Kabar

Duh! Belatung Muncul di Menu MBG Bone Pantai, Ini Penjelasan Resmi

×

Duh! Belatung Muncul di Menu MBG Bone Pantai, Ini Penjelasan Resmi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak layak konsumsi/Hibata.id
Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak layak konsumsi/Hibata.id

Hibata.id, Bone Bolango – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan, kembali menawarkan kejutan tambahan.

Kali ini bukan ekstra lauk, melainkan belatung di dalam menu ayam yang diterima siswa di Kecamatan Bone Pantai.

Peristiwa ini sontak mengundang tanda tanya, ini soal waktu makan, atau memang ada yang luput dalam sistem?

Informasi yang dihimpun Hibata.id, makanan yang didistribusikan melalui SPPG Tihu awalnya terlihat normal.

Tidak berbau, tidak mencurigakan, bahkan secara kasat mata tampak layak untuk santap.

Namun, cerita berubah saat makanan itu dibawa pulang oleh seorang siswa. Mungkin karena masih kenyang, atau sekadar ingin makan lebih santai di rumah.

Baca Juga:  Ekonomi Indonesia 2025 Diproyeksi Tumbuh 5,1%, Tantangan Masih Mengintai

Beberapa jam kemudian, tepatnya malam hari, lauk ayam tersebut justru hidup kembali. Bukan karena segar, melainkan karena munculnya belatung putih yang bergerak di dalam daging.

Kalau sudah begini, publik pun bertanya, apakah ini soal disiplin waktu makan, atau kualitas makanan yang memang perlu diuji lebih serius?

Penjelasan Pihak BGN

Pihak Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Bone Bolango akhirnya memberikan penjelasan yang cukup rinci.

Baca Juga:  Relokasi Tiga Dusun di Pohuwato: Isu atau Kenyataan yang Disembunyikan?

Mereka menyatakan makanan dalam kondisi baik saat didistribusikan ke sekolah.

Masalah muncul, menurut mereka, karena makanan dikonsumsi melebihi batas waktu.

Standar yang ditetapkan, makanan MBG wajib dikonsumsi maksimal 4 jam setelah dibagikan. Lewat dari itu? Ya, risikonya ditanggung sendiri.

Koordinator Regional BGN Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, bahkan juga mengingatkan bahwa makanan MBG memang tidak untuk dibawa pulang.

“Kalau dibawa ke rumah, kualitasnya tidak bisa dijamin. Kalau tidak mau dimakan, sebaiknya dikembalikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Tertunda dan Tanpa Papan Proyek, Pekerjaan Jalan Desa di Buntulia Barat ini Mencurigakan

Penjelasan ini justru memancing pertanyaan baru. Sebab, tidak semua siswa langsung makan di tempat.

Ada yang menunggu, ada yang membawa pulang, bahkan ada yang menyimpannya karena belum lapar.

Kalau makanan hanya aman selama 4 jam, apakah sistem distribusinya sudah benar-benar siap? Atau jangan-jangan, ini makanan sehat dengan syarat dan ketentuan berlaku?

Pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar soal belatung. Ini tentang kepercayaan masyarakat terhadap program Presiden Prabowo.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel