Kabar

UMKM Tertekan Harga Plastik, Diskumperindag Gorontalo Tidur Tak Punya Solusi

×

UMKM Tertekan Harga Plastik, Diskumperindag Gorontalo Tidur Tak Punya Solusi

Sebarkan artikel ini
Dinas UMKM, Koperasi, dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo/Hibata.id
Dinas UMKM, Koperasi, dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo. Foto: Diskumperindag (fb) /Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Kalau biasanya yang bikin pelaku UMKM panas dingin itu harga cabai, sekarang giliran plastik kemasan yang bikin dompet ikut menjerit.

Di Gorontalo, harga plastik naik bukan kaleng-kaleng dan langsung lompat jauh.

Kondisi ini bikin pelaku usaha harus mikir ulang tiap bungkus makanan yang mereka jual.

Kenaikan ini bukan cuma sekadar angka di nota belanja. Bagi pelaku UMKM, ini sudah masuk kategori drama produksi.

Sebab, tanpa plastik, dagangan susah jalan, tapi dengan harga sekarang, untung bisa ikut “menghilang”.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka, punya penjelasan yang tetap tenang di tengah gejolak harga.

“Kalau stok terbatas, harga pasti naik. Itu hukum pasar,” ujarnya.

Baca Juga:  TMMD ke-126 TNI Bangun Infrastruktur dan Harapan Baru di Desa Tonala Gorontalo

Santai tapi pasti, ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar non-subsidi sejak pertengahan April ikut mendorong biaya distribusi. Ujung-ujungnya? Ya, harga barang di pasar ikut naik.

Sementara pemerintah masih mengandalkan operasi pasar murah untuk menahan gejolak harga—meski fokusnya masih di bahan pokok. Plastik? Ya, belum masuk daftar prioritas.

“Operasi pasar itu untuk menjaga kestabilan harga, tapi kita juga punya keterbatasan anggaran,” kata Fayzal.

Di lapangan, ceritanya jauh lebih “berwarna”. Harga plastik pembungkus makanan yang biasanya sekitar Rp3.500 per pak, kini bisa tembus Rp7.000, bahkan lebih. Bukan naik pelan-pelan, tapi langsung “gaspol”.

Bagi pelaku usaha, ini bukan sekadar naik harga—ini ujian mental.

Baca Juga:  Semua Aktivis Gorontalo yang Dianiaya OTK, Diduga Akibat Kritik PETI Bekingan Oknum Aparat: Pelakunya Dikenali
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka/Hibata.id
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka/Hibata.id

“Kalau tidak ikut naikkan harga, kami rugi. Tapi kalau dinaikkan, pembeli juga berkurang,” ujar salah satu pelaku usaha makanan.

Dilema klasik: naik harga, pelanggan kabur. Tidak naik, usaha bisa “tutup buku” lebih cepat.

Pelaku usaha lain juga mengaku plastik itu bukan barang mewah yang bisa diganti seenaknya.

Ini kebutuhan wajib—ibarat nasi tanpa lauk, tetap bisa dimakan, tapi rasanya ada yang kurang… bahkan bisa bikin pelanggan kabur.

Meski keluhan sudah ramai terdengar, solusi konkret masih dalam tahap… pembahasan.

“Kita tidak bisa memutuskan sendiri. Harus dibahas bersama dengan para agen dan distributor,” ujar Fayzal.

Artinya, untuk saat ini, pemerintah masih dalam mode “diskusi dulu, eksekusi nanti”.

Baca Juga:  Pagi Hari di Bulan Puasa, Pria Terekam CCTV Curi Kotak Amal Masjid Pohuwato

Ia juga mengungkapkan bahwa distributor pun sedang menghadapi tekanan biaya operasional. Jadi, semua pihak sama-sama sedang “berkeringat”, hanya beda level panasnya saja.

Sejauh ini, opsi solusi yang muncul masih berupa wacana, termasuk kemungkinan rekomendasi kebijakan terkait bahan bakar untuk distributor.

Sementara itu, pelaku UMKM tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Setiap hari tetap harus produksi, tetap harus jualan—meski biaya terus naik tanpa jeda.

Di tengah situasi ini, satu hal yang pasti: plastik mungkin ringan di tangan, tapi sekarang terasa berat di biaya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel