Kabar

Ketika Laut Tak Bersahabat, DWP Imigrasi Gorontalo Hadir untuk Nelayan Botubarani

×

Ketika Laut Tak Bersahabat, DWP Imigrasi Gorontalo Hadir untuk Nelayan Botubarani

Sebarkan artikel ini
DWP Imigrasi Gorontalo bersama PIMPASA menggelar bakti sosial dan edukasi digital bagi keluarga nelayan di Desa Botubarani, Bone Bolango/Hibata.id
DWP Imigrasi Gorontalo bersama PIMPASA menggelar bakti sosial dan edukasi digital bagi keluarga nelayan di Desa Botubarani, Bone Bolango/Hibata.id

Hibata.id, Bone Bolango Hidup di pesisir tidak selalu bersahabat. Ketika angin kencang membuat perahu tak bisa melaut. Penghasilan keluarga nelayan ikut terdampak.

Kondisi itulah yang menjadi salah satu perhatian Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo saat menyambangi Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.

Tak datang sendiri, DWP Imigrasi Gorontalo menggandeng Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA) dalam kegiatan bakti sosial bertajuk “Dharma Wanita Persatuan Hadir untuk Sesama.”

Mereka membawa bantuan kebutuhan pokok untuk masyarakat. Namun, kunjungan ke salah satu Desa Binaan Imigrasi tersebut tak berhenti pada penyerahan bantuan.

DWP dan PIMPASA juga menyapa langsung perempuan pesisir sekaligus memberikan edukasi mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk mengolah dan memasarkan hasil laut.

Ketua DWP Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo Natalie Josua mengatakan pihaknya ingin melihat lebih dekat kehidupan keluarga yang menggantungkan penghasilan dari laut.

Baca Juga:  Polda Gorontalo Lepas Kontingen Atlet Voli ke Turnamen Kapolri Cup 2024

“Kami ingin lebih mendekatkan diri kepada ibu-ibu yang berada di wilayah pesisir. Kami juga ingin mengetahui seperti apa kehidupan ibu-ibu di wilayah pesisir,” ujar Natalie.

Ketika Nelayan Tak Bisa Melaut

Botubarani dikenal sebagai salah satu desa pesisir di Bone Bolango. Sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor perikanan.

Persoalan muncul ketika kondisi angin dan cuaca tidak memungkinkan nelayan turun ke laut. Aktivitas melaut berkurang dan kondisi tersebut dapat memengaruhi pendapatan keluarga.

Karena itu, DWP Imigrasi Gorontalo mencoba membawa pendekatan berbeda.

Selain bantuan kebutuhan sehari-hari, perempuan pesisir mendapat edukasi tentang bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil laut.

Hasil tangkapan tidak hanya dapat dijual dalam kondisi segar. Masyarakat juga didorong mengenali peluang pengolahan produk dan pemasaran melalui kanal digital sehingga memiliki alternatif untuk mengembangkan sumber pendapatan keluarga.

Baca Juga:  Data Pribadi Disalahgunakan untuk Regis SIM Ilegal, Indosat Beri Klarifikasi

Menurut Natalie, peningkatan kemampuan mengolah dan memasarkan hasil laut diharapkan membantu masyarakat menghadapi kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.

Kegiatan di Botubarani juga menjadi bagian dari penguatan Desa Binaan Imigrasi.

Program tersebut menjadi ruang bagi jajaran imigrasi untuk lebih dekat dengan masyarakat, bukan hanya dalam urusan pelayanan administrasi keimigrasian.

Pembinaan mencakup literasi hukum keimigrasian, pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Di sinilah PIMPASA mengambil peran.

Petugas menjadi penghubung antara Kantor Imigrasi dengan masyarakat di tingkat desa.

Selain menyampaikan informasi keimigrasian, PIMPASA dapat menyerap berbagai kebutuhan dan persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus sejalan dengan program aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto serta semangat “Imigrasi untuk Rakyat” yang didorong Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.

Baca Juga:  Miris! Gaji Petugas Kebersihan DLH Pohuwato Tak Sampai UMP

Bagi Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo, keberadaan Desa Binaan Imigrasi diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Kolaborasi DWP dan PIMPASA di Botubarani menjadi salah satu upaya membawa pendekatan tersebut hingga menyentuh kehidupan masyarakat pesisir.

Ke depan, pembinaan di Desa Botubarani akan terus diarahkan pada kegiatan edukasi dan sosial sesuai kebutuhan masyarakat.

Dengan begitu, hubungan imigrasi dan warga desa tidak sebatas urusan paspor atau dokumen perjalanan.

Di pesisir Botubarani, kehadiran itu juga menyentuh persoalan yang lebih dekat dengan keseharian warga: laut, keluarga, dan bagaimana menjaga dapur tetap mengepul ketika nelayan tak bisa berlayar.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel