Hibata.Id — Longsor susulan di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, menimbun lima penambang pada Rabu malam, 12 Agustus 2026. Empat korban merupakan warga Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo.
Keempat korban dari Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, masing-masing Miman Ibura, 23 tahun; Pandra Galiu, 27 tahun; Sandi Bilondatu, 24 tahun, yang tercatat sebagai mahasiswa; serta Fiki Larama, 26 tahun. Satu korban lainnya, Andi Otoluwa, merupakan warga Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
Peristiwa itu terjadi ketika para korban bersama puluhan penambang lain tengah mencari emas secara manual di kawasan tambang DAM. Sebelum longsor kedua terjadi, para penambang disebut telah melihat tanda-tanda pergerakan tanah di lokasi.
Longsor pertama terjadi pada Rabu sore. Setelah pergerakan tanah dinilai berhenti, aktivitas penambangan kembali dilanjutkan. Para penambang menyusuri kawasan tersebut untuk mencari material yang diduga mengandung emas.
Sekitar pukul 19.00 WITA, tanah kembali bergerak. Longsor susulan kemudian menimbun sejumlah penambang yang masih berada di lokasi.
Warga dan penambang lain yang berada di sekitar lokasi segera melakukan evakuasi. Para korban berhasil dikeluarkan dari timbunan sebelum dibawa ke RSUD Bumi Panua Pohuwato sekitar pukul 03.30 WITA.
Setelah mendapat penanganan, korban kemudian dijemput keluarga masing-masing dan dibawa ke rumah duka di Kabupaten Boalemo. Empat korban asal Desa Bendungan dimakamkan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kepala Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Mus Yasin, membenarkan empat warganya menjadi korban longsor di kawasan tambang DAM Pohuwato.
Saat ditemui seusai prosesi pemakaman di Kantor Desa Bendungan, Mus mengatakan keempat korban selama ini bekerja sebagai penambang emas secara manual atau kabilasa.
“Memang mereka bekerja sebagai penambang kabilasa. Setelah longsor pertama berhenti, mereka kembali beraktivitas. Kemudian sekitar pukul 19.00 WITA terjadi longsor susulan dan mereka tertimbun,” ujar Mus Yasin.
Menurut Mus, proses evakuasi dilakukan warga bersama para penambang yang berada di sekitar lokasi. Setelah berhasil dikeluarkan dari timbunan, para korban dibawa ke RSUD Bumi Panua untuk mendapatkan penanganan.
Peristiwa ini kembali menunjukkan besarnya risiko keselamatan di kawasan pertambangan yang rawan longsor. Tanda-tanda pergerakan tanah yang sempat terlihat sebelum kejadian belum menghentikan aktivitas penambangan hingga longsor susulan terjadi.
Hingga berita ini diterbitkan, informasi mengenai kondisi serta identitas lengkap seluruh korban masih dalam pendataan.












