Hibata.id, Jakarta – Dewan Energi Nasional (DEN) mengapresiasi langkah PT PLN Nusantara Power dalam mengembangkan kawasan pembangkit energi bersih berbasis hybrid di Cirata, Jawa Barat.
Pengembangan ini mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung.
Anggota DEN unsur pemangku kepentingan bidang industri, Sripeni Inten Cahyani, menilai pengembangan energi hybrid di Cirata menjadi bukti konkret transformasi sektor ketenagalistrikan nasional menuju sistem energi yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan.
“Setelah meninjau langsung PLTS Terapung Cirata, kami melihat proyek ini menjadi contoh nyata pengembangan energi baru terbarukan yang strategis bagi Indonesia,” kata Sripeni dalam keterangan di Cirata, Kamis.
Kawasan pembangkit Cirata saat ini menggabungkan PLTA Cirata berkapasitas 1.008 megawatt (MW) dengan PLTS Terapung Cirata berkapasitas 192 megawatt peak (MWp). Kombinasi ini menjadikan Cirata sebagai salah satu pusat pembangkit energi bersih terbesar di Indonesia.
PLTA Cirata selama ini menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik hijau nasional. Sementara itu, PLTS Terapung Cirata yang mulai beroperasi sejak November 2023 tercatat sebagai salah satu proyek pembangkit surya terapung terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Sripeni, model integrasi pembangkit tersebut memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target peningkatan bauran energi baru terbarukan.
Namun, operasional PLTS Terapung Cirata saat ini menghadapi tantangan teknis pada komponen unit pengapung atau floater akibat pengaruh biota air endemik di area waduk.

Operator PLTS Terapung Cirata, Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energy (PMSE), saat ini melakukan penggantian komponen pengapung secara bertahap dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026.
“PLTS Terapung Cirata tetap beroperasi normal. Respons cepat operator dalam menangani tantangan teknis ini patut diapresiasi. Pengalaman ini juga dapat menjadi bahan kajian akademik untuk pengembangan PLTS terapung di lokasi lain,” ujar dia.
Direktur Operasi Pembangkit Gas PLN Nusantara Power, Komang Parmita, mengatakan pengembangan kawasan pembangkit hybrid Cirata menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung percepatan transisi energi nasional.
Menurut dia, pemanfaatan waduk eksisting untuk pengembangan PLTS terapung menjadi solusi inovatif karena mampu menghasilkan energi bersih tanpa memerlukan pembukaan lahan baru dalam skala besar.
“Cirata menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas besar dalam pengembangan energi bersih berbasis inovasi dan kolaborasi. Model ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan proyek serupa di masa mendatang,” katanya.
Selain menghasilkan listrik ramah lingkungan, proyek PLTS Terapung Cirata juga dinilai menjadi tonggak penting pengembangan energi surya skala besar berbasis perairan di Indonesia.
Melalui pengoperasian pembangkit hybrid tersebut, PLN Nusantara Power menegaskan komitmennya dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional sekaligus mempercepat pencapaian target emisi nol bersih atau net zero emission.














