Hibata.id – Kepala SD Negeri 61 Kota Timur, Meilan Ibrahim, membantah pemberitaan yang menyebut rangka atap baja ringan pada proyek revitalisasi sekolah mengalami keretakan. Ia menegaskan, bagian atap yang terlihat rusak tersibak akibat angin kencang, bukan karena retak pada konstruksi.
Meilan menjelaskan, atap tersebut tersibak sekitar dua hari sebelum klarifikasi disampaikan. Menurut dia, papan pinggir yang berfungsi mengikat bagian atap belum terpasang sehingga atap rentan terangkat ketika diterpa angin kencang.
“Kondisi awalnya normal. Hanya saja, dua hari lalu atap itu diterpa angin kencang sehingga tersibak ke atas karena belum terpasang papan pinggir yang mengikatnya,” kata Meilan.
Ia juga membantah adanya keretakan sebagaimana diberitakan sebelumnya. Meilan mempertanyakan keakuratan foto yang digunakan dalam pemberitaan tersebut karena dinilai tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Termasuk retakan yang diberitakan juga tidak benar. Tidak ada retakan sama sekali. Foto yang dipakai seperti sudah diedit,” ujarnya.
Meilan memastikan perbaikan bagian atap yang rusak dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ia mengatakan pekerjaan tersebut sebelumnya terkendala sisa material bongkaran yang menumpuk di bawah bagian atap. Kondisi itu menyulitkan pekerja menempatkan perancah atau scaffolding untuk menjangkau bagian yang perlu diperbaiki.
“Tadi baru dibersihkan dan hari ini kita perbaiki atap yang rusak itu,” kata Meilan.
Proyek revitalisasi SDN 61 Kota Timur merupakan program bantuan Presiden dengan anggaran Rp1.068.228.597 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026. Menurut Meilan, progres pengerjaan telah melampaui 50 persen dan proyek masih berlangsung di bawah pengawasan tim fasilitator.
Tamu yang Mengaku Wartawan
Selain menjelaskan kondisi atap, Meilan turut menanggapi pemberitaan yang dimuat laman M-Nusantara.com. Ia mengatakan, seorang tamu datang ke sekolah pada Senin, 26 Oktober 2026, ketika dirinya belum berada di tempat. Saat itu, tamu tersebut disambut oleh guru yang bertugas.
Meilan mengaku baru bertemu dengan tamu tersebut setelah tiba di sekolah. Semula, ia menduga orang itu merupakan anggota tim fasilitator yang memang dijadwalkan berkunjung.
Namun, menurut Meilan, tamu tersebut kemudian mengaku sebagai wartawan yang hendak melakukan wawancara. Ia mengaku mempertanyakan identitas tamu itu karena tidak mengenakan atribut kewartawanan maupun menunjukkan kartu identitas pers.
“Dia bilang dia wartawan, datang buat wawancara. Tapi gerak-geriknya mencurigakan. Tidak pakai atribut, apalagi ID card. Dia juga pakai masker dan tak mau melepas masker. Jadi saya pasang posisi waspada. Saya bilang, saya tidak mau beri keterangan kalau tidak ada identitas jelas,” ujar Meilan.
Ia menambahkan, dirinya tidak keberatan memberikan keterangan kepada wartawan selama identitas dan tujuan kedatangan dapat dijelaskan dengan jelas.
“Kalau dia datang sebagai profesional, seharusnya dia pakai atribut atau setidaknya ada ID card. Dan saya pasti tidak segan memberikan keterangan,” katanya.
Pihak sekolah berharap klarifikasi tersebut dapat mencegah kesalahpahaman di kalangan orang tua siswa dan masyarakat. Meilan juga meminta kondisi pekerjaan revitalisasi dinilai dengan mempertimbangkan progres pelaksanaan, mengingat proyek tersebut masih berlangsung.
Meski demikian, kondisi atap dan penyebab kerusakannya merupakan hal yang dapat dinilai lebih lanjut melalui pemeriksaan teknis di lapangan. Klarifikasi pihak sekolah menjadi salah satu keterangan terkait persoalan tersebut, sementara kondisi konstruksi perlu dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.












