Kabar

Petani Gorontalo Merana: NTP Turun Paling Rendah Se-Indonesia Timur

×

Petani Gorontalo Merana: NTP Turun Paling Rendah Se-Indonesia Timur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi petani sawah. Gambar oleh Blitar Apik dari Pixabay
Ilustrasi petani sawah. Gambar oleh Blitar Apik dari Pixabay

Hibata.id, Gorontalo Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 turun 5,99 persen menjadi 123,19.

Penurunan tersebut menjadi yang terdalam di antara 14 provinsi di kawasan Indonesia timur dan dipicu merosotnya harga komoditas hortikultura, terutama cabai.

Turunnya NTP menunjukkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan lebih besar dibandingkan kenaikan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.

Kondisi ini menyebabkan daya beli petani di Gorontalo melemah dibandingkan bulan sebelumnya.

Subsektor hortikultura menjadi penyumbang terbesar penurunan NTP.

Baca Juga:  Aktivis Gorontalo Minta KPK Supervisi Tender Rp14 Miliar Jasa Keamanan UNG

BPS mencatat Nilai Tukar Petani hortikultura anjlok 43,92 persen akibat turunnya harga sejumlah komoditas, seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, dan bawang merah.

Penurunan harga komoditas tersebut berdampak langsung pada pendapatan petani karena hasil penjualan tidak mampu mengimbangi biaya usaha tani maupun kebutuhan rumah tangga.

Di tengah pelemahan sektor hortikultura, beberapa subsektor justru mencatat kinerja positif. Subsektor perikanan membukukan kenaikan NTP sebesar 6,87 persen, diikuti peternakan 3,62 persen, perkebunan rakyat 2,77 persen, dan tanaman pangan 2,57 persen.

Peningkatan pada subsektor perikanan turut tercermin dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang naik 7,41 persen.

Baca Juga:  Pelaku Tambang Ilegal Dengilo Pohuwato Diminta Tutup Kubangan Galian

Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga jual ikan hasil tangkapan, antara lain tuna, cakalang, layang, dan selar, sehingga pendapatan nelayan mengalami perbaikan.

Sementara itu, subsektor tanaman pangan memperoleh dukungan dari meningkatnya harga jagung, yang menjadi komoditas utama penyumbang kenaikan indeks harga hasil pertanian pada kelompok tersebut.

Secara regional, BPS mencatat dari 14 provinsi di Indonesia timur, sebanyak delapan provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan enam provinsi mengalami penurunan.

Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan kenaikan tertinggi sebesar 8,89 persen, sedangkan Gorontalo mencatat penurunan terdalam sebesar 5,99 persen.

Baca Juga:  Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPPK Tahap 2 Februari 2025

Meski mengalami penurunan, NTP Gorontalo yang berada di level 123,19 atau masih di atas angka 100 menunjukkan secara umum nilai yang diterima petani masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang dikeluarkan.

Namun, penurunan tajam pada Juli menjadi indikator bahwa fluktuasi harga komoditas hortikultura, khususnya cabai, memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan petani di daerah tersebut.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel