Hibata.id, Gorontalo – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 turun 5,99 persen menjadi 123,19.
Penurunan tersebut menjadi yang terdalam di antara 14 provinsi di kawasan Indonesia timur dan dipicu merosotnya harga komoditas hortikultura, terutama cabai.
Turunnya NTP menunjukkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan lebih besar dibandingkan kenaikan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.
Kondisi ini menyebabkan daya beli petani di Gorontalo melemah dibandingkan bulan sebelumnya.
Subsektor hortikultura menjadi penyumbang terbesar penurunan NTP.
BPS mencatat Nilai Tukar Petani hortikultura anjlok 43,92 persen akibat turunnya harga sejumlah komoditas, seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, dan bawang merah.
Penurunan harga komoditas tersebut berdampak langsung pada pendapatan petani karena hasil penjualan tidak mampu mengimbangi biaya usaha tani maupun kebutuhan rumah tangga.
Di tengah pelemahan sektor hortikultura, beberapa subsektor justru mencatat kinerja positif. Subsektor perikanan membukukan kenaikan NTP sebesar 6,87 persen, diikuti peternakan 3,62 persen, perkebunan rakyat 2,77 persen, dan tanaman pangan 2,57 persen.
Peningkatan pada subsektor perikanan turut tercermin dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang naik 7,41 persen.
Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga jual ikan hasil tangkapan, antara lain tuna, cakalang, layang, dan selar, sehingga pendapatan nelayan mengalami perbaikan.
Sementara itu, subsektor tanaman pangan memperoleh dukungan dari meningkatnya harga jagung, yang menjadi komoditas utama penyumbang kenaikan indeks harga hasil pertanian pada kelompok tersebut.
Secara regional, BPS mencatat dari 14 provinsi di Indonesia timur, sebanyak delapan provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan enam provinsi mengalami penurunan.
Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan kenaikan tertinggi sebesar 8,89 persen, sedangkan Gorontalo mencatat penurunan terdalam sebesar 5,99 persen.
Meski mengalami penurunan, NTP Gorontalo yang berada di level 123,19 atau masih di atas angka 100 menunjukkan secara umum nilai yang diterima petani masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang dikeluarkan.
Namun, penurunan tajam pada Juli menjadi indikator bahwa fluktuasi harga komoditas hortikultura, khususnya cabai, memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan petani di daerah tersebut.












