Hibata.id, Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono memastikan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang berada dalam kapal misi kemanusiaan menuju Gaza tidak mengalami penyanderaan maupun penculikan.
Menurut Sugiono, kapal yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut dihentikan oleh otoritas Israel karena memasuki wilayah perairan yang dibatasi.
“Ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan. Kapal bantuan kemanusiaan tersebut dihentikan karena ada larangan terhadap kapal yang memasuki wilayah tersebut,” kata Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan pemerintah Indonesia saat ini memprioritaskan perlindungan terhadap seluruh WNI yang berada dalam insiden tersebut, termasuk memastikan kondisi mereka tetap aman.
Kementerian Luar Negeri, kata dia, telah mengaktifkan komunikasi diplomatik dengan sejumlah perwakilan Indonesia di kawasan Timur Tengah untuk memperoleh informasi terkini.
“Saya telah meminta kedutaan dan perwakilan Indonesia untuk berkomunikasi dengan otoritas terkait di Yordania, Turki, dan Mesir guna mendapatkan informasi yang akurat mengenai posisi, situasi, dan kondisi warga negara kita,” ujarnya.
Sugiono menegaskan langkah diplomatik juga diarahkan untuk mempercepat proses pemulangan para WNI ke Indonesia.
Pemerintah, lanjut dia, ingin memastikan seluruh WNI mendapatkan perlakuan yang sesuai dan dapat kembali ke tanah air dalam kondisi sehat.
“Kami fokus memastikan warga negara Indonesia diperlakukan dengan baik dan proses pemulangannya dapat berlangsung secepat mungkin,” katanya.
Sebelumnya, pasukan Israel menghentikan kapal-kapal yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) pada Selasa (19/05/2026).
Siaran langsung dari penyelenggara misi memperlihatkan aparat bersenjata menaiki kapal saat para aktivis mengenakan pelampung dan mengangkat tangan. Dokumentasi visual di kapal dilaporkan terhenti setelah perangkat kamera tidak lagi berfungsi.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani, sebagaimana dikutip media internasional, meminta peninjauan segera atas penggunaan kekuatan dalam insiden tersebut setelah sejumlah aktivis Italia melaporkan adanya tindakan represif saat proses penghentian kapal.
Penyelenggara misi menyatakan beberapa kapal mengalami kerusakan selama insiden berlangsung.
GSF menyebut penghentian armada terjadi sekitar 268 kilometer dari pesisir Gaza. Armada tersebut berangkat dari Turki dengan membawa bantuan kemanusiaan berupa kebutuhan pangan dan pasokan medis.
Sementara itu, otoritas Israel menyatakan armada tersebut merupakan aksi politik simbolik dan bukan misi distribusi bantuan skala besar.
Global Sumud Flotilla merupakan koalisi organisasi kemanusiaan internasional yang berupaya menyalurkan bantuan sipil ke Gaza melalui jalur laut.













