Kabar

Inflasi Tahunan Gorontalo 5,46 Persen, Stabilitas Harga Diuji Jelang Nataru

×

Inflasi Tahunan Gorontalo 5,46 Persen, Stabilitas Harga Diuji Jelang Nataru

Sebarkan artikel ini
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, saat Ngopi Bareng Insan Media (Piramida) KPw BI Provinsi Gorontalo, Rabu (28/10/2026)/Hibata.id
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, saat Ngopi Bareng Insan Media (Piramida) KPw BI Provinsi Gorontalo, Rabu (28/10/2026)/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Inflasi tahunan Provinsi Gorontalo mencapai 5,46 persen pada September 2026, sedangkan inflasi kumulatif sejak Januari hingga September tercatat 4,44 persen.

Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah menjaga harga pangan dan daya beli masyarakat, terutama menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Scroll untuk baca berita

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah cabai rawit. Pada September 2026, komoditas ini memberikan andil sebesar 1,46 poin persentase terhadap inflasi Gorontalo.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga, BI dan TPID menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari menambah pasokan cabai rawit dari Sulawesi Selatan hingga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar.

Baca Juga:  Bagi Kondom Gratis: Petugas di Pohuwato Malah Dikejar Parang, Kok Bisa?

Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo Bambang Setya Permana mengatakan penambahan pasokan menjadi langkah jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kestabilan harga.

“Dalam jangka pendek, strateginya adalah menambah pasokan untuk memenuhi kebutuhan di Gorontalo,” kata Bambang saat kegiatan Ngopi Bareng Insan Media (Piramida) di Kantor Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Rabu (28/10/2026).

Selain menambah pasokan dari luar daerah, BI dan TPID juga mendorong pemulihan tanaman pertanian yang terdampak cuaca ekstrem. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat produksi pangan lokal sehingga ketersediaan bahan pokok tetap terjaga.

TPID Gorontalo juga akan memperkuat koordinasi melalui rapat tingkat tinggi atau high-level meeting (HLM).

Baca Juga:  LP3G Tuding Bupati Pohuwato Lakukan Pembiaran Aktivitas Tambang Ilegal

Pertemuan tersebut menjadi sarana untuk membahas kesiapan pasokan, memantau perkembangan harga, dan menentukan langkah antisipasi menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru.

Pengendalian inflasi dilakukan melalui strategi 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat komunikasi kepada masyarakat.

Langkah tersebut antara lain melalui Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, bantuan pangan, gerakan menanam atau Agro Mopomulo, serta kerja sama antardaerah untuk memenuhi kebutuhan komoditas pangan.

BI dan TPID juga mendorong distribusi pangan dari daerah yang memiliki surplus ke wilayah yang membutuhkan. Sementara itu, pemantauan harga dan edukasi belanja bijak diharapkan membantu masyarakat menghadapi perubahan harga bahan pokok.

Baca Juga:  Usai Idul Adha, Harga Cabai Rawit di Gorontalo Melonjak hingga Rp130 Ribu per Kg

Upaya pengendalian inflasi ini menjadi penting karena kebutuhan pangan cenderung meningkat menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun.

Karena itu, BI dan TPID akan memantau stok, perkembangan harga, serta kelancaran distribusi komoditas strategis.

Masyarakat diimbau berbelanja sesuai kebutuhan dan memanfaatkan bahan pangan alternatif yang tersedia. Pedagang serta distributor juga diharapkan menjaga kewajaran harga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa menambah tekanan inflasi.

Melalui penguatan pasokan dan koordinasi lintas sektor, BI dan TPID Gorontalo berharap tekanan harga pangan dapat diantisipasi lebih baik sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.