Lingkungan

Tambang Ilegal Mengubah Sungai Pohuwato, Air Bersih Jadi Barang Mahal

×

Tambang Ilegal Mengubah Sungai Pohuwato, Air Bersih Jadi Barang Mahal

Sebarkan artikel ini
Samin, terpaksa mencuci pakaian di Sungai Popoyato meski kondisinya keruh. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia/Hibata.id
Samin, terpaksa mencuci pakaian di Sungai Popoyato meski kondisinya keruh. (Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia)/Hibata.id

| Paling sering ditanyakan:

Hibata.id, Pohuwato – Pagi itu, Sungai Popayato tidak lagi tampak seperti sungai yang pernah menjadi sumber kehidupan warga.

Airnya berubah cokelat keruh, menyerupai kopi susu. Tidak ada lagi kejernihan yang dulu akrab dengan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.

Di tepinya, Samin Ahmad berdiri menatap aliran air dengan wajah muram. Sungai yang dulu memberi kehidupan, kini justru menjadi sumber kekhawatiran.

“Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.”

Perubahan Sungai Popayato bukan terjadi dalam semalam. Warga menyebut kondisi ini mulai terasa sejak aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) berkembang di wilayah hulu.

Penggunaan alat berat mempercepat perubahan bentang alam, sementara air sungai perlahan kehilangan fungsi utamanya sebagai sumber kebutuhan dasar masyarakat.

Sungai sepanjang 40,6 kilometer yang membelah Kabupaten Pohuwato itu kini tak lagi aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun bagi sebagian warga, menjauh dari sungai bukan pilihan.

Baca Juga:  PETI di Balayo Ancam Kesehatan Warga, IMM Pohuwato: APH Jangan Tutup Mata!

Samin termasuk salah satunya.

Meski keluarganya sudah lama berhenti menggunakan air sungai untuk minum, mereka masih bergantung pada aliran itu untuk mandi dan mencuci.

“Setelah mandi, kulit saya dan anak-anak sering menjadi merah dan gatal. Kami tidak memiliki pilihan lain,” katanya saat ditemui di tepian sungai. Saat itu, dia tengah mandi dan mencuci pakaian meskipun kondisi air sungai tampak sangat keruh.

Ketika akses air bersih tidak tersedia, warga menciptakan cara bertahan sendiri.

Samin menggali lubang kecil di pinggiran sungai, berharap tanah dapat menyaring air secara alami sebelum digunakan.

Air yang keluar memang terlihat sedikit lebih jernih, tetapi tidak ada kepastian soal keamanannya.

Sudah empat tahun keluarganya hidup dengan kondisi seperti itu.

Masalah sebenarnya bukan sekadar air yang berubah warna.

Yang hilang adalah akses dasar masyarakat terhadap kebutuhan hidup yang seharusnya layak.

“Ini bukan cuma soal air, ini soal hidup. Kami harus beli air untuk minum dan masak, habiskan lebih dari Rp500.000 sebulan. Tapi tetap saja harus mandi dan cuci di sungai yang kotor. Kami sangat dirugikan.”

Baca Juga:  Bijak Mengelola Sampah Plastik Demi Menjaga Lingkungan

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, biaya tambahan itu menjadi tekanan baru.

Situasi serupa dialami Ratna Ismail, warga Desa Bukit Tinggi.

Jika bagi sebagian orang membeli air galon adalah rutinitas biasa, bagi Ratna itu adalah beban tambahan yang harus dipikul setiap hari.

Dalam rumah tangga, kebutuhan air bukan hanya untuk minum. Air dibutuhkan untuk memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, hingga memastikan anak-anak tetap sehat.

Ketika sumber air bersih menghilang, pekerjaan rumah tangga justru menjadi semakin berat.

Ratna harus berjalan lebih jauh untuk membeli air galon demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kadang dua kali bolak-balik beli galon. Kalau tidak begitu, tidak cukup,” ujarnya.

Di saat bersamaan, kondisi ekonomi keluarga ikut terguncang. Air sungai yang tercemar tak lagi bisa mendukung aktivitas pertanian secara optimal, padahal sektor itu sebelumnya menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Untuk menutup kebutuhan rumah tangga, Ratna harus mencari tambahan pemasukan dengan menjual kue kecil dan hasil kebun seadanya.

Namun persoalan di Sungai Popayato tidak berhenti pada kisah satu atau dua keluarga.

Data Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan mencatat lebih dari 1.800 kepala keluarga terdampak persoalan serupa.

Baca Juga:  KLHK Terbitkan Aturan, Aktivis Lingkungan Kini Tak Bisa Dipidana

Angka itu menunjukkan masalah ini bukan insiden rumah tangga, melainkan persoalan lingkungan dan tata kelola yang lebih besar.

Akar persoalannya berada di hulu.

Aktivitas pertambangan ilegal yang terus berlangsung diduga mempercepat sedimentasi, merusak kualitas air, dan mengubah fungsi sungai yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

Yang paling merasakan dampaknya justru warga yang tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam aktivitas pertambangan tersebut.

Ratna mengaku dirinya masih terpaksa menggunakan air Sungai Popayato untuk mencuci pakaian, meskipun risiko kesehatan terus menghantui.

“Kalau tidak pakai air itu, kami tidak bisa mencuci baju, dan biaya untuk kebutuhan air bisa meningkat.”

Di tengah persoalan yang terus berlangsung, warga hanya bisa bertahan dengan pilihan yang terbatas: membeli air jika mampu, atau tetap menggunakan sungai dengan segala risikonya jika tidak punya alternatif.

Sungai Popayato kini tidak lagi sekadar aliran air.

Bagi banyak warga Pohuwato, ia telah menjadi cermin dari persoalan yang belum benar-benar diselesaikan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel