Kabar

Menyulam Karawo Sejak 1987, Ramlah Kini Pamer Karya di GKK dan Harfest 2026

×

Menyulam Karawo Sejak 1987, Ramlah Kini Pamer Karya di GKK dan Harfest 2026

Sebarkan artikel ini
Ramlah Dungga telah menyulam Karawo sejak 1987. Hampir empat dekade kemudian, karya Tiga Berlian miliknya hadir di GKK dan Harfest 2026/Hibata.id
Ramlah Dungga telah menyulam Karawo sejak 1987. Hampir empat dekade kemudian, karya Tiga Berlian miliknya hadir di GKK dan Harfest 2026/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Tangan Ramlah Dungga sudah akrab dengan kain dan benang Karawo jauh sebelum sebagian pengunjung Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 lahir.

Sejak sekitar 1987, ia menyulam. Satu demi satu helai benang dirangkai menjadi motif. Tahun berganti, tren berubah, tetapi Ramlah masih bertahan dengan keterampilan yang sama.

Hampir empat dekade kemudian, karya dari tangannya kini ikut mendapat tempat di tengah kemeriahan GKK yang berkolaborasi dengan Harfest 2026 Bank Indonesia Perwakilan Gorontalo.

Di antara deretan booth UMKM, Ramlah datang membawa Karawo dengan merek Tiga Berlian. Bukan hanya untuk berjualan. Ia ingin orang-orang melihat lebih dekat hasil pekerjaan yang telah menemani sebagian besar perjalanan hidupnya.

Bahkan, salah satu karya dari masa awal dirinya belajar menyulam sekitar 1987 masih tersimpan hingga sekarang.

Bagi Ramlah, kain itu bukan sekadar koleksi. Ada perjalanan panjang di baliknya—dari belajar menyulam secara otodidak hingga akhirnya mampu membawa produk Karawo miliknya ke berbagai pameran.

Baca Juga:  BI Gorontalo Pastikan Keamanan Transaksi Nontunai Selama Ramadan

Kini, melalui GKK dan Harfest 2026, perjalanan itu seperti menemukan ruang yang lebih luas.

Pengunjung datang dan melihat-lihat. Sebagian bertanya tentang Karawo, sebagian lainnya membeli. Ramlah pun dengan sabar memperkenalkan produk yang dibawanya.

Kesempatan mengikuti pameran seperti ini, menurut dia, menjadi sesuatu yang berharga bagi pelaku UMKM.

“Jelas sekali BI itu banyak memberikan kesempatan kepada kami. Kami bisa menambah ilmu, juga bisa ikut pameran begini. Untuk ekonomi jelas mendukung sekali,” kata Ramlah.

Bukan hanya ilmu yang dibawa pulang. Dagangannya pun bergerak.

Dalam dua hari mengikuti kegiatan, stok Karawo yang dibawa Ramlah sudah banyak berkurang.

Lelah tentu ada. Namun bagi perempuan yang telah puluhan tahun menyulam itu, melihat karyanya diminati pengunjung menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Senang sekali begini ini, biarpun capek tapi Alhamdulillah ada hasil,” ujarnya.

Bukan Sekadar Soal Laku

Ramlah tidak mengukur keberhasilan mengikuti pameran hanya dari berapa banyak Karawo yang terjual.

Ada hal lain yang ia cari, yakni pertemuan. Di sana ia bisa berbincang dengan sesama pelaku UMKM, mendengar tanggapan pengunjung, menerima masukan, hingga menemukan gagasan untuk melahirkan desain baru.

Baca Juga:  Ribuan Tenaga Honorer R2-R5 Diangkat Jadi PPPK Mulai 2025, Ini Rinciannya

“Kita senang kreasi kita dihargai. Baru kita senang juga bertemu dengan teman-teman, banyak masukan-masukan,” katanya.

Ramlah bahkan membawa gambar yang memperlihatkan tahapan pembuatan Karawo.

Gambar itu menjadi semacam “pemandu kecil” di booth miliknya. Ketika pengunjung penasaran bagaimana selembar kain bisa berubah menjadi Karawo, ia tidak harus berulang kali menjelaskan prosesnya dari awal.

Pengunjung cukup melihat tahapan yang telah disiapkan.

Cara sederhana itu sekaligus memperlihatkan bahwa di balik selembar Karawo terdapat proses panjang, ketelitian, kesabaran dan keterampilan tangan.

Hampir Empat Dekade

Bagi Ramlah, kesempatan hadir di GKK dan Harfest 2026 membawa makna yang lebih panjang daripada beberapa hari pameran.

Ia telah menyulam sejak 1987. Artinya, hampir empat dekade hidupnya bersentuhan dengan Karawo.

Dari masa ketika pemasaran masih mengandalkan pertemuan langsung hingga zaman ketika produk UMKM dapat dikenal melalui media sosial, Ramlah tetap mengerjakan satu hal yang sama: menjaga keterampilan menyulam tetap hidup.

Baca Juga:  Alat Berat Akhirnya Dipulangkan, Warga Tolau Ucapkan Terima Kasih kepada Kapolsek hingga Camat

Namun ia sadar, perjalanan Karawo tidak cukup hanya bertumpu pada generasinya.

Karena itu, di balik kegembiraannya mendapat ruang di GKK dan Harfest 2026, tersimpan harapan agar semakin banyak anak muda mengenal, mempelajari dan meneruskan keterampilan tersebut.

Bagi Ramlah, pameran akhirnya bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Di booth kecilnya, orang bisa melihat bagaimana sebuah tradisi bertahan melalui tangan seorang penyulam, bagaimana karya puluhan tahun menemukan pasar, dan bagaimana Karawo terus mencari generasi yang akan meneruskannya.

Ramlah mungkin datang ke GKK dan Harfest 2026 membawa kain Karawo untuk dijual.

Namun yang sebenarnya ia bawa jauh lebih panjang: hampir empat dekade cerita yang dijahit melalui benang dan kain.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel