Hibata.id, Pohuwato – Meluasnya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato terus dikeluhkan petani di Kecamatan Duhiadaa.
Mereka menilai sedimentasi yang masuk ke saluran irigasi membuat hasil panen terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Data MapBiomas Indonesia mencatat luas lubang tambang di Pohuwato mencapai 1.165 hektare pada 2024, tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir.
Sementara pembukaan lahan untuk aktivitas pertambangan diperkirakan mencapai rata-rata 90 hektare per tahun.
Petani Duhiadaa mengaku, kondisi irigasi kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam.
Air yang sebelumnya jernih kini kerap berubah keruh dan membawa lumpur setiap kali hujan turun di kawasan hulu.
“Dulu air selalu bersih dan cukup untuk semua petani. Sekarang setiap hujan, air berubah seperti lumpur,” kata petani Duhiadaa, Darwin Djafar.
Menurut Darwin, dampaknya langsung terasa pada produksi padi. Jika sebelumnya satu pantango sawah mampu menghasilkan sekitar 30 karung gabah, kini hanya berkisar 15 karung.
Keluhan serupa disampaikan Suproto Djafar. Ia mengatakan saluran irigasi semakin dangkal akibat endapan lumpur sehingga kapasitas tampung air terus berkurang.
“Sedikit hujan deras saja, air langsung meluap ke sawah,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani mulai mengurangi luas tanam karena khawatir mengalami kerugian berulang. Mereka menduga sedimentasi berasal dari kawasan hulu yang mengalami pembukaan lahan secara masif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo menunjukkan potensi luas panen padi Januari-Maret 2026 mencapai 17.050 hektare atau turun 13,07 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi padi juga diperkirakan turun 15,98 persen menjadi 101.540 ton.
Kepala Dinas Pertanian Pohuwato, Kamri Alwi, mengakui sekitar 400 hektare sawah di Duhiadaa terdampak persoalan irigasi.
Namun, ia enggan mengaitkan kondisi tersebut dengan aktivitas PETI karena bukan kewenangan instansinya.
Meski demikian, pihaknya telah melakukan rehabilitasi 13 saluran irigasi tersier pada 2025 dan meminta dukungan berbagai pihak untuk membantu pengerukan saluran yang mengalami pendangkalan.
“Sudah kami laporkan ke dinas terkait agar segera ditangani,” kata Kamri.
Bagi petani Duhiadaa, persoalan irigasi bukan sekadar masalah teknis pertanian, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga yang selama ini bergantung pada hasil panen padi.











