Kota Gorontalo

Terpencar Saat Operasi Semut, Kontingen Jamnas Kota Gorontalo Justru Dipanggil ke Panggung Kehormatan

×

Terpencar Saat Operasi Semut, Kontingen Jamnas Kota Gorontalo Justru Dipanggil ke Panggung Kehormatan

Sebarkan artikel ini
Para Pramuka Penggalang Kota Gorontalo. (Foto: Humas)
Para Pramuka Penggalang Kota Gorontalo. (Foto: Humas)

Hibata.id – Ada cerita kecil yang mencuri perhatian pada hari pertama Jambore Nasional (Jamnas) XII Gerakan Pramuka 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur.

Usai upacara pembukaan pada Jumat sore, ketika ribuan peserta mulai meninggalkan lapangan utama dan kembali ke camp masing-masing, anggota Kontingen Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo justru belum beranjak ke perkemahan.

Mereka melakukan operasi semut.

Bersama sejumlah peserta dari Kwartir Cabang se-Provinsi Gorontalo, anak-anak Pramuka itu menyebar di sekitar lokasi kegiatan. Mereka memunguti botol plastik, kertas, kemasan makanan, dan berbagai sampah yang tertinggal setelah rangkaian pembukaan.

Menjelang Magrib, kontingen yang sebelumnya berkumpul pun terpencar. Bukan karena kehilangan arah, melainkan karena masing-masing bergerak membersihkan lingkungan.

Di situlah cerita menarik tersebut bermula.

“Kontingen Kota Gorontalo, Berkumpul di Depan Panggung Kehormatan”

Karena anggota kontingen berada di sejumlah titik, Pimpinan Kontingen Cabang (Pinkoncab) Kota Gorontalo, Kak Muhajir, meminta bantuan pembawa acara Jamnas untuk mengumumkan agar seluruh anggota segera berkumpul.

Dari pengeras suara terdengar pengumuman: “Kontingen Jamnas Kota Gorontalo, dimohon berkumpul di depan panggung kehormatan.”

Baca Juga:  Sekda Ismail Madjid Resmikan TPQ Al-Adha, Tegaskan Komitmen Kota Islami

Anak-anak yang masih berada di berbagai titik kemudian perlahan kembali menuju depan panggung kehormatan.

Yang menarik, mereka dipanggil bukan karena terlambat mengikuti kegiatan atau melanggar aturan. Mereka justru sedang menjalankan kegiatan yang tidak kalah penting: membersihkan lokasi setelah digunakan.

Operasi semut yang awalnya berlangsung sederhana itu akhirnya menjadi salah satu cerita khas kontingen Kota Gorontalo di Jamnas XII.

Kebiasaan yang Dibawa dari Gorontalo

Apa yang dilakukan anak-anak tersebut bukan kebetulan. Di Gorontalo, ada pesan yang terus digaungkan Wali Kota Gorontalo H. Adhan Dambea: setiap kegiatan selesai, lokasi harus kembali bersih.

Kebiasaan itu kemudian dibawa anak-anak Pramuka Kota Gorontalo ke Cibubur.

Mereka tidak menunggu panitia. Tidak menunggu petugas kebersihan. Mereka juga tidak menunggu instruksi khusus.

Begitu kegiatan selesai dan melihat sampah berserakan, mereka bergerak.

Memungut. Mengumpulkan. Membersihkan.

Sederhana. Tetapi justru dalam tindakan semacam itulah pendidikan karakter terlihat.

“Torang Bekeng Bae” dalam Tindakan

Semangat “Torang Bekeng Bae” yang dirintis Wali Kota Gorontalo H. Adhan Dambea menemukan bentuknya dalam tindakan kecil tersebut.

Baca Juga:  Wawali Indra Gobel Lepas Kafilah MTQ Kota Gorontalo, Tekankan Nilai Syiar dan Pengamalan Al-Qur’an

“Torang Bekeng Bae” bukan sekadar ucapan. Semangat itu mengandung pesan tentang tanggung jawab bersama untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.

Bukan hanya ketika sedang dilihat. Bukan hanya ketika ada penilaian. Tetapi juga ketika tidak ada yang memperhatikan.

Di Cibubur, anak-anak Gorontalo menunjukkan bahwa kebiasaan yang dibangun terus-menerus pada akhirnya dapat berjalan secara alami.

Mereka tidak sibuk bertanya siapa yang membuang sampah. Mereka memilih menjawab persoalan itu melalui tindakan: apa yang bisa torang bekeng bae?

Karakter Terlihat Saat Tak Ada Panggung

Jamnas XII diikuti lebih dari 21 ribu Pramuka Penggalang dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara sahabat. Di tengah perhelatan sebesar itu, aksi operasi semut mungkin terlihat sederhana.

Namun justru tindakan kecil semacam itulah yang dapat menunjukkan hasil sebuah pembinaan.

Karakter tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di atas panggung. Karakter juga terlihat ketika tidak ada panggung.

Ia terlihat ketika seorang anak bersedia memungut sampah yang bukan dibuangnya. Ketika seorang peserta menjaga tempat yang bukan miliknya. Dan ketika sekelompok anak rela terpencar demi memastikan lingkungan kembali bersih.

Baca Juga:  Ismail Madjid: Pemimpin Jangan Hanya Bekerja dari Balik Meja

Bagi Kontingen Kota Gorontalo, kehadiran di Jamnas bukan semata-mata tentang mengikuti agenda nasional. Ada kebiasaan dari daerah yang mereka bawa. Ada karakter yang ingin mereka tunjukkan. Ada identitas yang ingin mereka perkenalkan.

Salah satunya adalah semangat Torang Bekeng Bae.

Senja yang Berkesan di Cibubur

Menjelang Magrib, setelah operasi semut selesai, anak-anak kembali berkumpul di depan panggung kehormatan.

Mereka mungkin tidak menyangka tindakan sederhana itu membuat kontingen mereka sampai harus dipanggil melalui pengeras suara.

Namun justru di situlah letak ceritanya.

Mereka terpencar bukan karena kehilangan arah. Mereka terpencar karena sedang menjalankan tanggung jawab.

Ketika akhirnya kembali berkumpul, mereka membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar kebersihan lokasi: kegiatan yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita memulainya, tetapi juga bagaimana kita meninggalkannya.

Dari Gorontalo ke Cibubur. Dari kebiasaan menjadi karakter. Dari tindakan kecil menjadi pesan besar.

Torang Bekeng Bae.

Sebab tempat yang digunakan bersama adalah tanggung jawab bersama.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel