Hibata.id, Gorontalo – Sejumlah tokoh agama, akademisi, pemerintah, insan pers, dan generasi muda mengikuti diskusi publik bertajuk “Menyikapi Fenomena LGBT di Kalangan Pemuda Gorontalo” yang diinisiasi Wahdah Islamiyah Kota Gorontalo, Jumat (26/6/2026).
Forum tersebut membahas berbagai pandangan mengenai isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), termasuk pentingnya penguatan peran keluarga, pendidikan, serta literasi digital dalam menyikapi fenomena yang menjadi perhatian sebagian masyarakat.
Diskusi itu juga menghasilkan rencana audiensi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo serta mendorong agar usulan mengenai regulasi daerah terkait isu tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah.
Dalam forum tersebut, tokoh Wahdah Islamiyah Gorontalo, Ustad Yusuf Lauma, mengajak masyarakat memperkuat nilai-nilai agama dan budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gorontalo.
“Kembali pada fitrah adalah kembali pada ajaran nenek moyang dan pendahulu kita,” ujar Yusuf Lauma.
Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai fenomena biseksual. Menurutnya, hubungan yang harmonis dalam keluarga menjadi salah satu aspek penting yang perlu terus dijaga.
“Biseks itu terjadi karena ada penyimpangan dalam hubungan suami-istri. Sehingganya, ini menjadi penting untuk melakukan evaluasi mendalam dalam hubungan keluarga,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber dalam forum diskusi.
Soroti peran pendidikan usia dini
Pandangan lain disampaikan Ustad Ishak Bakari, yang menyoroti pentingnya keseimbangan figur laki-laki dan perempuan dalam proses pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, keberadaan guru laki-laki di tingkat taman kanak-kanak dapat menjadi salah satu faktor pendukung dalam pembentukan karakter anak.
“Dari segi pendidikan, kita kekurangan guru laki-laki di TK. Bisa jadi dominasi imunitas anak itu dibangun karena banyak didominasi guru perempuan,” ujarnya.
Influencer ajak bijak bermedia sosial
Sementara itu, penulis muda sekaligus influencer asal Gorontalo, Sandy S. Nina, mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial secara aktif untuk menyampaikan pandangan sesuai nilai yang diyakini.
Menurutnya, ruang digital menjadi salah satu sarana penting dalam membangun edukasi kepada masyarakat.
“Peranan kita dalam bersosial media juga harus terus masif untuk melawan para pelaku LGBT,” kata Sandy.
Ia juga mengaitkan pandangannya dengan falsafah daerah Gorontalo yang dikenal dengan prinsip “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.”
“Selama falsafah Gorontalo tidak bergeser, bahwa adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah, maka itu menjadi pedoman masyarakat Gorontalo,” ujarnya.
Forum hasilkan sejumlah rekomendasi
Diskusi yang berlangsung di Kota Gorontalo itu dihadiri unsur Pemerintah Kota Gorontalo, pengurus Wahdah Islamiyah tingkat wilayah dan kota, akademisi, insan pers, serta kalangan muda.
Dalam forum tersebut, peserta menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya memperkuat edukasi keluarga, meningkatkan literasi digital, serta melakukan audiensi dengan MUI Gorontalo terkait pandangan keagamaan mengenai isu LGBT.
Selain itu, peserta juga menyampaikan dukungan agar usulan mengenai Peraturan Daerah (Perda) yang berkaitan dengan isu LGBT mendapat perhatian pemerintah daerah.
Diskusi ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara tokoh agama, dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat pendidikan karakter, nilai budaya, serta ruang dialog di tengah masyarakat Gorontalo.













