“Harapan kami sederhana, pemerintah bisa membenahi saluran air. Kalau tidak, setiap musim hujan kami hanya bisa pasrah,” tambahnya.
Camat Marisa, Huntoyungo SE., MM, membenarkan banjir di Botubilotahu memang rumit. Ia menyebut ada dua sumber penyebab: aliran air dari desa itu sendiri, ditambah luapan Sungai Bulangita yang kemudian bertemu di sekitar Polres Pohuwato dan Kantor Badan Pertanahan.
“Kejadian ini berulang setiap musim hujan, dan sudah berlangsung sejak 2016. Kami sudah melaporkannya ke dinas teknis, khususnya Dinas Pekerjaan Umum. Insyaallah akan segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
Bagi warga Botubilotahu, banjir sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak hampir satu dekade terakhir. Mereka hidup berdampingan dengan ancaman air yang bisa datang kapan saja, bahkan hanya dengan hujan ringan.
Masyarakat berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar laporan dari tahun ke tahun. Karena bagi warga Botubilotahu, setiap tetes hujan bukan lagi tanda kesuburan, melainkan tanda dimulainya derita yang belum kunjung berakhir.














