Scroll untuk baca berita
Lingkungan

Pencemaran Merkuri di Pohuwato: Jejak Panjang Dampak PETI dalam Riset Ilmiah

×

Pencemaran Merkuri di Pohuwato: Jejak Panjang Dampak PETI dalam Riset Ilmiah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Pencemaran Merkuri di Pohuwato/Hibata.id
Ilustrasi - Pencemaran Merkuri di Pohuwato/Hibata.id

Hibata.id – Aliran sungai di Kabupaten Pohuwato selama bertahun-tahun menjadi bagian penting bagi kehidupan warga, mulai dari sumber air, lahan pertanian, hingga ekosistem perairan.

Namun, sejumlah riset ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) perlahan mengubah kondisi lingkungan di wilayah tersebut.

Temuan terbaru datang dari penelitian Novriyal dkk. (2024) yang dipublikasikan dalam International Journal of Humanities, Education and Social Sciences.

Studi ini mencatat adanya penurunan kualitas lingkungan di sekitar lokasi PETI, khususnya pada air permukaan, air tanah, dan ekosistem perairan.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menelusuri alur limbah hasil pengolahan emas.

Limbah itu dibuang langsung ke lingkungan tanpa proses pengolahan, lalu mengalir mengikuti sistem sungai hingga ke wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Marisa.

Proses ini, menurut peneliti, memicu sedimentasi berat dan menurunkan fungsi lahan pertanian di sekitarnya.

Baca Juga:  Tambang PGP Dikecam PMII Pohuwato, Cemari Lingkungan hingga Rusak Sekolah

“Limbah hasil pengolahan emas yang dibuang langsung ke lingkungan menyebabkan gangguan pada ekosistem sungai dan lahan pertanian,” tulis Novriyal dalam laporannya.

Cerita serupa muncul dari penelitian Barakati dkk. (2024) yang dimuat dalam Jurnal Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro.

Penelitian ini memetakan kondisi DAS di Kecamatan Buntulia, salah satu wilayah dengan aktivitas PETI yang intens.

Hasilnya menunjukkan seluruh segmen DAS berada dalam kondisi tercemar, dengan tingkat pencemaran yang berbeda-beda.

Sejumlah parameter fisik dan kimia air tercatat melampaui baku mutu lingkungan. Kondisi tersebut menandakan bahwa air di kawasan itu tidak lagi berfungsi optimal, baik untuk kebutuhan ekosistem maupun aktivitas masyarakat.

“Aktivitas penambangan emas tanpa izin berkontribusi pada penurunan kualitas air permukaan dan air tanah,” tulis Barakati.

Jika ditarik ke belakang, jejak pencemaran ini bukan hal baru. Penelitian Ramli Utina dari Universitas Negeri Gorontalo pada 2015 telah menemukan paparan merkuri pada jaringan tubuh burung perairan pesisir di Pohuwato. Burung-burung tersebut menjadi indikator biologis bahwa logam berat telah masuk ke dalam rantai makanan.

Baca Juga:  WALHI Sulteng: Lumbung Pangan Dikorbankan demi Legalisasi Tambang

“Paparan merkuri teridentifikasi pada jaringan tubuh burung perairan pesisir, yang mengindikasikan akumulasi logam berat dari aktivitas penambangan emas,” tulis Utina.

Rangkaian penelitian dari 2015 hingga 2024 menggambarkan satu pola yang konsisten. Pencemaran merkuri akibat PETI bersifat kronis, berlangsung lama, dan terakumulasi. Dampaknya tidak hanya terbatas pada air dan tanah, tetapi juga merambah ke organisme hidup dan sistem pangan.

Di tingkat masyarakat, dampak tersebut mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Petani di sekitar lokasi PETI melaporkan penurunan produktivitas sawah akibat endapan sedimen limbah tambang.

Kekhawatiran muncul terkait keamanan gabah dan beras yang dihasilkan dari lahan tersebut.

Baca Juga:  Melacak Jejak Anoa di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pohuwato juga menemukan jejak merkuri pada sedimen persawahan warga. Selain itu, sebagian masyarakat mengeluhkan gangguan kesehatan ringan, seperti iritasi dan gatal-gatal pada kulit setelah beraktivitas di sungai dan lahan pertanian.

Kekhawatiran tidak berhenti di situ. Warga mulai mempertanyakan keamanan mengonsumsi ikan dari sungai dan hasil pertanian dari lahan yang terpapar.

Dalam kajian ilmiah, paparan merkuri dalam jangka panjang diketahui berpotensi mengganggu sistem saraf, fungsi organ, dan kesehatan reproduksi.

Melalui rangkaian temuan ilmiah tersebut, para peneliti menegaskan bahwa persoalan pencemaran merkuri akibat PETI di Pohuwato bukanlah kejadian sesaat.

Ia berkembang perlahan, meninggalkan jejak panjang pada lingkungan dan kehidupan masyarakat, serta menuntut perhatian dan penanganan yang berkelanjutan berbasis data ilmiah.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel