Peristiwa

Tragedi Tambang Ilegal DAM Pohuwato, 5 Nyawa Melayang dalam Sekejap

×

Tragedi Tambang Ilegal DAM Pohuwato, 5 Nyawa Melayang dalam Sekejap

Sebarkan artikel ini
Seluruh jenazah korban longsor di PETI DAM Pohuwato dievakuasi menggunakan karung dari lokasi kejadian. Foto: ist/Hibata.id
Seluruh jenazah korban longsor di PETI DAM Pohuwato dievakuasi menggunakan karung dari lokasi kejadian. Foto: ist/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Sedikitnya lima orang meninggal dunia setelah tanah longsor menerjang kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Rabu malam (12/8/2026).

Informasi yang dihimpun Hibata.id menunjukkan jumlah korban dalam peristiwa tersebut berpotensi bertambah.

Sejumlah warga menyebut sekitar 30 penambang berada di salah satu titik aktivitas pertambangan ketika longsor terjadi.

Namun, jumlah orang yang berada di lokasi dan kemungkinan korban yang masih tertimbun belum terkonfirmasi secara resmi oleh tim evakuasi maupun aparat berwenang.

Seorang warga yang ditemui di rumah duka di Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Kamis (13/8/2026), mengatakan melihat banyak penambang berada di lokasi sebelum longsor.

“Di lokasi itu terlihat sekitar 30 senter kepala yang menyala. Setelah longsor terjadi, senter-senter itu sudah tidak terlihat lagi. Karena itu ada kemungkinan mereka ikut tertimbun,” kata warga tersebut.

Keterangan itu masih berupa informasi dari warga dan belum menjadi data resmi jumlah korban.

Kepala Desa Bendungan Mus Yasin membenarkan sejumlah warganya berada di lokasi pertambangan saat longsor terjadi.

Baca Juga:  Jalan Monano, Penghubung Gorontalo-Sulut Putus Total

Menurut Mus, warga yang selamat ikut membantu proses pencarian dan mengenali korban yang berhasil dievakuasi dari timbunan material longsor.

“Pada saat longsor ada beberapa warga saya juga di lokasi. Ketika dilakukan penggalian, korban langsung dikenali oleh warga yang selamat. Empat korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit,” kata Mus Yasin.

Ia mengatakan lokasi tersebut sebelumnya juga mengalami longsor pada Rabu sore.

Menurut keterangan yang diterimanya dari keluarga dan rekan korban, aktivitas penambangan kembali berlangsung setelah kondisi di lokasi dinilai mulai aman.

Beberapa jam kemudian, longsor susulan terjadi ketika para penambang kembali bekerja.

“Menurut keterangan keluarga dan sahabat korban yang berada di lokasi, kejadian sekitar setelah salat Isya. Mereka sedang melakukan aktivitas pertambangan ketika longsor susulan tiba-tiba terjadi dan menimpa warga saya,” ujarnya.

Empat korban yang diketahui berasal dari Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Lima Korban Meninggal Dunia

Hingga berita ini diterbitkan, lima korban meninggal dunia telah teridentifikasi dalam peristiwa longsor di kawasan tambang DAM.

Baca Juga:  Gedung DPRD NTB Terbakar Saat Aksi Mahasiswa di Mataram

Empat korban merupakan warga Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, sedangkan satu korban lainnya berasal dari Kabupaten Boalemo.

Berikut identitas korban yang dihimpun Hibata.id:

  1. Pandra Djalilu (27), warga Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
  2. Miman Ibura (23), warga Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
  3. Sandi Bilondatu (23), warga Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
  4. Piki Larama (26), warga Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
  5. Andi Otoluwa, warga Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman.

Informasi yang menyebut korban kelima merupakan anggota TNI aktif dengan status “disersi” belum terverifikasi secara resmi sehingga Hibata.id belum menjadikannya sebagai fakta.

Yusuf Lawani Bantah Lokasi Longsor Miliknya

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Pohuwato Yusuf Lawani membantah lokasi longsor tersebut merupakan area pertambangan miliknya.

Yusuf mengatakan titik longsor berada di lokasi lain dan menyebut terdapat beberapa lokasi tambang sebelum mencapai area yang disebut sebagai miliknya.

“Peristiwa itu bukan di lokasi saya. Itu di lokasi Firman. Dari lokasi saya masih ada lokasi Kusno, baru itu saya punya,” kata Yusuf sebagaimana dikutip dari Dulohupa.id.

Baca Juga:  Napi Tewas Bunuh Diri, Pengawasan di Lapas Gorontalo Lemah?

Pernyataan tersebut menjadi bantahan atas informasi yang sebelumnya mengaitkan lokasi longsor dengan dirinya.

Hibata.id masih berupaya memperoleh keterangan dari pihak berwenang mengenai status pengelolaan dan legalitas aktivitas pertambangan di titik yang mengalami longsor.

Jumlah Korban Masih Diverifikasi

Informasi mengenai kemungkinan adanya korban lain yang tertimbun masih belum dapat dipastikan.

Dugaan sekitar 30 orang berada di lokasi ketika longsor terjadi juga masih membutuhkan verifikasi dari tim evakuasi, kepolisian, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya.

Hibata.id telah berupaya meminta klarifikasi kepada Yusuf Lawani terkait informasi yang mengaitkan dirinya dengan aktivitas PETI di kawasan tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai dugaan tersebut maupun status aktivitas pertambangan di lokasi.

Redaksi Hibata.id membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.

Informasi mengenai jumlah korban, proses evakuasi, serta status lokasi pertambangan akan diperbarui berdasarkan keterangan resmi dari aparat dan tim penanganan di lapangan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel