Kabar

Nilai Tukar Petani Gorontalo Melonjak, Tertinggi di Indonesia Timur

×

Nilai Tukar Petani Gorontalo Melonjak, Tertinggi di Indonesia Timur

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Petani Gorontalo Melonjak Tertinggi di Indonesia Timur, ini Peyebabnya/Hibata.id
Nilai Tukar Petani Gorontalo Melonjak Tertinggi di Indonesia Timur, ini Peyebabnya/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, kabar menggembirakan justru datang dari sektor pertanian Gorontalo.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada Juni 2026 naik 7,48 persen menjadi 131,04, sekaligus menjadi kenaikan tertinggi di kawasan Indonesia Timur.

Scroll untuk baca berita

Capaian tersebut menunjukkan pendapatan yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan untuk konsumsi maupun biaya produksi.

BPS menjelaskan, lonjakan NTP terjadi karena indeks harga hasil pertanian yang diterima petani naik 11,23 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang hanya 3,48 persen.

Dengan kondisi tersebut, daya beli petani di pedesaan mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Yang paling menarik, kenaikan tersebut hampir seluruhnya ditopang oleh subsektor hortikultura.

Baca Juga:  Melawan Diam, Posko Pengaduan Pekerja Resmi Diluncurkan di Buol

Nilai Tukar Petani Hortikultura melonjak hingga 81,25 persen, sebuah kenaikan yang sangat signifikan dalam satu bulan.

Penyebab utamanya adalah meroketnya harga sejumlah komoditas sayuran seperti cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah di tingkat petani.

Lonjakan harga komoditas hortikultura itu membuat indeks harga yang diterima petani naik hampir 89 persen pada subsektor tersebut.

Kenaikan harga jual hasil panen jauh melampaui peningkatan biaya yang harus dikeluarkan petani, sehingga pendapatan mereka ikut terdongkrak.

Namun, di balik kabar positif tersebut terdapat fakta lain yang patut menjadi perhatian. Tidak semua kelompok petani menikmati kondisi yang sama.

Petani tanaman pangan justru mengalami penurunan NTP sebesar 1,50 persen, petani perkebunan rakyat turun 4,57 persen, peternak turun 2,13 persen, sementara nelayan dan pembudidaya ikan mencatat penurunan 4,61 persen.

Baca Juga:  Ketua KAHMI Kota Gorontalo: Bekukan Mapala FIS Jika Kaderisasi Membahayakan

Hal ini menunjukkan keuntungan besar masih terkonsentrasi pada komoditas hortikultura.

Tekanan paling berat bahkan dirasakan pembudidaya ikan. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) turun 6,54 persen karena harga jual hasil budidaya, terutama ikan bandeng dan ikan nila, mengalami penurunan, sementara biaya yang harus dikeluarkan terus meningkat.

Kondisi serupa juga dialami nelayan tangkap yang NTP-nya turun 4,45 persen, dipengaruhi melemahnya harga beberapa hasil tangkapan seperti ikan teri, ikan ekor kuning, dan cumi-cumi.

Meski demikian, secara regional Gorontalo tampil sebagai provinsi dengan peningkatan NTP paling tinggi di kawasan Indonesia Timur.

Dari 14 provinsi yang dipantau BPS, hanya lima provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan sembilan provinsi lainnya justru mencatat penurunan.

Bahkan secara nasional, NTP turun 0,06 persen, sementara Gorontalo justru mencatat lonjakan 7,48 persen.

Baca Juga:  BMKG Ingatkan Masyarakat Siaga Hadapi Puncak Musim Hujan

Di sisi lain, BPS mengingatkan bahwa meningkatnya kesejahteraan petani belum sepenuhnya lepas dari tekanan biaya hidup.

Selama Juni 2026, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani di Gorontalo juga naik 5,30 persen, tertinggi di Indonesia Timur.

Kenaikan tersebut terutama dipicu meningkatnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak 7,86 persen.

Data ini menunjukkan bahwa sektor hortikultura sedang menikmati momentum harga yang sangat baik dan menjadi penopang utama peningkatan kesejahteraan petani di Gorontalo.

Namun, pemerintah tetap dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan harga agar keuntungan petani tidak diikuti tekanan berlebihan terhadap daya beli masyarakat sebagai konsumen.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel