya yang Mendunia
Jika hanya punya waktu mencoba satu makanan khas Gorontalo, maka Binte Biluhuta adalah jawabannya.
Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Milu Siram, yakni sajian sup jagung yang dipadukan dengan ikan segar, udang, kelapa parut, dan rempah pilihan. Perpaduan rasa manis, gurih, pedas, dan segar menjadikan makanan ini memiliki karakter yang sulit ditemukan di daerah lain.
Binte Biluhuta bukan sekadar makanan. Kuliner ini telah menjadi bagian sejarah panjang Gorontalo sejak masa kerajaan dan pada tahun 2016 resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
2. Sate Tuna, Favorit Wisatawan di Kawasan Pesisir

Gorontalo dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tuna berkualitas di Indonesia.
Karena itu, jangan heran jika sate tuna menjadi salah satu menu yang paling banyak dicari wisatawan. Daging tuna segar yang dibakar dengan bumbu khas menghasilkan cita rasa gurih alami dengan tekstur yang lembut.
Sajian ini banyak ditemukan di kawasan pesisir dan menjadi teman terbaik menikmati senja di tepi laut Gorontalo.
3. Ilabulo, Makanan Tradisional yang Sulit Ditemukan di Daerah Lain
Bentuknya sederhana, tetapi rasanya mampu membuat banyak orang ketagihan.
Ilabulo dibuat dari campuran hati ayam, ampela, kulit ayam, sagu, serta rempah-rempah pilihan yang dibungkus daun pisang sebelum dikukus atau dibakar.
Aroma daun pisang yang berpadu dengan bumbu khas menciptakan sensasi rasa gurih yang menjadi ciri khas kuliner tradisional Gorontalo.
4. Bilentango, Olahan Ikan Mujair dengan Bumbu Khas Gorontalo
Pecinta seafood wajib mencoba Bilentango.
Makanan ini menggunakan ikan mujair yang dibumbui dengan kemiri, bawang merah, tomat, cabai, dan berbagai rempah lokal sebelum dibakar hingga matang sempurna.
Biasanya Bilentango disajikan bersama nasi hangat, kemangi, dan sambal roa yang membuat cita rasanya semakin kaya.
5. Sayur Putungo, Menu Tradisional yang Mulai Langka

Di tengah maraknya makanan modern, Sayur Putungo tetap bertahan sebagai salah satu warisan kuliner masyarakat Gorontalo.
Bahan utamanya adalah jantung pisang yang dimasak bersama ikan dan aneka rempah lokal. Rasanya ringan, segar, dan cocok disantap kapan saja.
Banyak warga lokal menganggap Sayur Putungo sebagai menu rumahan yang sarat nilai tradisi.
6. Kue Karawo, Oleh-oleh Unik Terinspirasi Budaya Gorontalo
Karawo selama ini dikenal sebagai seni sulam khas Gorontalo yang mendunia.
Keunikan tersebut kemudian menginspirasi lahirnya Kue Karawo, yakni kue kering dengan motif menyerupai sulaman Karawo.
Selain memiliki tampilan menarik, kue ini juga menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan yang berkunjung ke Gorontalo.
7. Tili Aya, Kelezatan Tradisional yang Selalu Dicari Saat Ramadan
Tili Aya merupakan salah satu kudapan tradisional paling populer di Gorontalo.
Kue berbahan dasar gula merah, telur, dan santan ini memiliki tekstur lembut menyerupai puding dengan rasa manis yang pas.
Masyarakat biasanya menyajikan Tili Aya saat berbuka puasa, acara keluarga, hingga perayaan adat.
Pegiat kuliner tradisional Gorontalo, Adam, mengatakan makanan khas daerah bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat.
“Setiap makanan khas Gorontalo punya nilai historis dan filosofis. Ini bagian dari warisan budaya yang perlu terus kita lestarikan,” kata Adam.
Menurutnya, kuliner Gorontalo tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir dan agraris yang memanfaatkan kekayaan laut serta hasil pertanian sebagai bahan utama berbagai hidangan tradisional.
Momentum PENAS XVII menjadi kesempatan besar untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Gorontalo kepada ribuan tamu dari seluruh Indonesia.
Selain menikmati agenda nasional, para peserta juga dapat membawa pulang pengalaman rasa yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Gorontalo.












