Buton

Bupati Buton Tengah Lirik Ekonomi Biru, Lobster dan Wisata Jadi Andalan

×

Bupati Buton Tengah Lirik Ekonomi Biru, Lobster dan Wisata Jadi Andalan

Sebarkan artikel ini
Bupati Buton Tengah Azhari mendorong ekonomi biru melalui pengembangan lobster, rajungan, ikan teri, dan wisata bahari untuk membuka peluang usaha masyarakat/Hibata.id
Bupati Buton Tengah Azhari mendorong ekonomi biru melalui pengembangan lobster, rajungan, ikan teri, dan wisata bahari untuk membuka peluang usaha masyarakat/Hibata.id

Hibata.id, Buton Tengah — Laut yang kaya, hasil perikanan yang melimpah, serta bentang alam yang unik menjadi modal Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, untuk mengembangkan sumber ekonomi baru.

Potensi tersebut ingin dimaksimalkan Bupati Buton Tengah Azhari melalui ekonomi biru, sebuah pendekatan yang mengandalkan pemanfaatan sumber daya laut secara produktif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Scroll untuk baca berita

Azhari menyampaikan, gagasan itu dalam forum Leaders Talks pada agenda Indonesia Creative Connect 2026 yang diselenggarakan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) di Gedung Pesona Film Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Ia melihat peluang pengembangan ekonomi biru terbuka melalui berbagai komoditas unggulan, mulai dari lobster mutiara, kepiting rajungan, hingga ikan teri.

Buton Tengah juga memiliki potensi wisata goa dan bahari yang dapat dikembangkan untuk memperluas kesempatan usaha masyarakat.

Menurut Azhari, kekayaan daerah tidak harus selalu bertumpu pada pertambangan. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor kelautan dan pariwisata juga berpeluang menciptakan nilai ekonomi yang besar serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“…kami di daerah Indonesia Timur, khususnya di daerah kami Sulawesi Tenggara, bukan hanya berpotensi untuk tambang nikel dan tambang-tambang lainnya, tapi kami juga bisa menawarkan ekonomi biru yang sebenarnya apabila kita kelola dengan baik, dia punya nilai lebih banyak daripada tambang-tambang itu,” kata Azhari.

Baca Juga:  Calon Anggota BPD di Buton Tengah Dicoret Jika Terbukti Pakai Uang

Forum tersebut turut dihadiri Menteri Ekonomi Kreatif, Wakil Menteri Kebudayaan, sembilan kepala daerah, serta sejumlah pejabat negara.

Lobster Mutiara Butuh Dukungan Modal

Salah satu potensi yang ingin dikembangkan Azhari ialah lobster mutiara. Karakteristik perairan dan kawasan pesisir Buton Tengah dinilai mendukung pengembangan komoditas tersebut, tetapi keterbatasan modal masih menjadi tantangan bagi nelayan yang ingin mengembangkan budidaya.

Dukungan pembiayaan dibutuhkan untuk menyediakan benih, keramba, dan sarana produksi lainnya. Dengan dukungan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjual hasil tangkapan, tetapi juga memperoleh nilai tambah melalui pengembangan usaha kelautan.

Azhari menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi biru membutuhkan perencanaan, teknologi, dan investasi yang memadai. Menurut dia, pemanfaatan sumber daya laut memerlukan proses pengelolaan yang lebih panjang agar potensi alam dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Azhari menyebut penjualan baby lobster pada 2025 mencapai sekitar 240 ton atau setara dengan 2,4 juta ekor. Ia juga menyampaikan proyeksi nilai ekonomi lobster yang dapat mencapai Rp1,6 triliun per tahun dengan skema budidaya selama 10 bulan hingga satu tahun dan harga jual Rp700 ribu per kilogram.

Angka tersebut merupakan data dan proyeksi yang disampaikan Azhari dalam forum. Perhitungan nilai ekonominya perlu didukung kejelasan volume produksi, hasil budidaya, harga aktual, serta biaya operasional.

Baca Juga:  Rakor Pemda dan DPRD, KPK Ingatkan APBD Harus Dikelola Transparan

Rajungan dan Ikan Teri Buka Peluang Usaha

Selain lobster, kepiting rajungan dan ikan teri juga berpotensi memperkuat ekonomi masyarakat pesisir Buton Tengah. Kedua komoditas tersebut dapat dikembangkan melalui usaha pengolahan hasil laut berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Azhari menyebut masyarakat setempat menangkap rajungan menggunakan bubu dan mengolah hasilnya secara rumahan. Produksi rajungan, menurut dia, dapat mencapai rata-rata 1,5 ton per hari. Sementara itu, hasil tangkapan ikan teri pada musim tertentu bisa mencapai tiga ton per hari.

Hasil laut tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membuat produk dengan nilai jual lebih tinggi, seperti daging rajungan dalam kemasan dan ikan teri olahan. Pengembangan produk juga dapat memperluas jangkauan pemasaran, sekaligus menciptakan peluang kerja baru.

Azhari mengajak pelaku ekonomi kreatif bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengembangkan industri pengolahan yang sesuai dengan potensi lokal.

Ia menilai kolaborasi tersebut dapat mendorong lahirnya produk inovatif, memperkuat usaha masyarakat, dan memperluas pasar hasil perikanan Buton Tengah.

Wisata Goa dan Bahari Jadi Daya Tarik

Baca Juga:  Pelantikan Pj Sekda Buton Tengah Sah, Dedi Ferianto Bantah Pernyataan Sekda Sultra

Potensi ekonomi biru Buton Tengah tidak hanya berasal dari hasil laut. Daerah yang dikenal dengan julukan Negeri Seribu Goa itu juga memiliki destinasi alam berupa goa, pantai, teluk, serta kawasan perairan yang berpeluang dikembangkan menjadi tujuan wisata bahari.

Azhari ingin potensi tersebut dikelola melalui kerja sama pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku ekonomi kreatif. Dengan pengembangan yang terarah, wisata alam dapat mendatangkan pengunjung sekaligus membuka peluang usaha bagi warga setempat.

Ia menekankan bahwa pengembangan wisata goa harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan, termasuk kejernihan air dan kondisi kawasan di sekitarnya.

Menurut Azhari, wisatawan yang berkunjung juga dapat diajak menikmati destinasi lain, seperti pantai, teluk, dan lokasi penyelaman atau diving. Kuliner khas daerah pun dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Integrasi berbagai destinasi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan usaha pendukung, mulai dari jasa pemandu, transportasi, penginapan, kuliner, hingga penjualan produk lokal.

Azhari berharap pengembangan ekonomi biru dapat menjadi salah satu jalan bagi Buton Tengah untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.

Melalui dukungan modal, inovasi pengolahan, pemasaran, dan kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif, potensi laut dan wisata diharapkan mampu memberikan nilai tambah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.