Hibata.id, Bone Bolango – Kasus temuan belatung dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, masih jadi bahan obrolan serius hingga bikin geleng kepala.
Bukan cuma soal makanan, tapi juga soal logika yang terasa jungkir balik.
Ceritanya begini, seorang ibu rumah tangga mendapati anaknya membawa pulang MBG dengan lauk ayam yang diduga bonus protein ekstra—belatung.
Normalnya, orang bakal komplain. Tapi di kasus ini, justru sang ibu muncul dalam video klarifikasi sambil minta maaf.
Ia membacakan pernyataan didampingi pihak SPPG Tihu dan aparat desa. Nah, di sinilah publik mulai mengernyit.
Kalau makanannya bermasalah, kenapa yang hampir makan malah minta maaf?
Praktisi hukum Gorontalo, Muhamad Saleh Gasin, juga ikut heran.
“Kalau melihat situasinya, ini seperti terbalik. Yang seharusnya menjelaskan dan meminta maaf itu penyelenggara program, bukan warga,” kata Saleh.
Ia bahkan menyebut ada informasi bahwa klarifikasi tersebut bukan murni inisiatif keluarga.
“Kalau benar ada keterlibatan aparat, ini tentu menjadi catatan serius. Warga harusnya dilindungi, bukan diarahkan,” katanya.
Singkatnya, ini bukan cuma soal belatung. Ini sudah masuk wilayah siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab.
Mahasiswa Turun Gunung
Belum juga reda, gelombang kritik makin ramai. Mahasiswa dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Bone Pesisir (IPMBP) sudah ancang-ancang turun ke jalan pada 20–21 April 2026.
Mereka datang bukan cuma bawa spanduk, tapi juga daftar menu tuntutan.
Mulai dari evaluasi kualitas makanan, pengawasan distribusi, sampai dugaan tekanan ke warga untuk bikin video klarifikasi.
Kalau benar, ini bukan lagi program makan bergizi. Ini sudah paket lengkap: makan + drama + produksi konten klarifikasi.

Regional SPPG Gorontalo
Koordinator Regional SPPG Gorontalo, Zulkifli Talhumala, buru-buru meluruskan posisi. Katanya, mereka ini lebih ke tim koordinasi, bukan penentu kebijakan teknis.
“Kami ini hanya koordinatif, bukan pengambil kebijakan langsung,” kata Zulkifli.
Artinya, kalau diibaratkan pertandingan bola, mereka bukan yang pegang bola—lebih ke yang teriak dari pinggir lapangan.
Soal video klarifikasi yang viral, Zulkifli juga mengaku kaget.
“Saya tidak pernah ketemu dengan yang bersangkutan. Itu masih kami telusuri,” ujarnya.
Ia bahkan menilai langkah meminta penerima manfaat untuk klarifikasi itu kurang tepat.
“Tidak etis sebenarnya kalau yang melakukan klarifikasi itu penerima manfaat,” katanya.
Namun, satu hal yang cukup menarik, pengawasan ternyata punya batas wilayah.
“Kalau makanan sudah dibawa pulang, itu di luar pengawasan kami,” katanya.
Jadi, pengawasan kuat di dapur, tapi agak longgar setelah sampai rumah. Ibarat nasi sudah jadi, tinggal nasib di tangan siapa sendok itu bakal jatuh.
Kini publik menunggu, apakah polemik ini akan berujung perbaikan sistem atau justru makin panjang ceritanya.
Dengan aksi mahasiswa yang tinggal hitungan hari, isu MBG di Bone Bolango tidak lagi sekadar soal makanan.
Ini sudah soal kepercayaan.
Dan seperti kita tahu, memperbaiki kepercayaan itu jauh lebih sulit daripada sekadar memastikan ayam di piring bebas dari “penumpang gelap”.













