Hibata.id – Prevalensi stunting di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara, turun signifikan dalam lima tahun terakhir hingga mencapai 13,2 persen pada 2025.
Meski menunjukkan kemajuan, tiga kecamatan masih menjadi prioritas percepatan intervensi, yakni Sangiawambulu, Mawasangka Timur, dan Talaga Raya.
Penurunan tersebut dipaparkan Dinas Kesehatan Buton Tengah dalam kegiatan diseminasi dan publikasi data stunting yang berlangsung pada Jumat (21/11/2025).
Pertemuan itu membahas evaluasi pelaksanaan intervensi selama satu tahun terakhir sekaligus merumuskan langkah lanjutan untuk mempercepat penurunan kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Buton Tengah, Kasman, menyampaikan bahwa tren penurunan prevalensi menunjukkan hasil positif dibanding lima tahun sebelumnya. Pada 2021, prevalensi stunting masih berada di angka 23 persen.
“Untuk saat ini kita berada di angka 13,2 persen. Itu merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan data,” ujar Kasman dalam paparannya.
Ia menambahkan tren positif bahkan sempat menunjukkan capaian lebih baik. Pada periode Februari hingga Agustus 2025, angka stunting berada pada kisaran 11 persen, namun fluktuasi bulanan membuat perhitungan akurasi harus menggunakan nilai rata-rata.
“Kalau kita ingin jujur, sepanjang Februari hingga Agustus itu stabil di angka 11 persen. Tapi setiap bulan bisa berubah, sehingga kita gunakan nilai rata-rata untuk pelaporan,” jelasnya.
Kasman menegaskan bahwa kehadiran kelompok sasaran—mulai dari ibu hamil, balita, hingga remaja putri—memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan intervensi.

Ia mendorong peningkatan partisipasi untuk mengikuti program secara konsisten sepanjang tahun.
“Sebenarnya tidak sulit. Hadirkan semua sasaran, bukan hanya maksimal Februari sampai Agustus. Bila Januari sampai Desember bisa diikuti, maka tingkat partisipasi dapat mencapai minimal 95 persen,” harapnya.
Dinkes Buteng tahun ini menargetkan optimalisasi 11 program intervensi spesifik dan sensitif meliputi skrining anemia, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, pemeriksaan kehamilan berkala, konsumsi TTD/MMS bagi ibu hamil, serta pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK).
Untuk balita, intervensi mencakup pemantauan tumbuh kembang, ASI eksklusif, MPASI kaya protein hewani, tata laksana balita bermasalah gizi, dan peningkatan cakupan imunisasi.
Data Perkembangan Prevalensi Stunting Buton Tengah (e-PPGBM 2021–2025)
| Tahun | Data Ukur | Jumlah Stunting | Persentase |
|---|---|---|---|
| 2021 | 6.927 | 1.621 | 23,5% |
| 2022 | 8.091 | 1.803 | 22,4% |
| 2023 | 8.699 | 1.369 | 15,7% |
| 2024 | 9.726 | 1.400 | 14,4% |
| 2025 | 8.914 | 1.173 | 13,2% |















