Wisata

Pakaian Adat Gorontalo Tak Sekadar Busana, Ini Makna Bili’u dan Makuta

×

Pakaian Adat Gorontalo Tak Sekadar Busana, Ini Makna Bili’u dan Makuta

Sebarkan artikel ini
Nou dan Uti, dua mempelai mengikuti prosesi modelo atau membawa pengantin ke kediaman mempelai pria setelah selesai akad nikah pada pernikahan adat Gorontalo/Hibata.id
Nou dan Uti, dua mempelai mengikuti prosesi modelo atau membawa pengantin ke kediaman mempelai pria setelah selesai akad nikah pada pernikahan adat Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Pakaian adat Gorontalo bukan sekadar busana yang dikenakan dalam pernikahan atau upacara adat. Warna, bentuk, motif, hingga aksesori yang melekat di dalamnya menyimpan simbol tentang keberanian, kemuliaan, kerukunan, kewibawaan, tanggung jawab, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.

Makna tersebut terungkap dalam penelitian “Simbolisme dan Makna Filosofis dalam Pakaian Adat Suku Hulontalo” yang mengkaji pakaian adat pernikahan masyarakat Gorontalo, khususnya Bili’u untuk pengantin perempuan dan Makuta atau Paluwala untuk pengantin laki-laki.

Penelitian itu menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan pada 12 November 2024 di Anjungan Gorontalo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dengan narasumber sekaligus pemandu Anjungan Gorontalo.

Dalam kajian tersebut, pakaian adat Gorontalo disebut sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus media untuk menyampaikan nilai sosial dan moral yang diwariskan antargenerasi.

Warna, bentuk dan aksesori pada pakaian adat tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga memiliki makna simbolis.

Bili’u dan simbol perempuan

Salah satu pakaian yang menjadi perhatian dalam penelitian tersebut adalah Bili’u, yakni pakaian adat yang dikenakan perempuan Gorontalo dalam prosesi pernikahan.

Baca Juga:  Air Terjun Sinambo, Surga Tersembunyi di Ujung Bone Bolango

Nama Bili’u disebut berasal dari istilah bilowato yang berarti “yang diangkat”. Makna tersebut berkaitan dengan perubahan status seorang perempuan menjadi pengantin sekaligus ratu rumah tangga.

Karena itu, perempuan yang mengenakan Bili’u diharapkan menunjukkan sikap dan perilaku yang baik serta santun.

Bili’u dalam kajian tersebut tidak hanya dipandang sebagai pakaian untuk memperindah penampilan, tetapi juga menjadi simbol tanggung jawab sosial yang melekat pada seorang perempuan dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Penelitian itu juga menguraikan makna sejumlah warna yang digunakan dalam pakaian adat Gorontalo.

Merah dimaknai sebagai keberanian dan tanggung jawab. Kuning melambangkan kemuliaan dan kejujuran. Hijau berkaitan dengan kesuburan, kesejahteraan, kedamaian dan kerukunan. Sementara ungu melambangkan keteguhan, kesetiaan dan kewibawaan.

Makna empat warna tersebut juga disebut berkaitan dengan Tilabataila, yang dikenal dalam konteks pakaian adat pernikahan Gorontalo.

Makuta Simbol Ketuhanan

Makna filosofis tidak hanya terdapat pada pakaian pengantin perempuan.

Baca Juga:  Pulau Diyonumo, Hidden Gem di Gorontalo Utara yang Bikin Healing Maksimal

Penelitian tersebut juga membahas Makuta, pakaian adat pengantin laki-laki yang disebut pula Paluwala. Nama Makuta dikaitkan dengan kata “mahkota” dan memiliki hubungan dengan status serta kekuasaan.

Salah satu bagian yang mencolok adalah tudung Makuta atau layi. Bentuknya menjulang ke atas dan menyerupai bulu unggas.

Dalam penelitian tersebut, bentuk layi juga disebut menyerupai huruf Alif yang dimaknai sebagai simbol keesaan Tuhan.

Makna itu kemudian dikaitkan dengan kepemimpinan. Kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin diingatkan sebagai amanah dari Tuhan.

Pada bagian layi terdapat pula lima helai daun emas. Dalam kajian tersebut, kelima daun itu dimaknai sebagai lima tema penting dalam kehidupan adat masyarakat Gorontalo, yakni adat, agama, budaya, sosial dan politik.

Selain itu, terdapat bintang kecil yang dimaknai sebagai simbol delapan kerajaan inti di Gorontalo.

Sementara itu, hiasan mata pada bagian depan dimaknai sebagai pengingat agar pemakainya senantiasa memperhatikan rakyat.

Baca Juga:  Menikmati Keindahan Air Terjun Kali, Destinasi Wisata Alam di Minahasa

Warna dan ornamen

Penelitian tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa pakaian adat Suku Hulontalo merupakan bagian dari sistem nilai masyarakat Gorontalo.

Warna, motif, bahan dan aksesori tidak hanya memperkuat tampilan pakaian, tetapi juga membawa pesan mengenai karakter, tanggung jawab sosial, hubungan keluarga, nilai religius dan identitas budaya.

Dokumen penelitian itu juga mencatat makna warna dalam konteks yang lebih luas. Merah dikaitkan dengan keberanian, kuning dengan kemuliaan, hijau dengan kerukunan, sedangkan ungu dengan keanggunan dan kewibawaan.

Dengan demikian, pakaian adat Gorontalo tidak hanya berbicara tentang penampilan seseorang ketika mengenakannya.

Di balik setiap warna dan ornamen terdapat pesan mengenai bagaimana seseorang diharapkan bersikap dalam keluarga, masyarakat, lingkungan adat dan kehidupan spiritual.

Memahami pakaian adat Gorontalo pun tidak berhenti pada mengenali bentuk dan warnanya. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Hulontalo dan diwariskan dari generasi ke generasi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel