Hibata.id, Pohuwato – Pemerintah Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, mulai memperkuat peran pendidikan tinggi untuk menggerakkan potensi ekonomi daerah.
Salah satu langkahnya ialah mempercepat pembentukan fakultas dan program studi baru di Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka Kampus Buton Tengah.
Pengembangan kampus tersebut diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan, perikanan, sains, dan teknologi.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mengembangkan ekonomi biru di Negeri Seribu Gua.
Bupati Buton Tengah Azhari menyampaikan hal itu dalam workshop perancangan dan pembentukan program studi baru bersama jajaran pimpinan USN Kolaka.
Ia mengatakan pemerintah daerah terus mendorong percepatan administrasi pembentukan fakultas baru.
Rekomendasi awal dari kementerian terkait disebut telah terbit sekitar dua bulan sebelumnya. Namun, penyerahan surat keputusan (SK) masih menunggu proses kelembagaan di tingkat universitas.
“Kami berharap proses ini segera mendorong percepatan pembentukan fakultas. Rekomendasi dari Pak Menteri sebenarnya sudah ada sejak dua bulan lalu, hanya saja penyerahannya sempat tertunda,” ujar Azhari.
Untuk mendukung pengembangan kampus, Pemkab Buton Tengah menyiapkan dana hibah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Anggaran tersebut akan digunakan untuk mendukung pembentukan fakultas dan program studi baru.
Pemerintah daerah juga menyiapkan beasiswa sekitar Rp250 juta bagi mahasiswa baru. Bantuan ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi pelajar lokal untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Selain itu, Pemkab Buton Tengah berencana menghadirkan profesor dan pakar dari sejumlah perguruan tinggi. Mereka akan memberikan kuliah umum secara berkala, khususnya pada bidang sains, matematika, dan fisika.
Pengembangan kampus USN di Buton Tengah juga diarahkan untuk mendukung sektor unggulan daerah. Salah satu yang menjadi perhatian ialah perikanan, termasuk potensi budi daya baby lobster.
Azhari menyebut aktivitas penjualan baby lobster pada 2025 menunjukkan besarnya peluang ekonomi sektor tersebut. Menurut dia, potensi perputaran uangnya dapat mencapai triliunan rupiah jika dikelola secara optimal.
“Tahun 2025, Buton Tengah mencatat penjualan baby lobster yang masif. Kita kalikan jika per kilogramnya berisi 10 ekor, maka potensi perputaran ekonomi dari sektor ini bisa mencapai triliunan rupiah per tahun,” kata Azhari.
Ia berharap pengembangan sektor perikanan mendapat dukungan pemerintah pusat dan perguruan tinggi. Dengan demikian, masyarakat pesisir tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas produksi dan nilai jualnya.
Pemkab Buton Tengah juga membuka peluang kerja sama dengan USN Kolaka dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengembangan potensi daerah.
Sementara itu, Rektor USN Kolaka Syarifuddin Tundreng menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan kampus di Buton Tengah.
Menurut dia, pembentukan program studi baru menjadi langkah penting untuk mendorong kampus tersebut berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang mandiri.
“Saya dan Bapak Bupati Buton Tengah memegang komitmen kuat untuk menjadikan kampus di Buton Tengah ini sebagai institusi tersendiri. Kami di perguruan tinggi wajib mendukung penuh visi-misi daerah agar pendidikan di Buton Tengah berkembang setara dengan daerah-daerah di Pulau Jawa,” kata Syarifuddin.
Didukung Lahan 80 Hektare
Pengembangan kampus tersebut juga mendapat dukungan dari masyarakat. USN Kolaka mengapresiasi Mutalib, tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD, yang mewakafkan lahan seluas 80 hektare untuk pembangunan kampus di Buton Tengah.
Dari sisi akademik, USN Kolaka menyiapkan pengembangan kurikulum berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Pendekatan ini mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dalam proses pembelajaran.
Kurikulum tersebut diharapkan menjawab kebutuhan daerah, terutama dalam pengelolaan sumber daya kelautan, perikanan, pertanian, dan lingkungan pesisir.
Syarifuddin menilai penguasaan teknologi penting untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Sebab, sebagian pengolahan sumber daya di Buton Tengah masih menggunakan cara manual.
“Selama ini pengolahan sumber daya di Buton Tengah masih mendominasi cara-cara manual. Kehadiran prodi baru berorientasi STEM akan melahirkan teknologi tepat guna. Mahasiswa dan dosen akan berkolaborasi menyelesaikan persoalan nyata masyarakat nelayan maupun petani agar produk daerah memiliki nilai jual lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menegaskan workshop tersebut harus menghasilkan rekomendasi konkret. Beberapa hal yang perlu dibahas meliputi pemetaan potensi daerah, profil lulusan, kesiapan laboratorium, dan ketersediaan tenaga pengajar.
Syarifuddin juga mengingatkan mahasiswa agar percaya diri dan mampu bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya.
Ia meminta mahasiswa membuktikan kualitas melalui prestasi akademik, penguasaan teknologi, dan kontribusi bagi masyarakat.
Workshop tersebut turut dihadiri perwakilan LLDikti Wilayah IX, asesor LAM-PT Pertanian, jajaran pimpinan daerah, kepala sekolah, perwakilan perbankan, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan.












