Hibata.id, Pohuwato – Aksi demonstrasi masyarakat penambang tradisional di depan Kantor Bupati Pohuwato, Senin (11/5/2026), mendadak berubah suasana.
Bukan cuma orasi dan spanduk, massa aksi juga buka dapur lengkap dengan kompor gas dan peralatan memasak, sebagai bentuk protes.
Pantauan di lokasi, sejumlah warga yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LABRAK terlihat santai memasak di tengah aksi.
Ada yang sibuk mengaduk masakan, ada juga yang mondar-mandir sambil memastikan api kompor tetap menyala.
Pemandangan itu langsung menarik perhatian warga sekitar. Tidak sedikit yang berhenti menonton karena demo kali ini terasa berbeda.
Suasananya campur aduk, antara aksi protes dan nuansa seperti acara kumpul keluarga.
Meski terlihat santai, aksi memasak tersebut ternyata menyimpan pesan serius.
Massa aksi mengaku sengaja memasak di depan kantor bupati sebagai simbol perjuangan masyarakat penambang tradisional yang sedang berusaha mempertahankan sumber penghidupan mereka.
Salah satu peserta aksi, Soni, mengatakan masyarakat memilih tetap bertahan sambil menunggu respons pemerintah daerah terkait tuntutan yang mereka sampaikan.
“Aksi ini kami lakukan supaya pemerintah tahu masyarakat masih menunggu jawaban. Kami berharap pemerintah dan perusahaan bisa hidup berdampingan dengan masyarakat,” ujar Soni.
Di tengah terik matahari, aroma masakan bahkan sempat menyebar di sekitar lokasi aksi.
Beberapa warga terlihat bercanda bahwa demo kali ini lebih lengkap karena ada dapur umum dadakan di depan kantor bupati.
Namun di balik suasana yang cair dan penuh canda itu, masyarakat penambang berharap ada solusi nyata atas persoalan yang mereka hadapi.
Bagi mereka, aksi tersebut bukan sekadar turun ke jalan. Ada dapur keluarga yang harus tetap mengepul, ada kebutuhan hidup yang harus terus berjalan.











