Hibata.id, Pohuwato – Warga Kabupaten Pohuwato dibuat terkejut dengan harga bahan bakar minyak (BBM) eceran yang melonjak drastis.
Pantauan Hibata.id di sejumlah pom mini dan depot pengecer BBM, harganya baik dalam beberapa hari terakhir.
Di tengah antrean dan stok yang mulai terbatas, harga BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer dilaporkan tembus hingga Rp15 ribu per liter.
Bahkan, ada penjual yang membanderol Pertamax mencapai Rp25 ribu per liter.
Kondisi itu langsung memicu keluhan masyarakat. Sebab, harga resmi Pertalite di SPBU hingga saat ini masih berada di kisaran Rp10 ribu per liter dan belum mengalami kenaikan.
“Ini sudah macam beli es kopi premium. Pertalite saja sudah naik di pengecer,” ujar salah satu warga sambil tertawa kecil menanggapi kondisi tersebut.
Warga lain, Zainudin Umar, meminta pemerintah daerah segera turun tangan melakukan razia terhadap depot BBM eceran maupun pom mini yang diduga menjual BBM dengan harga tidak wajar.
“Kalau harga begini sudah bikin masyarakat tepuk jidat. Harus ada penertiban,” kata Zainudin.
Ia juga meminta pemerintah memeriksa legalitas depot-depot BBM yang beroperasi di wilayah Pohuwato agar tidak ada penjualan ilegal yang merugikan masyarakat.
Tak hanya soal harga, warga juga menyoroti takaran BBM di pom mini. Mereka berharap pemerintah ikut mengecek volume penjualan agar sesuai standar.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Perindagkop dan UMKM) Ibrahim Kiraman mengaku, telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan.
Pihak dinas menyebut, kenaikan harga bukan berasal dari SPBU resmi, melainkan terjadi di tingkat pengecer yang memperoleh BBM dari penjualan galon secara perorangan.
“Kami sudah turun langsung ke lapangan. Dari hasil sidak, pengecer menyampaikan harga BBM yang mereka dapat dari penjual galon di sekitar SPBU memang sudah naik lebih dulu,” kata Ibrahim kepada Hibata.id, Senin (11/05/2026).
Menurutnya, kondisi itu membuat harga BBM di tingkat pengecer ikut mengalami kenaikan sebelum dijual kembali kepada masyarakat.
“Jadi bukan harga resmi di SPBU yang naik, tapi di rantai pengecer yang mengambil dari tangan ke tangan,” katanya.
Pemerintah daerah juga mengimbau pemilik pom mini dan pengecer agar tidak menaikkan harga secara sepihak yang dapat membebani masyarakat.
Selain itu, masyarakat diminta tidak panik membeli BBM secara berlebihan karena pemerintah masih terus berkoordinasi dengan Pertamina terkait pasokan di Pohuwato.
“Kami masih komunikasi dengan Pertamina. Memang ada pengurangan stok distribusi, tetapi kami berharap penyaluran di Marisa dan Paguat segera kembali normal pekan ini,” tambahnya.
Hingga 11 Mei 2026, penyesuaian harga BBM Pertamina hanya berlaku untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Sementara harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih tetap.











