Hibata.id, Gorontalo – Beberapa hari terakhir, langit Kecamatan Taluditi mendadak lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena musim layang-layang atau lomba drone, melainkan karena helikopter yang beberapa kali melintas di atas permukiman warga.
Suara baling-baling itu rupanya tidak hanya menggetarkan atap rumah, tetapi juga memancing berbagai pertanyaan.
Di warung kopi, teras rumah hingga media sosial, topik pembicaraan warga hampir sama, “Helikopter ini mau ke mana?”
Di tengah beragam dugaan yang beredar, dua tokoh pemuda Taluditi, Roni Palali dan Hasan Djafar, memilih menyampaikan sikap secara terbuka.
Mereka menyatakan menolak apabila aktivitas tersebut berkaitan dengan rencana masuknya perusahaan tambang berskala besar ke wilayah Taluditi.
“Kami berharap Taluditi tidak mengalami kondisi seperti daerah lain yang telah lebih dahulu menjadi kawasan pertambangan skala besar. Lingkungan harus tetap menjadi perhatian utama,” ujar keduanya dalam pernyataan yang dikutip dari Beritabaru.co, Kamis (23/7/2026).
Mereka menilai pembangunan tetap penting, namun harus memberikan manfaat yang seimbang bagi masyarakat dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Alih-alih menghadirkan perusahaan tambang berskala besar, Roni dan Hasan mengusulkan agar pemerintah mendorong pembentukan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sehingga masyarakat lokal memiliki kesempatan mengelola potensi sumber daya alam sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut mereka, skema tersebut dinilai lebih memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga keterlibatan warga dalam pengelolaan sumber daya di daerahnya sendiri.
“Yang kami inginkan adalah pembangunan yang berpihak kepada masyarakat, bukan pembangunan yang meninggalkan persoalan bagi generasi berikutnya,” kata mereka.
Keduanya juga mengajak masyarakat Taluditi menjaga persatuan dan menyampaikan aspirasi melalui jalur yang damai serta sesuai aturan.












