Hibata.id – Komitmen kolaboratif dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi Suaka Margasatwa Nantu dan Taman Hutan Raya (Tahura) BJ Habibie menguat melalui Pertemuan Multipihak dan Festival Menjaga Air yang berlangsung di Kampus 4 Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kamis (27/11/2025).
Kegiatan yang diinisiasi PKEPKL dan PKSDA itu menjadi penutup rangkaian Program GEF-SGP Fase 7 yang menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat dan konservasi air di Gorontalo.
Dalam forum tersebut, perwakilan Bappeda Kabupaten Gorontalo, Bambang Suparto, menegaskan pentingnya tata kelola hutan yang inklusif serta kerja sama lintas sektor untuk menjamin keberlanjutan ekologis kawasan konservasi.
“Kolaborasi multipihak menjadi kunci menjaga keberlangsungan lingkungan. Selama dilandasi penelitian dan data yang kuat, Pemerintah Kabupaten Gorontalo siap mendukung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam penyediaan rekomendasi berbasis sains, pemetaan data, dan penelitian yang dapat mendorong kebijakan pembangunan selaras dengan perlindungan lingkungan.
Perwakilan Bappeda Kabupaten Boalemo, Moh. Nasir, juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan program Asta Cita menuju swasembada pangan berkelanjutan pada 2026. Program tersebut mencakup pembuatan terasering dan penyediaan 10.000 hektare lahan percontohan yang dialokasikan melalui APBD.

Menurutnya, sektor pertanian tetap menjadi pilar ekonomi daerah, namun indikator lingkungan kini menjadi faktor utama dalam perencanaan pembangunan.
Pada sesi penyampaian kondisi lapangan, Kepala Desa Saritani, Arlin Luneto, menyampaikan kekhawatiran meningkatnya aktivitas tambang emas ilegal. Ia menyebut alat berat telah masuk ke wilayah tersebut dan lebih dari seribu kepala keluarga terlibat di dalamnya.
“Ini harus segera ditangani sebelum air dan tanah rusak lebih jauh,” tegasnya.
Warga Saritani, Bunairi, menambahkan bahwa aktivitas tambang sudah mencemari sumber air. Ia menuturkan upaya warga menghadang alat berat pada Minggu malam untuk mencegah perluasan penambangan.
Sementara itu, peserta forum Sulastri Sude mempertanyakan peluang pengembangan ekonomi alternatif yang ramah lingkungan, seperti budidaya lebah madu. Ia menilai sebagian warga terdorong ikut aktivitas penambangan karena tekanan ekonomi dan keterbatasan sumber pendapatan.
Pertemuan multipihak tersebut menghasilkan penandatanganan dokumen kesepahaman yang menegaskan komitmen pemerintah daerah, mitra pembangunan, dan masyarakat untuk menjaga kelestarian Suaka Margasatwa Nantu dan Tahura BJ Habibie.
Selain diskusi, kegiatan juga dirangkaikan dengan pameran edukasi publik, pameran produk ramah lingkungan, bedah buku, serta Festival Natura sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan konservasi dan pelibatan masyarakat.















