Scroll untuk baca berita
Kabar

Kematian Pemuda Pohuwato di Lokasi PETI Bulangita Masih Jadi Misteri

×

Kematian Pemuda Pohuwato di Lokasi PETI Bulangita Masih Jadi Misteri

Sebarkan artikel ini
Kasus kematian Mahmud Lihawa di Pohuwato menimbulkan tanda tanya. Keluarga korban menunggu otopsi/Hibata.id
Kasus kematian Mahmud Lihawa di Pohuwato menimbulkan tanda tanya. Keluarga korban menunggu otopsi/Hibata.id

Hibata.id – Peyebab kematian Mahmud Lihawa (18), pemuda asal Dusun Banjar II, Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, hingga kini masih menjadi misteri.

Bahkan pihak keluarga korban masih menunggu proses otopsi yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (9/3/2026).

Saat ini Jenazah Mahmud masih berada di Rumah Sakit Bumi Panua (RSBP) Pohuwato. Keluarga korban tetap bersikeras agar otopsi dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian yang mereka nilai masih menyisakan banyak pertanyaan.

Seorang warga yang dekat dengan keluarga korban mengatakan dirinya sempat mendampingi keluarga saat mendatangi rumah sakit untuk memastikan perkembangan penanganan kasus tersebut.

“Saya tadi sempat ke rumah sakit bersama keluarga korban. Jenazah masih berada di sana dan keluarga tetap meminta agar otopsi dilakukan,” ujarnya saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa keluarga korban telah mengonfirmasi langsung kepada pihak rumah sakit mengenai jadwal pelaksanaan otopsi.

Namun, dokter yang memiliki kewenangan melakukan tindakan tersebut diketahui sedang berada di wilayah Sulawesi Utara.

Baca Juga:  Cek Sekarang! BSU 2025 Sudah Cair, Apakah Nama Anda Termasuk Penerima?

“Kami sudah konfirmasi ke direktur rumah sakit. Dokter yang melakukan otopsi saat ini berada di Sulawesi Utara, sehingga kemungkinan pelaksanaannya baru bisa dilakukan pada hari Senin,” katanya.

Meski harus menunggu beberapa hari, keluarga korban memilih tetap berada di rumah sakit. Mereka berharap proses otopsi dapat segera dilakukan agar penyebab kematian Mahmud terungkap secara jelas.

“Keluarga tetap bertahan di rumah sakit. Mereka ingin kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RS Bumi Panua Pohuwato, dr. Dian Tambunan, membenarkan bahwa pihak rumah sakit telah menerima permintaan otopsi terhadap jenazah Mahmud Lihawa.

Menurutnya, rumah sakit siap melaksanakan prosedur tersebut sesuai jadwal yang telah direncanakan.

“Jenazah ada dan rumah sakit siap melakukan otopsi yang dijadwalkan pada hari Senin,” kata Dian saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Jumat (6/3).

Ia menjelaskan bahwa penundaan pelaksanaan otopsi bukan disebabkan keterbatasan fasilitas rumah sakit, melainkan karena dokter yang berwenang melakukan tindakan tersebut sedang tidak berada di Gorontalo.

Baca Juga:  NasDem Tegaskan Tak Terlibat Bisnis MBG, PDIP Larang Kader Kelola Dapur SPPG

“Otopsi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Saat ini dokter yang memiliki kewenangan sedang berada di luar daerah. Selain itu, otopsi juga memerlukan koordinasi dan persiapan tertentu,” jelasnya.

Dian menegaskan bahwa proses otopsi berbeda dengan penanganan pasien darurat di rumah sakit.

“Otopsi adalah tindakan medis yang membutuhkan kesiapan dari berbagai pihak. Ada prosedur dan permintaan resmi yang harus dipenuhi terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa setelah proses otopsi selesai, pihak rumah sakit akan memberikan penjelasan resmi kepada publik mengenai hasil pemeriksaan tersebut.

“Kami akan menyampaikan hasilnya secara resmi setelah otopsi selesai dilakukan,” katanya.

Sebelumnya, Mahmud Lihawa ditemukan meninggal dunia pada Kamis (5/3/2026). Kabar kematian pemuda tersebut langsung menyebar di tengah masyarakat dan memunculkan berbagai pertanyaan.

Sejumlah warga mengaku melihat adanya luka di beberapa bagian tubuh korban.

Baca Juga:  PETI Dengilo Hancurkan Infrastruktur Jalan, Kades hingga Polda Gorontalo Tutup Mata

Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa luka terlihat di bagian wajah, perut, hingga kedua kaki korban. Warga juga menemukan bekas luka di bagian leher yang diduga menyerupai jeratan.

“Kalau dilihat sekilas, kondisinya menimbulkan tanda tanya karena ada beberapa luka di tubuh korban serta bekas seperti jeratan di leher,” ungkapnya.

Hal lain yang turut menimbulkan perhatian warga adalah proses pengantaran jenazah Mahmud ke rumah keluarganya di Desa Bumbulan.

Menurut informasi warga, jenazah korban diantar oleh seorang pria bernama Daeng Fira.

Sebagian warga menilai peristiwa tersebut seharusnya lebih dahulu dilaporkan kepada pihak kepolisian agar aparat dapat mendatangi lokasi kejadian dan melakukan pemeriksaan awal.

Hingga kini, keluarga Mahmud Lihawa masih menunggu proses otopsi yang dijadwalkan pada Senin mendatang, dengan harapan penyebab kematian pemuda tersebut dapat terungkap secara terang.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel