Lingkungan

Tambang Ilegal di Pohuwato Picu Krisis Air Irigasi, Petani Terus Merugi

×

Tambang Ilegal di Pohuwato Picu Krisis Air Irigasi, Petani Terus Merugi

Sebarkan artikel ini
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. (Foto: Warga/Ditingkatkan dengan Ai/Hibata.id
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. (Foto: Warga/Ditingkatkan dengan Ai/Hibata.id

Hibata.id, Pohuwato Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, terus menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan sektor pertanian warga.

Aktivitas PETI yang sebelumnya dilakukan secara tradisional kini berkembang menjadi operasi berskala besar dengan penggunaan alat berat di sejumlah kawasan hulu.

Di wilayah perbukitan yang selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air, puluhan ekskavator dilaporkan beroperasi hampir setiap hari.

Pembukaan lahan, pengerukan tanah, dan perubahan bentang alam mempercepat penurunan kualitas lingkungan.

Aktivitas tersebut juga dilaporkan merambah kawasan Cagar Alam Panua. Salah satu kawasan konservasi penting di Gorontalo yang menjadi habitat satwa endemik, termasuk burung maleo dan rangkong.

Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan di kawasan konservasi.

Warga di Kecamatan Duhiadaa, khususnya para petani, mulai menghadapi penurunan produktivitas pertanian akibat perubahan kualitas air irigasi.

Baca Juga:  Aktivitas PETI Hulawa Berdampak Buruk ke Petani Sawah di Duhiadaa

Sawah yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga kini menghadapi tekanan akibat sedimentasi yang terbawa dari kawasan hulu.

Darwin Djafar, petani di Pohuwato yang kerap merugi akibat saluran irigasi yang terganggu sedimentasi. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia.
Darwin Djafar, petani di Pohuwato yang kerap merugi akibat saluran irigasi yang terganggu sedimentasi. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, petani mengaku mengalami gagal panen berulang. Mereka menilai kondisi tersebut bukan lagi kejadian sesaat, melainkan pola yang terus terjadi setiap musim tanam.

Air irigasi yang sebelumnya jernih kini berubah keruh dan membawa lumpur serta endapan tanah dalam jumlah besar.

Salah seorang petani, Darwin Djafar, mengatakan perubahan kondisi lingkungan mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu kami tidak pernah khawatir soal air. Air selalu tersedia, bersih, dan cukup untuk semua petani. Sekarang, setiap hujan turun, air langsung berubah warna seperti bercampur lumpur tebal,” kata Darwin saat ditemui di area persawahan, Jumat (25/4/2026).

Baca Juga:  Deru Excavator PETI Pohuwato, Polisi Temukan Anak Jadi Pekerja Ilegal

Menurut dia, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil panen. Tanaman padi yang baru ditanam kerap rusak akibat lapisan lumpur yang menutup permukaan tanah.

“Dulu satu pantango sawah bisa menghasilkan sekitar 30 karung gabah. Sekarang hanya sekitar 15 karung,” katanya.

Ia menjelaskan satu pantango setara dengan seperempat hektare lahan sawah.

Darwin menilai penurunan hasil panen terjadi seiring meningkatnya aktivitas pertambangan di kawasan hulu yang mempercepat erosi tanah.

“Kalau hujan di atas, semua material turun ke sini. Lumpur masuk ke saluran lalu ke sawah. Kami yang berada di bawah yang menerima dampaknya,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Suproto Djafar. Ia mengatakan sedimentasi membuat kapasitas saluran irigasi terus menurun.

Baca Juga:  Aktivis Soroti Kerusakan Lingkungan dan Kebijakan Investasi Tambang di Pohuwato

“Saluran sekarang semakin dangkal. Dulu bisa menampung debit air besar, sekarang cepat penuh lumpur. Saat hujan deras, air langsung meluap ke sawah,” ujarnya.

Menurut Suproto, kondisi tersebut membuat petani menghadapi ketidakpastian setiap musim tanam. Sebagian petani mulai menunda penanaman karena khawatir mengalami kerugian berulang.

“Biaya tanam tidak sedikit. Kalau sudah beberapa kali gagal, petani tentu mulai berpikir ulang untuk menanam lagi,” katanya.

Kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan ilegal dinilai tidak hanya mengancam ekosistem kawasan hulu, tetapi juga berpotensi melemahkan ketahanan pangan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel