Hibata.id — Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Gorontalo menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun, antrean tersebut bukan disebabkan oleh menipisnya persediaan bahan bakar minyak (BBM).
Pelaksana Tugas (Plt) Asisten II Pemerintah Kota Gorontalo, Abdulhafidz Daud, memastikan ketersediaan BBM, baik bensin maupun solar, masih dalam kondisi aman.
Kepastian itu disampaikan dalam rapat bersama pihak terkait untuk membahas ketersediaan BBM di Kota Gorontalo, termasuk memastikan kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun tetap terpenuhi.
Menurut Abdulhafidz, salah satu pemicu antrean adalah kekhawatiran masyarakat setelah beredar informasi mengenai kemungkinan pembatasan penyaluran BBM ke sejumlah daerah.
Informasi tersebut membuat sebagian masyarakat melakukan pembelian lebih banyak dari biasanya karena khawatir terjadi kelangkaan.
Padahal, berdasarkan penjelasan pihak Pertamina dan pengelola SPBU dalam rapat tersebut, kuota BBM untuk kabupaten dan kota di Gorontalo masih berada dalam kondisi aman.
Pemerintah Kota Gorontalo kemudian meminta pengelola SPBU memperbaiki pengaturan antrean. Kendaraan yang menunggu pengisian BBM diharapkan tidak sampai mengganggu arus lalu lintas di sekitar SPBU.
Barcode Tak Boleh Dipinjamkan
Pemerintah juga menyoroti penggunaan barcode dalam pembelian BBM. Abdulhafidz meminta barcode digunakan sesuai dengan pemilik dan kendaraan yang telah terdaftar.
Penggunaan barcode kendaraan lain, termasuk dengan cara meminjamkannya, tidak diperbolehkan. Aturan tersebut diperlukan agar penyaluran BBM sesuai dengan data kendaraan dan kuota yang telah ditetapkan.
Persoalan lain yang dibahas adalah penjualan BBM di pinggir jalan. Pengelola SPBU menilai praktik tersebut berpotensi memperpanjang antrean karena dapat mendorong pembelian secara berulang atau dalam jumlah berlebih.
Pemerintah juga diminta lebih selektif dalam menerbitkan rekomendasi BBM untuk sektor industri, pertanian, dan perikanan.
Abdulhafidz mengatakan terdapat kekhawatiran rekomendasi tersebut disalahgunakan. BBM yang seharusnya diperuntukkan bagi sektor tertentu dikhawatirkan justru dijual kembali di depot-depot pinggir jalan.
Untuk mengantisipasi persoalan distribusi, pengelola SPBU mendorong monitoring kuota secara berkala bersama Pertamina. Pemantauan tersebut dinilai penting untuk mengetahui kondisi penyaluran di setiap SPBU sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi lebih awal.
Abdulhafidz mengatakan berbagai masukan dari pengelola SPBU akan menjadi bahan tindak lanjut Pemerintah Kota Gorontalo bersama pihak terkait.
“Harapan-harapan dari para pengelola SPBU itu insya Allah akan kita tindaklanjuti di tingkat Pemerintah Kota Gorontalo,” kata Abdulhafidz.
Dengan stok yang disebut masih aman, pemerintah berharap masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan. Pengaturan distribusi dan kepatuhan terhadap ketentuan pembelian menjadi bagian penting agar kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi hingga akhir tahun.












