Hibata.id, Gorontalo – Kalau ada tim yang hobi membuat pendukungnya lupa cara bernapas selama 90 menit, Inggris layak masuk daftar teratas.
Skuad asuhan Thomas Tuchel tidak pernah benar-benar menang dengan santai sepanjang fase gugur.
Republik Demokratik Kongo sempat membuat Inggris kerepotan, Meksiko hampir memupus harapan mereka, lalu Norwegia memaksa laga hingga perpanjangan waktu.
Namun ada satu kesamaan dari semua pertandingan itu. Inggris selalu menemukan cara untuk menang.
Mental bertanding itu menjadi alarm pertama bagi Argentina. Alarm kedua bernama Harry Kane.
Striker Bayern Muenchen itu sudah mencetak enam gol sepanjang turnamen. Di belakangnya berdiri Jude Bellingham dengan koleksi gol yang sama.
Artinya, dua pemain tersebut menyumbang 12 dari 13 gol Inggris di Piala Dunia 2026.
Lebih mengkhawatirkan lagi bagi Argentina, Bellingham sedang berada dalam performa terbaiknya setelah mencetak empat gol hanya dalam dua laga terakhir.
Thomas Tuchel bahkan mengakui timnya masih bisa bermain lebih baik. Pernyataan itu justru bisa membuat lawan semakin waspada.
Sebab jika Inggris yang sekarang saja sudah sampai semifinal, bagaimana jika mereka benar-benar tampil maksimal?
Di kubu Argentina, situasinya juga tidak sepenuhnya mulus.
Juara bertahan memang lolos ke empat besar, tetapi perjalanan mereka jauh dari kata mudah.
La Albiceleste harus bermain hingga perpanjangan waktu melawan Tanjung Verde, bangkit dari ketertinggalan dua gol saat menghadapi Mesir, lalu kembali membutuhkan tambahan waktu ketika mengalahkan Swiss.
Kondisi tersebut menunjukkan Argentina tetap tangguh, tetapi bukan berarti tanpa celah.
Lionel Messi masih menjadi pusat permainan.
Delapan gol yang sudah ia cetak menjadi bukti bahwa usia 39 tahun belum mengurangi kualitasnya.
Namun kali ini, Messi akan menghadapi salah satu lini tengah paling agresif di turnamen.
Declan Rice dan Elliot Anderson diperkirakan akan bekerja ekstra keras membatasi ruang gerak sang kapten Argentina.
Bila Messi berhasil dimatikan, kreativitas Argentina otomatis ikut berkurang.
Meski demikian, Inggris tetap harus berhati-hati karena Argentina memiliki banyak opsi serangan.
Data FIFA menunjukkan tujuh pemain Argentina lainnya juga sudah mencetak gol sepanjang turnamen.
Dengan kata lain, menjaga Messi saja belum cukup.
Kalau pendukung Inggris sekarang mulai bermimpi melihat trofi, itu masih wajar.
Kalau pendukung Argentina mulai menghitung stok kopi untuk begadang sambil menahan deg-degan, itu juga bisa dimaklumi.
Sebab pertandingan ini berpotensi membuat jantung bekerja lembur.
Satu kesalahan kecil bisa membuat mimpi menuju final berubah menjadi cerita “hampir saja.”
Secara kualitas, kedua tim sama-sama layak berada di semifinal.
Inggris membawa semangat muda, produktivitas Kane dan Bellingham, serta mental pantang menyerah.
Argentina menawarkan pengalaman sebagai juara bertahan, kedewasaan bermain, dan sentuhan magis Lionel Messi.
Di atas kertas, tidak ada favorit mutlak. Namun satu hal hampir pasti.
Pendukung kedua tim kemungkinan baru bisa bernapas lega setelah peluit panjang berbunyi.












